LANGIT7.ID, Semarang - Bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, atau Sya’ban dalam penanggalan Hijriah banyak dimanfaatkan masyarakat muslim yang tinggal di Pulau Jawa khususnya untuk mendoakan orang tua maupun para leluhurnya yang sudah menghadap sang khalik.
Mendoakan orang yang sudah meninggal biasa dilakukan langsung di makam maupun di rumah yang diikuti dengan keluarga dekat, dengan para tetangga, ataupun dilakukan di masjid atau musala dengan membaca doa.
Selain mengirim doa, kegiatan ruwahan atau nyadran tersebut biasanya juga dilengkapi dengan penyiapan aneka makanan. Selain itu, juga dibarengi pemberian makanan kepada para tetangga terdekat maupun saudara.
Baca juga: Kenali Tradisi Ruwahan jelang Ramadhan, Begini Kata Buya YahyaDengan tradisi ini, kerukunan antar warga di lingkungan makin terjaga. Tradisi saling tukar makanan juga menjadi mempererat tali silaturahmi.
Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Daroji mengatakan, pemberian sedekah makanan ini sangat dianjurkan dalam Islam, tidak hanya makanan tapi bisa dalam bentuk lain.
Terkait dengan tradisi ruwahan, selain mendoakan kepada orang tua yang sudah tiada, tentunya ada sisi-sisi untuk membina hubungan antarwarga.
“Masyarakat berkumpul di masjid, merekatkan silaturahmi dengan tujuan sama untuk mendoakan orang tua dan leluhurnya masing-masing,” kata Daroji, dikutip Kamis (24/3).
Daroji mengatakan, kenapa acara doa kepada orang tua dilakukan pada saat bulan ruwah, ini agar saat bulan Ramadan bisa konsentrasi ibadah, salah satunya ada salat tarawih. Masyarakat muslim Jawa berharap pahala, dan ampunan yang didapat selama bulan Ramadan, mengalir kepada orang tua.
“Ruwahan di Jawa Tengah masih banyak di jalankan masyarakat di wilayah Solo Raya. Jangan samakan dengan Arab, kalau di Arab tidak ada ruwahan,” ucapnya.
Salah satu warga Plombokan Semarang Utara, Ny Muslich beberapa waktu lalu menggelar ruwahan di kediamannya. Dalam acara sederhana tersebut ia mengundang anaknya untuk sama-sama mendoakan keluarganya yang sudah meninggal.
Baca juga: Doa Menyambut Bulan Ramadhan Sebagaimana Dibaca RasulullahUsai acara, Ny Muslih membagikan nasi berkat yang didalamnya terdapat lauk ayam kepada para tetetangga dekat. Semua warga yang tinggal di dekat rumahnya mendapat jatah nasi berkat. Momen tersebut menjadi interaksi dalam merawat hubungan dengan kepada warga sekitar
Ustaz Kuswandi dari Pondok Pesantren Global Malang mengatakan, ruwahan adalah tradisi tua yang sudah ada sejak dulu. Para dewan wali kemudian mengawinkannya dengan ajaran Islam sebagai bulan penyambut Ramadan. Tradisi itu kemudian dimaknai sebagai media untuk membersihkan diri.
“Walisongo mengenalkan bulan-bulan Islam yang selalu terkait dengan proses perbaikan diri. Salah satunya bentuk persenyawaan Islam, dan budaya Jawa adalah “Ruwahan atau Ruwatan”,” katanya dikutip dari NU Online, Selasa (22/3).
Baca juga: Vaksinasi Ketika Sedang Berpuasa, Apakah Membatalkan Puasa?“Orang yang menganggap tradisi ruwahan syirik adalah kalangan yang sangat tidak melek sejarah dan maknanya,” imbuh Kuswandi.
(sof)