LANGIT7.ID-, Jakarta- - Peneliti dan Praktisi PsikologiSantri, Lalu Yulhaidir, meminta setiap
guru di pondok pesantren maupun sekolah berasrama untuk mengenal secara utuh profil santri.
Dia menjelaskan, kehidupan santri cukup kompleks dan kegiatan mereka cukup padat. Kegiatan santri tertata dari hari ke hari hingga jam ke jam, dan mungkin tidak semua mereka mampu menjalani rutinitas tersebut.
"Ditambah tuntutan adaptasi untuk mengenal keberagaman yang juga cukup kompleks, tidak hanya beda karakter, namun juga beda budaya, geografis, norma, hingga perbedaan nilai santri yang dibawa dari rumah masing masing," kata Lalu dalam Seminar Psikologi Santri & Pesantren, dikutip Jumat (21/7/2023).
Santri juga dituntut beradaptasi dengan iklim pondok, suasana asrama, jumlah dan kualitas kamar mandi, jenis makanan hingga karakteristik lingkungan asrama, termasuk teaching and parenting style guru dan pembina asrama mendampingi mereka bertumbuh dan berkembang. Semua itu butuh penyesuaian.
Baca juga:
Masya Allah! Benzina Jadi Pemain Berhijab Pertama Tampil di Women's World Cup"Di tengah kompleksitas tersebut, guru dan pembina asrama perlu memahami secara utuh profil setiap santri, mengenal kekurangan dan kelebihan mereka dengan lebih dekat bersama mereka, menemani mereka, menjadi pendengar yang baik atas tiap keluh dan kesah sehari hari," ujar Lalu.
Ada kalanya santri sangat senang belajar di pondok. Ada kala sebaliknya, tak mampu kontrol diri ketika berhadapan dengan beragam kesulitan dan tekanan sebagai santri.
Maka itu, mereka butuh guru dan pembina asrama yang senantiasa mengayomi dan menunjukkan kepedulian terhadap mereka, setiap saat. Itu agar mereka berhasil dan tuntas menyelesaikan setiap tugas pendidikan selama 3-6 tahun di sekolah berasrama nya.
"Untuk itu, guru dan pembina asrama dituntut lebih kuat dan lebih hebat," ungkap Lalu.
Menurut dia, guru dan pembina asrama butuh hati lapang dan kesabaran untuk menemani santri dalam 24 jam mereka di lingkungan sekolah berasrama. Menjadi guru di sekolah berasrama menuntut perhatian yang berbeda dari guru reguler. Terkadang guru diminta waktu lebih banyak, untuk mendengar dan mendampingi santri.
"Tidak hanya untuk kebutuhan mereka di sekolah, namun juga kebutuhan yang hadir dari asrama, bahkan kebutuhan mereka dari rumah dan orang tuanya," jelas Lalu.

(ori)