LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sebelum konsep berpikir
anak berkembang lebih logis pada usia sembilan tahun, orang tua perlu berhati-hati dalam menggunakan kata “jangan” kepada anak-anak. Khususnya anak yang berusia di bawah sembilan tahun.
Hal tersebut dikarenakan anak di rentang usia itu cenderung berpikir konkret, sehingga bila orang tua melarang dengan berkata “jangan”, maka mereka cenderung akan melakukan sebaliknya.
Psikolog pendiri Komunitas Parenting Lombok, Lalu Yulhaidir, mengatakan, anak perlu diperkenalkan dan didekatkan dengan makna kata “jangan”. Meskipun aturan penggunaannya harus sangat bijak digunakan oleh orang tua.
“Tentu, kita akan menggunaklan kata ‘ya, boleh’ pada waktunya, dan menggunakan kata ‘jangan’ pada waktu yang tepat,” kata Lalu Yuhaidir dalam kuliah online Kren Lombok yang diikuti
Langit7.id, Kamis (15/6/2023).
Baca juga:
7 Destinasi Wisata Edukasi Anak di JabotabekBerikut beberapa aturan yang harus diketahui orang tua dalam menggunakan kata “jangan” kepada anak:
1. “Jangan” disertai Penjelasan Logis
Menurut Lalu Yuhaidir, tips pertama yang harus diketahui orang tua adalah penggunaan kata “jangan” yang harus disertai penjelasan logis. Kata “jangan” diiringi dengan penjelasan logis alasan anak tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya, sekaligus mengenalkan makna bahaya pada anak.
“Jangan melangkah ke situ, karena ke situ ada api-api, api panas dan bisa membuat tubuhmu terluka,” katanya mencontohkan.
2. “Jangan” untuk Melindungi Diri Sendiri
Mengenalkan makna “jangan” untuk membantu anak menjaga diri sendiri, melindungi diri sendiri, menjauhkan diri dari bahaya sentuhan buruk. Dengan ini, anak juga jadi tau perbedaan sentuhan boleh dan sentuhan tidak boleh buruk.
“Jangan biarkan orang lain menyentuh tubuhmu. Yang ini (tunjukkan bagian tubuh privasi anak), karena ini tidak boleh disentuh oleh orang lain, dan ini bukan untuk dimainkan atau dipegang bebas,” ujar Lalu Yuhaidir.
3. “Jangan” Diiringi Pembanding Positif
Gunakan kata “jangan” diiringi dengan kata positif sebagai pembanding, sehingga anak-anak bisa tetap nyaman meskipun dilarang. Itu karena setelah larangan, ada imbauan baik sebagai penggantinya.
“Jangan berkata kotor, karena Allah lebih suka anak yang berkata santunn,” ujar Lalu Yuhaidir.
Baca juga:
Liburan Sekolah, Yuk Belajar Mengenal Satwa di Animalium BRIN!4. “Jangan” sebagai Larangan
Menjelaskan makna kata ‘jangan’ untuk memahamkan pada anak arti dari kata ‘jangan’ sebagai sebuah larangan. “Jangan” bermakna tidak diperbolehklan untuk siapapun, larangan bagi siapapun, hal yang membahayakan untuk semua orang, hal yang tidak disukai banyak orang, hal yang harus dihindari oleh semua manusia.
“Jangan mengambil hak orang lain, itu Namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan terlarang Jangan tonton tayangan yang ini, karena ini ada darah. Di sini juga ada orang yang berkelahi, di sini ada orang yang membuka auratnya, di sini ada orang berkata kotor, jangan ya,” ujar Lalu Yuhaidir.
Kata ‘jangan’ di sini membantu anak yang sudah terlanjur terhubung dengan hal-hal yang kurang baik, penggunaan kata ‘jangan’ dapat membantu menegakkan definisi larangan tayangan negative bagi anak.
Pengunaan kata jangan disertai dengan symbol kongkrit juga sangat penting. Misalnya telapak tangan melambangkan stop, telunjuk yang digerakkan kiri kanan melambangkan larangan, gambar dan bentuk visual lainnya. Hal ini diperlukan guna anak memahami pesan kata “jangan” dengan cara yang lebih kongkrit.
“Hasil menunjukkan salah satu cara yang efektif untuk melindungi anak dari ragam kekerasan adalah kemampuan mereka untuk berkata ‘jangan, stop, tidak boleh engkau lakukan ini padaku’,” ungkap Lalu Yuhaidir.

(ori)