LANGIT7.ID-, Jakarta- - Bulan suci
Ramadhan selalu menjadi momen yang dinanti-nanti bagi umat muslim di seluruh dunia. Selama sebulan penuh, umat muslim berpuasa dan beribadah dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Namun, sebenarnya, nilai dari puasa Ramadhan terletak pada bagaimana seorang muslim mengaplikasikan nilai-nilai yang ditanamkan selama bulan suci ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Tanda keberhasilan sebenarnya dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah dengan terus melakukan kebaikan dan berbuat baik di bulan-bulan berikutnya.
“Boleh jadi Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir untuk kita. Bisa jadi kita tidak mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk merasakan nikmatnya Ramadhan tahun depan,” ujar Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir, dalam kajian Ramadhan di Tebet, Jakarta Selatan, dikutip Kamis (20/4/2023)
Berkenaan dengan hal ini, ada dua kata kunci yang perlu diperhatikan dari Ramadhan. Pertama, Ramadhan dari kata ‘ramdha’ yang artinya panas terik. Dari kata ini, orang-orang yang berpuasa pada bulan suci Ramadhan sebetulnya sedang begerak dan bekerja keras membakar dosa-dosanya dengan amal shalih.
Kedua dari kata ‘shaum’ yang artinya imsak, mengendalikan diri. Dari kata ini, orang-orang yang berpuasa sesungguhnya adalah orang yang dicintai Allah Ta’ala, dan Dia sendiri yang akan membalas puasa tersebut.
Baca juga:
Memaknai Keberkahan Ramadan-22“Karena orang itu meninggalkan makanan dan minuman serta syahwat karena Allah. Dia (Allah) bangga kepada orang-orang seperti itu. Itu menjadi modal besar untuk sukses sesungguhnya, yakni mencapai derajat takwa. Sebuah tiket untuk mendapatkan surga Allah,” ujar pria akrab disapa UBN itu.
Di sisi lain, pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya), menjelaskan, tanda orang sukses di bulan suci Ramadhan bisa dilihat setelah bulan penuh berkah itu berakhir.
Sukses di bulan Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan amalan di bulan tersebut, melainkan bagaimana seorang muslim menjaga amalan tersebut setelah bulan Ramadhan berakhir. Tanda orang sukses di bulan Ramadhan bukan saat bulan Ramadhan itu sendiri, tetapi setelah keluar dari bulan Ramadhan.
“Kita tidak bisa menjadi orang sukses hanya selama bulan Ramadhan saja, tetapi kita harus mampu menjaga amalan-amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan di luar bulan tersebut,” ujar Buya Yahya dalam tausiah Ramadhan di Al Bahjah TV.
Dia menganalogikan, seorang mahasiswa atau siswa yang sukses tampaknya bisa dilihat saat keluar dari kampus atau pondoknya. Bagaimana dia menjaga amalan-amalan yang dilakukan di bulan Ramadhan, seperti shalat malam atau membaca Al-Qur’an secara istiqamah?
“Jika dia masih bisa melanjutkan amalan-amalan tersebut di luar bulan Ramadhan, itu adalah tanda keberhasilannya,” ungkap Buya Yahya.
Namun, untuk bisa menjaga amalan-amalan tersebut, seorang muslim harus meminta kepada Allah agar dipanjangkan umur dan diberikan kesempatan untuk terus beribadah. Seorang muslim juga harus memperbanyak kegiatan positif dan bergaul dengan orang-orang baik agar lebih mudah menjaga amalan.
Namun, jika di bulan Ramadhan tidak mampu menjalankan amalan dengan baik, tidak perlu menyesal berlarut-larut. Masih ada kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri di bulan Ramadhan yang akan datang.
Penyesalan yang konstruktif, yakni penyesalan yang disertai dengan tekad untuk memperbaiki diri, bisa menjadi awal yang baik untuk meraih kesuksesan di bulan Ramadhan berikutnya.
Dalam rangka mencapai kesuksesan di bulan Ramadhan, Buya Yahya menekankan pentingnya menjaga amalan-amalan di luar bulan tersebut. seorang muslim harus bisa menjaga kualitas dan kuantitas ibadah setelah bulan Ramadhan berakhir.
Hal ini agar bisa meraih ridho Allah dan meraih keberhasilan dalam kehidupan kita secara keseluruhan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Buya Yahya, “kesuksesan Ramadhan nanti ternyata di luar Ramadhan.”
(ori)