LANGIT7.ID, Jakarta - Ustadz Dennis Lim membagikan kisah hidupnya yang kelam sebelum memutuskan
hijrah. Ia meninggalkan dunia hitam, menjadi bandar judi di Thailand dan memilih jalan Tuhan dengan mencari rezeki halal di Indonesia.
Sekitar tahun 2015, Dennis Lim menetap di Thailand dan menjalankan bisnis judi dengan ikut bos judi di sana. Tapi di sela-sela menjalankan bisnis kotornya, ia menyempatkan menyaksikan tausiah Aa Gym lewat notepad karena kajiannya menenangkan.
Dari situ, dia punya niat untuk keluar dari pekerjaan kotor tersebut. Awalnya masih ragu akan hidup kekurangan jika meninggalkan Thailand. Dalam kajian yang dia simak, ada analogi nutrisi dari makanan yang dikonsumsi ibu, bisa masuk ke ke janin, melalui plasenta, itu rejeki yang mendatangi atau janin mencari rezeki?.
Baca juga: Putuskan Hijrah, Artis Rico Verald Pilih-Pilih Job Syuting Dalam batinnya, kamu Dennis sudah bisa minta ke Allah SWT, sudah bisa mohon, sudah bisa sujud, segitu ragunya sama Allah SWT masalah harta.
“Pada 15 Maret 2017 saya putuskan pulang, pesan tiket. Masih ada persoalan dengan orang Thailand, masih ada sangkutan hak kami belum diterima. Nungguin itu, bisnis,” ungkapnya dikutip dari Podcast Rukun Indonesia.
“Mau memperbaiki diri, pengen tenang, pengen lepas karena itu semua salah. Posisi saya sudah tinggi di sana,“ ucapnya.
Dennis menjelaskan, mereka yang sudah jadi
bandar di sana, hidupnya tidak bahagia. Ada yang ditinggalkan anak istri, ada yang mati overdosis dan ada yang kena penyakit kelamin. Di sana uang habisnya cuma tiga, antara kecanduan obat, kecanduan judi atau diporotin seksi dancer.
“Cuma itu doang dan tidak ada yang
happy ending,” katanya.
Baca juga: Kembali ke Islam, Rapper Nigeria Temukan KedamaianSaat pulang ke Indonesia, dia masih bawa uang ratusan juta rupiah. Datang pertolongan Allah SWT, seperti akan menghabiskan uang uang haram tersebut. Ada datang orang mengajak usaha, ternyata menipu. Jadi rentenir, pinjamkan uang Rp50 juta, jadi Rp60 juta, selama setahun.
Setelah memberi pinjaman, ditransfer, ternyata yang pinjam menghilang sampai sekarang. Ada sisa Rp30 juta mau usaha rentalin mobil dari mobil gadaian. Ada orang butuh duit Rp30 juta untuk Suzuki Ertiga, tidak ada bunganya.
Mobil itu disewakan, dapat keuntungan dari rental mobil. Ternyata saat mobil dipakai ibunya, ada orang bawa surat lengkap, mengambil mobil itu dan ibunya ditinggal di jalan. Jadi yang gadaikan mobil bukan pemilik resmi.
Beralih ke bisnis properti, menanamkan dana, dan gagal. Padahal dalam sejarahnya, pengusaha itu baru sekali itu gagal. Kenapa gagal? dalam hati berpikir, Allah lagi bersihkan dana kotor lu. Setelah itu, pengusaha berhasil lagi seperti biasa.
“Uang haram saya dihabiskan. Butuh bertahun-tahun menyadari bahwa itu pertolongan Allah. Itu untuk gugurin dosa, dua, supaya tidak ke makan, dan tiga, untuk melepaskan ikatan di hati bahwa kita punya sebanyak apapun, tidak ada artinya di mata Allah. jadi jatuhnya restart, mengulang dari nol lagi, untuk dunianya,” beber pria keturunan Tionghoa tersebut.
Di usia 25 tahun, Dennis akhirnya mulai kehidupannya dari nol. Pernah kerja jadi kurir paket banyak pakai sepeda motor ke gang-gang. Kemudian jualan kaos kaki di pinggir jalan, sambil ngaji. Bukan kerja nyari duit dulu, lalu baru ada waktu ngaji. Tapi ngaji, jika ada waktu sisa baru nyari duit.
Karena sadar ketinggalan banyak banget dah, pada akhirnya mondok di Ponpes Darut Tauhid Bandung yang diasuh Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Banyak di antara anak-anak muda yang setor hapalan ke ustadz, namun dirinya baru tahu tiga surat, bahkan surat At Takkatsur pun tidak hapal.
“Umur 25, ngapain saja selama ini. Akhirnya mulai belajar ilmu tajwid, mulai menghapal. Dekat rumah ada kajian berangkat. Beres Zuhur ada kajian lagi berangkat,” ucapnya.
Ia merasa dosanya masih sangat banyak, bahkan jika di Indonesia ada
bandar judi sekalipun, masih lebih banyak dosanya. Karenanya ia menambah banyak amalan, tidak hanya sholat, tapi sholat sunah lainnya.
Dennis Lim saat ini menjadi pendakwah di kajian-kajian Islam. Karena dengan berdakwah, sekaligus bisa menjadi rem untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Alah SWT. Karena godaan dan ajakan dari rekan-rekannya itu diakuinya tetap ada.
“Detik ini, kalau saya mau kembali ke Thailand, tetap akan diterima dengan gaji yang sama, karena orang-orangnya masih ada. Tapi kalau saya sudah balik ke Allah, ngapain balik lagi. Nanti masih ada cukup umur nggak untuk kembali?,” pungkasnya.
(sof)