LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang warga Palestina yang tinggal di wilayah Tepi Barat mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya yang tinggal di dalam gua. Ide ini datang untuk melawan stigma yang menyatakan bahwa kehidupan gua sangatlah primitif.
Adalah Adel al-Tell, seorang pemuda Palestina tinggal bersama keluarga besarnya di sebuah gua bobrok di Tepi Barat. Dia berbagi video kehidupan bersama 12 anggota keluarganya dari dalam gua.
Dia tinggal di Desa Khirbet Zanuta, yang terletak 20 km di selatan Kota Hebron, Tepi Barat. Pria berusia 32 tahun itu mengunggah video
TikTok pertamanya sekitar setahun lalu yang segera viral.
Baca juga: Final Piala Teluk di Irak Ricuh, 2 Tewas Puluhan Luka-Luka Dalam video pendek
TikTok al-Tell, keluarganya terlihat memerah susu kambing, membuat tabun (oven tanah liat yang digunakan di beberapa bagian Timur Tengah), menggembalakan domba, dan yang terpenting, merekam serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina setempat.
"Tampaknya situasi di sini menyedihkan dan tidak ada yang mau tinggal di gua ini," kata pemuda itu dilansir Xinhua, Jumat (20/1/2023).
Namun, alih-alih kekurangan kebutuhan dasar hidup seperti air, listrik, dan perabotan, kehidupan di gua baginya sangat menyenangkan.
"Kami memiliki cukup uang untuk membeli rumah modern, tetapi kami ingin tinggal di sini untuk mempertahankan tanah kami dari perluasan pemukiman Israel dengan cara kami sendiri," jelasnya.
Al-Tell sekarang memiliki lebih dari 115,7 ribu pengikut di TikTok. Catatan “Like” yang kini berhasil didapatnya sekitar 3,7 juta hits.
"TikTok memberi saya banyak ruang untuk menunjukkan kepada dunia kehidupan kami di sini, tidak hanya warisan Palestina tetapi juga tujuan utama kami: melindungi tanah kami dari pemukim yang ingin merebutnya dan membangun permukiman mereka," catatnya.
Baca juga: Laznas Dewan Da’wah: Tantangan Lembaga Zakat di Indonesia Terus Meningkat Al-Tell dan keluarganya termasuk di antara sekitar 450 orang yang tinggal di desa Khirbet Zanuta. Mayoritas penduduk di sana hidup dari penggembalaan domba dan makanan dari unggas dan kambing yang mereka pelihara.
Di bawah kesepakatan Oslo yang ditandatangani antara Organisasi Pembebasan Palestina dan pemerintah Israel pada tahun 1993, wilayah Tepi Barat dibagi menjadi tiga wilayah: Area A di bawah kendali
Palestina, Area B di bawah administrasi sipil Palestina dan kontrol keamanan Israel, dan Area C di bawah kendali penuh Israel, yang terdiri dari sekitar 60 persen dari total wilayah wilayah tersebut.
Sayangnya, Desa Khirbet Zanuta terletak di Area C dan telah dijadwalkan untuk dihancurkan oleh tentara Israel demi apa yang oleh orang Palestina disebut perluasan permukiman Yahudi.
"Hidup kami sangat sulit dan Israel bekerja untuk mengusir kami dari tanah kami untuk mengimplementasikan rencana aneksasi dan perluasan permukiman dan untuk memaksakan kendalinya atas semua tanah Palestina," kata Mariam al-Tell, ibu Adel.
"Para pemukim dengan sengaja menyerang penduduk desa, dan pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan militer di pintu masuk desa untuk mencegah kami membawa air dan kebutuhan lainnya kembali," keluh sang ibu.
(sof)