LANGIT7.ID, Jakarta -
Kelompok Tani biasanya didominasi oleh anggota yang terdiri dari laki-laki. Namun berbeda dengan kelompok tani dan ternak bernama Suket Ijo. Kelompok ini terdiri dari perempuan anggota persyarikatan Muhammadiyah yang berada di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sodong, Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Suket Ijo merupakan akronim dari Sabar, Ulet, Kreatif, Ekonomis, dan Terampil, sementara kata Ijonya singkatan dari Ikhlas, Jujur serta Optimis. Kelompok Tani-Ternak Suket Ijo bermula dari kesadaran bersama pentingnya beternak secara efektif, produktif dan berkesinambungan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan. Suket Ijo aktif sejak awal 2020, diprakarsai ibu-ibu warga Dukuh Silegok Desa Sodong, Wonotunggal, Batang.
Perempuan petani ini yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bertani dan beternak ini sekaligus aktif di ‘Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Keterampilan tani dan ternak mereka didapatkan secara turun-temurun, akan tetapi saat itu belum dikonsolidasikan seperti sekarang ini.
Baca Juga: Petani Penting Bagi Kehidupan, Sayangnya Masih Dipandang RendahKetua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, M Nurul Yamien menyebut, munculnya Suket Ijo merupakan kabar gembira, sebab petani tidak didominasi laki-laki saja.
“Komunitas perempuan petani sudah mengkonsolidasi diri dalam jamaah tani yang menyebut dirinya sebagai kelompok Suket Ijo.” ujar Yamien, melansir laman resmi Muhammadiyah, Senin (20/3/2023).
Selain itu, dia menyebut kelompok perempuan petani merupakan harapan dunia pertanian Indonesia. Terlebih, saat ini sedang terjadi penurunan jumlah petani di Indonesia.
Baca Juga: Be Succesful Career, Be Millenial Farmer“Dengan demikian kehidupan petani dan pertanian Indonesia, dan khususnya yang diinisiasi oleh Muhammadiyah melalui Jamaah Tani Muhammadiyah, akan mendapatkan tempat di warga Persyarikatan Muhammadiyah.” Imbuhnya.
Yamien berharap, dari Jamaah Tani Muhammadiyah akan muncul model pengelolaan tanah wakaf, mengingat Muhammadiyah memiliki tanah wakaf yang tidak sedikit, MPM perlu melakukan sinergitas dengan majelis, lembaga atau biro, khususnya Majelis Pendayagunaan Wakaf.
“Sinergi antar majelis saya kira hal yang mutlak diperlukan dan dalam hal ini untuk pengembangan pertanian di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Batang, Jamaah Tani Muhammadiyah bisa bersinergi dengan Lazismu, Majelis Wakaf dan bersinergi dengan ‘Aisyiyah.” katanya.
(jqf)