LANGIT7.ID, Palembang - Di Kota Palembang ada sebuah delta kecil yang berada di Sungai Musi dan menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal. Delta itu adalah Pulau Kemaro yang melegenda.
Pulau seluas 30 hektar ini berada di daerah industri antara Pabrik Pupuk Sriwijaya, Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Jaraknya sendiri kurang lebih enam sampai tujuh kilometer dari Jembatan Ampera.
Adapun keistimewaan pulau tersebut yang selalu kering meskipun dalam keadaan air pasang dan tetap tidak memiliki air sehingga disebut Pulau Kemaro. Karena selalu kering, pulau itu nampak seperti terapung di atas Sungai Musi.
Daya tarik lainnya ialah ikon Pulau Kemaro itu sendiri. Dimana di sana ada Pagoda berlantai sembilan yang menjulang tinggi di tengah-tengah pulau tersebut.
Di sana juga ada Klenteng Hok Tjing Rio atau yang dikenal Klenteng Kuan Im. Klenteng tersebut dibangun pada tahun 1962 silam. Di depannya itu terdapat makam seorang asal Tiongkok bernama Tan Bun An dan seorang perempuan bernama Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka inilah yang menjadi legenda terbentuknya Pulau Kemaro.
Mengutip, indonesiakaya.com, dikisahkan dahulu ada seorang saudagar Tiongkok bernama Tan Bun An menjalin kasih dengan perempuan asli Palembang bernama Siti Fatimah. Tan Bun An kemudian mengajak Siti Fatimah berkunjung ke rumah orangtuanya untuk mendapat restu pernikahan.
Setelah berkunjung, Tan Bun An dan Siti Fatimah lalu kembali ke Palembang dengan membawa hadiah tujuh buah guci pemberian orangtua Tan Bun An.
Ketika di perairan Sungai Musi, Tan Bun An membuka hadiah dari orangtuanya, dan terkaget-kaget mendapati isi guci tersebut hanyalah sawi-sawi asin.
Tanpa berpikir panjang, kemudian Tan Bun An membuang semua guci tersebut ke Sungai Musi. Ketika ingin membuang hadiah yang ketujuh, guci tak sengaja terpecah dan Tan Bun An mendapati ada harta di dalam sawi-sawi asin.
Tan Bun An menyesali perbuatannya dengan langsung terjun ke sungai mencari harta yang telah dibuangnya. Melihat kejadian itu, seorang pengawal juga turut menceburkan diri. Melihat Tan Bun An dan pengawalnya tak kunjung tiba di permukaan, Siti Fatimah akhirnya juga menceburkan dirinya ke sungai.
Ketiga orang itu pun akhirnya menghilang bersamaan dengan harta yang telah dibuang Tan Bun An ke perairan Sungai Musi. Setelah kejadian itu, muncullah pulau di sungai musi yang konon merupakan perwujudan dari jasad ketiga orang itu. Maka dibangunlah makam Tan Bun An dan Siti Fatimah di pulau itu.
Saat berada di pulau itu, Sahabat Langit7 juga bisa menjumpai sebuah Vihara Cina (Klenteng Hok Tjing Rio). Bukan itu saja, di sana pun terdapat Kuil Buddha yang kerap dikunjungi Umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam.
Di pulau tersebut juga sering menjadi lokasi diadakannya kegiatan Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.
Bagi Sahabat Langit7 yang ingin mengunjungi pulau tersebut bisa menggunakan perahu dari kawasan Jembatan Ampera atau kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Biayanya sendiri per orang kurang lebih Rp15.000 sampai Rp20.000.
(jqf)