LANGIT7.ID, Jakarta - Al-Qur’an mengabadikan beberapa nama istimewa agar menjadi pelajaran untuk umat Nabi Muhammad SAW. Salah satu sosok itu adalah Luqman Al-Hakim. Ia bukan rasul, namun nama dan kisahnya diabadikan menjadi sebuah surah.
Dalam Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Musthofa disebutkan sebuah riwayat, Luqman merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS. Ia dikaruniai usia 1000 tahun, hingga menjumpai zaman Nabi Daud AS.
Ia adalah seorang mufti. Namun saat Daud diangkat menjadi nabi, ia meninggalkan jabatan itu dan menjadi murid Nabi Daud.
Dalam versi lain, Luqman diceritakan berasal kawasan Afrika. Ada beberapa orang kulit hitam yang istimewa: Bilal bin Rabah, Mihja’ budaknya Umar bin Khattab, Luqman al-Hakim, dan Raja Negus (Najasyi). Hal ini berdasarkan salah satu hadits yang dikutip oleh KH. Thoifur Ali Wafa, dalam Tafsir Firdaus al-Na’im Bi-taudhihi Ma’ani Ayatil Qur’anil Karim.
Luqman merupakan sosok teladan dalam pendidikan anak. Metode pendidikan dan nasihat beliau diabadikan dalam Al-Qur’an, sehingga siapa saja bisa mempelajarinya. Salah satu dari pendidikan karakter ala Lukman termaktub dalam surah Luqman ayat 18.
Dalam ayat tersebut Lukman mencontohkan pendidikan ahlak yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Ia berpesan kepada anaknya agar menghindari sikap sombong dan angkuh. Disebutkan dalam ayat itu, Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang berperilaku sombong.
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, menjelaskan, pendidikan ahlak yang pertama dari ayat itu adalah tentang sikap tawadu, rendah hati, dan larangan sombong.
Seseorang tidak boleh merendahkan orang lain karena perbedaan strata ekonomi, warna kulit, suku, dan perbedaan lainnya. Ahlak tersebut berkaitan dengan etika kehidupan sosial. Dengan begitu, sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk mengajarkan anaknya rendah hati.
Sebuah hadits menceritakan sikap Rasulullah ketika berjumpa dengan orang lain. Beliau selalu menampakkan wajah gembira, tersenyum ramah, dan ketika berkomunikasi, selalu menghadapkan tubuhnya kepada lawan bicaranya. Tidak memalingkan muka, apalagi mengabaikan lawan bicaranya.
Sementara pada ayat 19, Lukman berpesan, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Dalam Tafsir Jalalain, perintah agar sederhana dalam berjalan di dalam ayat tadi ditafsirkan sebagai sikap tengah-tengah, atau tidak berjalan terlampau cepat juga tidak lambat. Berjalan dengan anggun. Adapun suara keledai berarti suara meringkik dan melengking. Suara keras yang tidak enak didengar.
“Lukman berpesan agar di dalam melangkah tidak terlampau cepat dan pelan, melainkan berjalan dengan baik. Demikian pula dengan berkomunikasi, tidak bersuara keras yang bisa mengganggu lawan bicaranya,” ucap Gus RIjal Mumazziq, Z, dikutip laman resmi Inaifas, Senin (30/8/2021).
Pemaparan di atas adalah pendidikan dasar ahlak atau pelajaran etika sosial kemasyarakatan. Saat ini, banyak orangtua yang bangga dengan capaian tekstual pendidikan anak, tetapi abai dalam pendidikan akhlak, adab dan dasar-dasar pergaulan sosial.
Maka tak heran jika saat ini banyak anak yang berbicara keras dan membentak orang yang lebih tua. Bahkan tak sedikit yang berani bersikap kasar kepada orangtua. Tindakan anak bermula dari sikap orangtua yang memberi contoh buruk.
“Anak adalah peniru ulung. Dia belajar dari lingkungannya. Dari sekelilingnya. Dan, yang lebih mengkhawatirkan adalah, apa yang kita lakukan kepada orangtua kita saat ini, baik atau buruk, itulah yang akan dilakukan oleh anak kita kelak,” kata Gus Rijal.
Maka itu, orang tua harus memberi teladan. Jika orangtua memerintahkan anak beribadah, maka dia harus memberi contoh terlebih dulu. Apabila orangtua menunjukkan sikap baik kepada lingkungan sosial, maka anak akan belajar meniru, baik dalam ucapan maupun tingkah laku.
“Inilah yang disebut dengan psiko-sosial, ketika secara psikologis manusia dibentuk oleh lingkungan sosial di sekitarnya, dan kemudian ikut mempengaruhi perubahan sosial pula,” tutur Gus Rijal.
(arp)