LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Menjelang Ramadhan, tradisi
ruwahan masih terjaga kelestariannya di Kabupaten Rembang, Jawa Timur. Ruwahan sendiri berasal dari kata
'ruwah' (jamak dari ruh dalam bahasa Arab).
Momen ruwahan yang dilakukan di
bulan Sya'ban dimanfaatkan warga Rembang untuk mendoakan arwah leluhur dan mempererat
kerukunan warga.
Baca juga: Mengenal Tradisi Ruwahan Masyarakat Jawa pada Bulan SyabanMenurut budayawan Yon Suprayoga, praktik mendoakan leluhur di bulan Sya'ban ini merupakan warisan leluhur yang mengakar kuat di tanah Jawa, berfungsi sebagai penguat hubungan sosial antarwarga.
“
Ruwahan bukan sekadar ritual, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan dan kepedulian sosial,” seperti dikutip dari laman resmi
Nahdlatul Ulama, Senin (9/2/2026).
Yon menambahkan, setiap desa memiliki tata cara pelaksanaan yang berbeda, namun esensi
ruwahan tetap sama, yakni mendoakan leluhur dan mempererat tali silaturahmi.
Seperti warga Desa Soditan dan Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Rembang, yang menyajikan kue apem dan ketan sebagai hidangan khas, serta menambahkan jajanan pasar seperti nagasari dan pisang raja.
Pentingnya ruwahan menjelang Ramadhan juga dirasakan oleh Deni Tri Subiakmo, warga Desa Krikilan, Kecamatan Sumber. Ia mengatakan bahwa setiap bulan Sya'ban atau Ruwah, warga rutin menggelar rangkaian kegiatan mulai dari
tahlilan dan
kenduri hingga kerja bakti membersihkan makam leluhur.
Baca juga: Kenali Tradisi Ruwahan jelang Ramadhan, Begini Kata Buya Yahya“Kami setiap bulan Syaban, atau dalam kalender Jawa disebut bulan Ruwah, melaksanakan ruwahan dengan tahlilan, membersihkan makam, dan kenduri,” tuturnya.
Sebagai bentuk syukur atas berkah keselamatan dan hasil bumi, masyarakat rutin menggelar kenduri atau selamatan.
Ritual warisan leluhur ini biasanya dilakukan dengan berkumpul di tempat-tempat sakral seperti punden, masjid, atau kediaman tokoh masyarakat.
Di sana, warga memanjatkan doa bersama yang dipandu oleh sesepuh adat atau tokoh agama setempat.
Selain sebagai ritual keagamaan, ruwahan menjadi instrumen pemersatu masyarakat yang sangat efektif.
Kesadaran untuk mewariskan nilai-nilai budaya ini kepada kaum muda menjadi fokus utama agar maknanya tidak pudar.
Deni menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa esensi ruwahan adalah menjaga keseimbangan relasi antara hamba dengan Tuhan, hubungan antarmanusia, serta penghormatan kepada leluhur.
Baca juga: Tradisi Ruwahan, Mendoakan Leluhur dan Merawat Tali Silaturahmi“Melalui tradisi ini, kami berupaya menjaga harmoni antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan para leluhur,” pungkas Deni.
(est)