LANGIT7.ID, Jakarta - Kedutaan Besar Turki di Jakarta membuka donasi bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyalurkan bantuan bagi korban gempa bumi M7,8 di Turki. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan resmi Turki seperti AFAD, Turk Kizilay, dan Diyanet Foundation.
Kedubes Turki juga memberikan syarat bantuan untuk memudahkan penyaluran. Di antaranya bantuan harus dikemas di dalam kotak serta barang bantuan harus dalam kondisi baik dan cocok untuk musim dingin.
“Tidak akan ada biaya bea cukai yang harus dibayar oleh pengirim. Biaya transportasi akan ditanggung oleh Turkish Airlines,” demikian edaran tersebut.
Baca Juga: Kisah Emosional Tim Penyelamat Gempa Turki saat Evakuasi Gadis Cilik
Beberapa bantuan mendesak yang dibutuhkan korban gempa M7,8 seperti baju musim dingin untuk orang dewasa dan anak-anak di antaranya mantel atau jas hujan, sepatu bot, sweater, celana panjang, sarung tangan, syal, beanies, kaus kaki, dan pakaian dalam.
Bisa juga peralatan lain untuk mendukung hunian sementara seperti tenda, tempat tidur, kasur dan selimut, sleeping bag, kompor dan tabung gas, botol termos, senter, dan generator. Korban juga membutuhkan perlengkapan bayi seperti popok, produk kesehatan, dan produk kebersihan wanita.
Bantuan dapat disalurkan melalui tautan berikut:
https://afad.gov.tr/depremkampanyasi2
https://www.kizilay.org.tr/Bagis/BagisYap/404/pazarcik-depremi-bagisi
https://bagis.tdv.org/afet/deprem-25
KBRI Ankara Salurkan Bantuan Pemerintah IndonesiaKedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara telah menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap pertama atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia. Bantuan itu berupa satu kontainer bahan makanan.
“Baru selesai, serahkan 1
container food supply ke Bulan Sabit Merah Turki. Bantuan kemanusiaan tahap 1 dari pemerintah Indonesia,” kata Dubes RI untuk Turki, Lalu Iqbal melalui pesan singkat, Kamis (9/2/2023).
Baca Juga: Olok-olok Gempa Turki-Suriah, Majalah Charlie Hebdo Dikecam
Lalu Iqbal menyampaikan, proses penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut sangat sulit. Proses pengiriman bantuan harus memakan waktu sampai satu hari dua malam.
“Biasanya truk sampai 11 jam jadi 34 jam. Nyaris enggak bisa masuk. Alhamdulillah akhirnya sampai,” ujarnya.
(jqf)