LANGIT7.ID, Jakarta - Nurul Musthofa merupakan salah satu majelis taklim terbesar di Jakarta. Majelis binaan Habib Hasan bin Ja’far Assegaf ini mampu menjaring banyak pemuda-pemudi di ibu kota untuk duduk dan khusyuk bershalawat kepada Rasulullah.
Setiap pekan, terutama di malam Ahad, ribuan pemuda dari berbagai wilayah di Jakarta berkumpul pada satu titik jadwal lokasi majelis untuk mendengarkan ceramah dari para habaib. Guna memaksimalkan jangkauan dakwahnya, Nurul Musthofa menggarap lini medisa sosial, website, dan youtube.
Konten media sosial yang menarik didukung oleh foto dan video yang bagus. Di situlah Lutfhi dan Zaki mengambil peran sebagai fotografer majelis. Keduanya berkarya sebagai relawan.
Baca Juga: Tengok Karya Finalis Kontes Fotografer Astronomi Terbesar DuniaLuthfi pertama kali meotret di Nurul Musthofa pada 2006 saat pembukaan majelis pertama setelah lebaran Idul Fitri di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Ia menggunakan Nikkon D80 inventaris majelis sebagai gear motret untuk meng-capture wajah-wajah para habaib yang datang serta candid-candid jamaah.
Meskipun sudah lama memegang kamera, Lutfhi mengaku tak mudah menjadi fotografer majelis. Situasi yang dinamis serta pencahayaan yang minim menjadi kendala yang paling sering dihadapi.
“Ketika kedatangan Guru Mulia (Habib Ja'far Assegaf) sempat kaget juga karena kan desak-desakan dan dorong-dorongan para jamaah,” katanya dalam talkshow virtual Ngobrolin Dunia Photography di kalangan Majlis Nurul Musthofa akhir pekan lalu.
Tantangan lainnya adalah menjaga adab terhadap para habaib. Menurutnya, fotografer tak bisa sembarangan dalam meng-capture wajah ulama dan tamu-tamu yang datang.
“Karena yang kita foto alim ulama, takutnya salah mengambil momen. Kita kan juga tidak bisa mengarahkan karena itu liputan berjalan,” tuturnya.
Salah satu momen paling berkesan bagi fotografer Nurul Musthofa adalah dapat memotret keluarga besar Habib Ja'far. “Waktu itu bersama istri dan anak beliau dan juga pernah dokumentasi foto keluarga bin Ja'far bersama ummi Fatma."
Seortang fotografer majelis harus benar-benar stand by untuk mendapat momen bagus. Melatih kesabaran dalam memotret sekaligus bagaimana mengambil angle yang pasa agar kewibawaan para ulama tetap terjaga.
Hal yang sama juga dialami Zaki, fotografer cadangan yang diturunkan bila ada majelis-majelis besar seperti maulid akbar. Pencahayan yang terus berubah dari satu sudut ke sudut lain. Belum lagi risiko foto shaking karena tersenggol jamaah.
“Alhamdulillah foto di majelis itu berkahnya dapat, ilmunya dapat. Sekecil apapun bantu majelis itu balesannya pasti ada, enggak bakalan rugi kita,” kata Zaki.
(bal)