LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Rajab telah berlalu,
Sya’ban tiba untuk mengingatkan umat Islam bahwa
Ramadhan 2026 sudah di depan mata. Sya’ban berfungsi sebagai masa persiapan mental dan spiritual bagi
umat Islam sebelum memasuki bulan puasa.
Berada di antara bulan agung, Sya'ban sering kali dianggap sebagai 'bulan yang terlupakan'. Padahal Sya'ban memiliki
sejarah dan nilai spiritual yang tinggi.
Baca juga: Malam Nisfu Syaban, Ayana Moon Yasinan di Masjid IstiqlalRasulullah SAW dengan tegas mengingatkan kembali kemuliaan Sya’ban melalui hadisnya:
ذَاكَ شَهْرٌ تَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia karena terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasai)
Sya’ban tak hanya istimewa karena ibadahnya, tetapi juga karena lima peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.
Para ulama mencatat momen-momen ini sebagai pelajaran berharga tentang akidah dan loyalitas umat. Berikut lima peristiwa bersejarah yang terjadi sepanjang bulan Sya’ban:
1. Peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke KakbahBulan Sya’ban menyimpan sejarah besar mengenai beralihnya arah kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis ke Ka’bah pada tahun kedua Hijriyah.
Transisi ini mengakhiri periode enam belas bulan lebih di mana kaum Muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem sejak tiba di Madinah. Peristiwa ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam.” (QS Al-Baqarah: 144)
Sebelumnya Rasulullah SAW melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis sejak masa di Mekkah sekitar enam bulan setelah hijrah ke Madinah.
Baca juga: Tiga Permintaan yang Dianjurkan Setelah Baca Yasin Malam Nisfu SyabanDalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menguraikan alasan di balik penetapan Baitul Maqdis sebagai kiblat pertama sebelum akhirnya dialihkan kembali ke Ka’bah.
Meskipun demikian, secara batin Rasulullah SAW sangat merindukan Kakbah—kiblat warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail—sebagai arah shalatnya.
Momentum perpindahan ini bukan sekadar perubahan posisi fisik, melainkan simbol lahirnya jati diri umat Islam yang mandiri serta pembeda yang jelas dari identitas kaum Yahudi.
لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْيَهُودَ، فَأَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ يُحِبُّ قِبْلَةَ إِبْرَاهِيمَ، فَكَانَ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ إِلَى قَوْلِهِ: فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Artinya: “Ketika beliau SAW hijrah ke Madinah, sementara mayoritas penduduknya adalah orang-orang Yahudi, maka Allah memerintahkannya untuk menghadap Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi pun merasa gembira. Rasulullah SAW menghadap ke arah itu selama beberapa belas bulan. Namun beliau menyukai kiblat Nabi Ibrahim, sehingga beliau senantiasa berdoa kepada Allah dan menengadahkan pandangannya ke langit. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, hingga firman-Nya: Maka hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], vol 1, h 330)
2. Pengangkatan Catatan Amal ManusiaPeristiwa bersejarah selanjutnya yang terjadi pada bulan Sya'ban adalah pelaporan rekapitulasi amal perbuatan manusia kepada Allah SWT.
Baca juga: Gus Baha Punya Amalan Khusus Saat Haji dan Khataman di Bulan SyabanRasulullah SAW menjelaskan bahwa Sya’ban menjadi periode khusus untuk pengangkatan akumulasi amal selama setahun, seperti yang beliau sampaikan dalam hadisnya:
فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Hal itu (Sya’ban) merupakan bulan yang kerap dilalaikan oleh manusia, yakni antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i)
Syekh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki (wafat 1425 H) menjelaskan bahwa meskipun pengangkatan amal harian dan mingguan tetap ada, pengangkatan amal di bulan Sya’ban memiliki skala yang paling luas dan komprehensif.
Sehingga, Rasulullah SAW meningkatkan kuantitas ibadah puasa sebagai bentuk persiapan spiritual dan penghormatan saat catatan amalnya dipersembahkan kepada Allah SWT.
مِنْ مَزَايَا شَهْرِ شَعْبَانَ الْمَعْرُوفَةِ: رَفْعُ الْأَعْمَالِ فِيهِ، وَهُوَ الرَّفْعُ الْأَكْبَرُ وَالْأَوْسَعُ، وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لِمَ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟
Artinya: “Di antara keutamaan Sya’ban yang telah dikenal, adalah diangkatnya amal-amal perbuatan pada Sya’ban, yaitu pengangkatan yang paling besar dan paling luas. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA. Ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya‘ban.” (Madza fi Sya’ban [Makkah: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h 11)
3. Penentuan garis usia dan ajal manusia Bulan Sya’ban juga menjadi momen ketika ketetapan mengenai batas usia dan ajal manusia ditampakkan.
Merujuk pada sebuah hadis yang menyebutkan Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa pada bulan ini Allah mencatat daftar hamba-Nya yang akan berpulang dalam setahun ke depan.
Atas dasar itulah, Nabi SAW sangat menyukai menjalankan puasa Sya’ban, agar saat maut menjemput, beliau sedang berada dalam keadaan beribadah.
Para ulama menjelaskan bahwa penetapan ini bukan berarti Allah baru menentukan takdir pada waktu tertentu. Melainkan cara Allah menampakkan ketetapan-Nya kepada para malaikat, karena hakikat perbuatan Allah melampaui sekat ruang dan waktu.
Baca juga: Perbanyaklah Tadarus Al-Qur'an dan Sedekah di Bulan SyabanBerkaitan dengan hal ini, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam salah satu karyanya menyatakan:
وَفِي شَهْرِ شَعْبَانَ تُقَدَّرُ الْأَعْمَارُ، وَالْمَقْصُودُ إِظْهَارُ هَذَا التَّقْدِيرِ وَإِبْرَازُهُ، وَإِلَّا فَإِنَّ أَفْعَالَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تُقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَلَا مَكَانٍ
Artinya: “Pada bulan Sya’ban ditetapkan usia (ajal), yang dimaksud adalah penampakan dan penegasan ketetapan tersebut. Padahal sesungguhnya perbuatan Allah Yang Mahasuci tidak terikat oleh waktu maupun tempat.” (Madza fi Sya’ban [Mekkah: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h 17)
4. Turunnya perintah bershalawat kepada NabiMomen bersejarah keempat yang mewarnai bulan Sya’ban adalah turunnya ayat Al-Qur'an yang sangat mulia mengenai perintah bagi umat beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Imam Al-Qisthalani (wafat 923 H) dalam salah satu karyanya menyebut Sya’ban sebagai bulan shalawat, sebab pada bulan inilah ayat perintah bershalawat diturunkan.
Oleh karena itu, memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban menjadi amalan yang sangat dianjurkan sebagai wujud kecintaan, pengagungan, dan penghormatan kepada Rasulullah SAW:
وَقِيلَ: إِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِأَنَّ آيَةَ الصَّلَاةِ، يَعْنِي: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَزَلَتْ فِيهِ
Artinya: “Dikatakan bahwa bulan Sya‘ban adalah bulan bershalawat kepada Rasulullah SAW, karena ayat tentang shalawat yaitu firman Allah: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, diturunkan pada bulan tersebut.” (Al-Mawahib Al-Laduniyyah [Kairo: Al-Maktabah At-Taufiqiyyah], vol 2, h 650)
5. Sya’ban sebagai bulan AlquranMenurut para ulama, Sya’ban tidak hanya dimaknai sebagai bulan Al-Qur'an, tetapi juga fase krusial untuk menyambut Ramadhan.
Oleh sebab itu, bulan ini adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati, memperbanyak bacaan Al-Qur'an, bershalawat, berpuasa sunnah, dan melakukan introspeksi diri. Semua amalan ini adalah bekal utama sebelum memasuki kemuliaan Ramadhan.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ الْمُسْلِمُونَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ، انْكَبُّوا عَلَى الْمَصَاحِفِ فَقَرَؤُوهَا، وَأَخْرَجُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ تَقْوِيَةً لِلضَّعِيفِ وَالْمِسْكِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ .وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ: كَانَ يُقَالُ: شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ
Artinya: “Dari Anas RA, ia berkata: Apabila bulan Sya’ban telah masuk, kaum Muslimin menyibukkan diri dengan mushaf-mushaf Al-Qur’an lalu membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat harta mereka untuk menguatkan orang-orang lemah dan fakir miskin agar mampu menjalankan puasa Ramadhan. Dan Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan: bulan Sya’ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an.” (Lathaif Al-Ma’arif [Beirut: Dar Al-Fikr], h 149). (Sumber: MUI)
(est)