LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul ma'arif, menyebutkan dua langkah agar supaya bisa menghilangkan kebiasaan menghujat orang lain. Menghujat merupakan perbuatan yang dilarang dan bisa menjadi kebiasaan. Namun, kebiasaan bisa diubah.
Cara menghilangkan kebiasaan menghujat yang pertama adalah sadar. Menurut Buya Yahya, orang tersebut harus sadar telah melakukan hal buruk yaitu menghujat orang lain. Sadar akan kesalahan akan mendorong untuk seseorang untuk memperbaiki diri.
“Bagus bagi anda yang sadar dengan perbuatan menghujat ini adalah kesalahan, yang repot tuh kalau nggak sadar-sadar,” jelasnya dikutip dari YouTube Buya Yahya, Sabtu (29/7/2023).
Jika seseorang sudah sadar dengan tindakan buruknya menghujat maka tinggal ke langkah selanjutnya. Langkah kedua yakni mengubah kosakata kotor menjadi tutur kata yang indah. Ini perlu pembiasaan agar mulut terbiasa dengan kalimat-kalimat yang baik.
“Yuk tinggal selangkah lagi yaitu mengubah kosa kata kotor jadi kalimat indah,” tuturnya. Jika seseorang marah seringkali keluar kata-kata kotor dari lisan dan malah menhujat orang lain. Namun, siapa saja bisa latihan mengubah kata-kata kotor tersebut dengan kata-kata yang baik.
“Misalnya, orang tua ke anak yang berbuat salah, sebut soleh, ganteng. Bukannya malah disebut setan, jin, bawa-bawa binatang. Nah jangan lagi seperti itu,” tegas Buya Yahya.
Menghina dalam Pengertian Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mendefinisikan kata As-Sukhriah atau mengolok-olok ialah meremehkan dan merendahkan serta menyebutkan aib atau kekurangan (orang lain). Itu dengan tujuan agar menjadi bahan tertawaan baik dengan perbuatan, perkataan ataupun dengan isyarat.
Termasuk di dalamnya menghina seseorang yang telah taubat dari dosa yang telah diperbuat. Hal tersebut bahkan bisa menjadikan seseorang melakukan dosa yang sama. Sebagaimana yang dijelaskan dalamhadist Turmudzi dari jalur Muadz bin Jabal.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mencela saudaranya dengan dosa (yang diperbuatnya) sedang ia telah bertaubat, maka ia tidak akan mati kecuali telah melakukannya."
Mengutip penafsiran Ibnu Abbas Surah Al-Kahfi ayat 49, Al-Ghazali mengingatkan, menghina orang lain meski hanya tersenyum mendengar hinaan merupakan perbuatan tidak baik yang hasil produknya adalah dosa. Apalagi, jika menghina dengan diiringi tertawa dengan keras.
Ibu Abbas terkait Surah Al-Kahfi ayat 49, "Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, ang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya." Maksud dari lafal As-Shagirah ialah tersenyum dengan tujuan menghina orang mukmin. Sedangkan Al-Kabirah ialah terbahak-bahakn dengannya. Ini menunjukkan bahwa menertawai orang lain (menghina) ialah termasuk dari bagian dosa-dosa besar."
(ori)