LANGIT7.ID - , Jakarta -
Petani merupakan tulang punggung kehidupan manusia. Karena tanpa petani, kita tidak akan memiliki sumber pangan yang memadai untuk bertahan hidup.
Sayangnya, profesi petani masih dianggap rendah. Petani seringkali dipandang rendah karena adanya stereotip bahwa pekerjaan di bidang pertanian dianggap sebagai pekerjaan yang kurang bergengsi dan
berpenghasilan rendah.Baca juga: Melalui Fesyen Berkelanjutan, KaIND Berdayakan Petani dan Anak MudaInilah yang dirasakan Ade Rukmana, petani sekaligus pengurus Desa Tani Lembang yang diberdayakan
Dompet Dhuafa. Ade bergiat sebagai pendamping masyarakat petani di Jawa Barat.
"Petani itu sangat penting bagi kehidupan, tapi stigmanya masih tinggi. Bahwa petani itu bodoh, kampungan, jorok," katanya di Jakarta Pusat, Rabu (22/2/2023) dalam agenda Talkshow Peran Filantropi dalam Kemiskinan serta Digitalisasi di Dunia Filantropi.
Stigma yang tinggi membuat regenerasi petani macet. "Jangankan jadi petani, ngaku anak petani saja malu".
Faktor lain yang membuat profesi tani minim diminati adalah kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah serta masyarakat. Pertanian dianggap bukan ladang yang menjanjikan sehingga membuat profesi petani sulit untuk berkembang.
Guna memberdayakan kaum petani, Dompet Dhuafa menghadirkan pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan pertanian sayur Program Desa Tani di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Petani dari kelompok masyarakat miskin, diberdayakan untuk mengelola lahan pertanian dengan skema pendampingan.
Baca juga: PKS Desak Pemerintah Batalkan Impor Beras, Utamakan Serap Gabah PetaniAde bersyukur Desa Tani Lembang terus berkembang sejak dimulai pada 2018 dengan 12 penerima manfaat. Tahun ini, Desa Tani akan membangun 10 hektar lahan dengan total 50 penerima manfaat langsung dan sekitar 40 tidak langsung.
"Kita target di 2023 mau bangun lagi core bisnis rumah kompos, rumah edukasi, dan rumah ternak," katanya.
(est)