LANGIT7.ID-, Jogjakarta-- -
Muhammadiyah terus mengembangkan sayap bisnis, di antaranya membangun hotel di Jogjakarta. Hotel tersebut diberi nama SM Tower and Convention. Hotel dibangun tanpa utang karena semuanya dari anggota persyarikatan Muhammadiyah.
Ketua Umum (ketum) PP Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong supaya Muhammadiyah menjadi korporasi besar yang memberi hajat dan maslahat hidup publik melalui pembangunan hotel itu.
Kehadiran Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) segala bidang termasuk SM Tower and Convention merupakan wadah anak bangsa untuk mengembangkan diri.
"Ini juga bagian dari ikhtiar untuk memberi maslahat bagi orang banyak," kata Nasher.
Baca juga:
Kriteria Capres-Cawapres Ideal Versi MuhammadiyahMuhammadiyah di periode ini memang fokus pada pengembangan pada bisnis dan ekonomi. Karenanya Muhammadiyah berupaya menjadi korporasi besar yang bisa memberi maslahat pada hajat hidup publik.
Pihaknya juga berkeinginan untuk bersama-sama dengan kekuatan lain untuk membangun sebuah ekosistem positif. Termasuk sistem ekonomi untuk Indonesia yang lebih maju.
Muhammadiyah ingin mencontoh konsep berdikarinya Bung Karno. Karenanya bertepatan dengan bulan Bung Karno ini, Muhammadiyah mewujudkan konsep itu dalam praktiknya.
“Bahwa investasi kekuatan dari luar itu ok, tapi harus di atas kepentingan bangsa dan negara dan harus terus meningkatkan, mengoptimalkan kemampuan kemandirian bangsa," tandasnya.
Dia mengungkapkan ternyata tanpa berhutang sepeserpun dari bank, Muhammadiyah berhasil membangunnya secara mandiri dan swakelola. Hal tersebut sesuai dengan komitmen Muhammadiyah.
“Jangan mengandalkan utang besar-besaran, jangan mengutamakan investasi besar-besaran, tapi kekuatan di dalam tidak kuat," paparnya.
Menurut Haedar, keinginan menjadikan SM Tower hadir secara mandiri akhirnya membuat mereka tidak mengajukan pinjaman sepeser pun ke bank. Itu dilakukan bukan sebagai bentuk anti kolaborasi atau kerja sama, melainkan sebagai pesan untuk bangsa.

(ori)