LANGIT7.ID-, Jakarta- - Syekh Ahmad Ibn Ata’illah As-Sakandari dalam bukunya Al Hikam pernah mengatakan, “Mungkin awan kegelapan akan melingkupi kalian, sehingga Dia mengenalkan kalian tentang sejauh mana Dia telah menganugerahkan rahmat kepada kalian.”
Penulis Muslim asal Kanada, Dr. Ali Al-Halawani, menguraikan mutiara hikmah tersebut. Dia mengatakan, bisa jadi nafsu dan kesesatan yang serupa dengan kegelapan akan menimpa seseorang, sehingga Allah mengenalkannya kepada cahaya-cahaya yang telah dianugerahkan-Nya kepadanya.
Hal ini akan membuat seseorang meningkatkan rasa syukur ketika dikembalikan kepada cahaya yang telah dijauhkan oleh hawa nafsu. Hal itu juga akan membuat orang tersebut bersemangat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dari nikmat-nikmat-Nya di setiap waktu.
“Sungguh, tidak ada waktu di mana Allah Ta'ala tidak memiliki nikmat yang harus disyukuri,” ujar Dr Ali dalam tulisannya berjudul ‘Ibn Ataa: Grace Emerges from Darkness!’ di laman About Islam, dikutip Rabu (20/9/2023).
Kegelapan yang dimaksud dalam perkataa Ibnu Ata’illah adalah kegelapan yang ada di dalam hati seseorang, karena melakukan dosa-dosa dan mengikuti hawa nafsu serta keinginan-keinginan yang berdosa.
Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu `Ata'illah, semua perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia adalah kegelapan. Sedangkan, perasaan iman yang mendominasi hati dan yang diwakili oleh kecintaan kepada Allah, bertasbih, dan takut kepada-Nya adalah cahaya yang menerangi hati.
Secara alamiah, cahaya tidak dapat hidup berdampingan dengan kegelapan di satu tempat. Jika keduanya bertemu, maka akan muncul perasaan gelisah dan keterasingan di dalam hati seseorang; suatu hal yang dapat menghilangkan perasaan kenikmatan semu dari hati orang yang durhaka.
“Kemudian, seseorang lari dari perasaan gelisah dan keterasingan ini menuju keluasan Rahmat Allah, memohon pertolongan dan pertolongan-Nya,” ujar Dr Ali.
Sebagai akibatnya, seseorang diterima dengan rahmat, penerimaan dan kelegaan dari kesusahannya oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pada saat itu, kegelapan hawa nafsu dan kemaksiatan seseorang dikalahkan oleh cahaya hidayah dan keimanan.
Akhirnya, orang yang durhaka kembali sebagai orang yang dibebani dengan dua nikmat dari Allah. Pertama, nikmat hidayah, penerimaan dan pemberian pertolongan kepadanya.
Kedua, nikmat berupa pemberitahuan kepadanya bahwa Allah memperhatikannya dengan mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kegelapan kemaksiatan.
Tentu saja, nikmat yang kedua lebih besar dari yang pertama. Hal ini dapat dipahami dari perkataan Ibnu `Ata`illah, "Agar Allah mengenalkanmu dengan nikmat yang Dia berikan kepadamu," dan bukan dengan perkataan, "Agar Allah memuliakanmu dengan nikmat yang Dia berikan kepadamu." Misalnya, "Agar Allah memuliakanmu dengan nikmat yang Dia berikan kepadamu.
Dengan demikian, memuliakan seseorang dengan Rahmat dan Karunia Allah adalah nikmat yang besar. Itu karena Dia menjadikan tindakan memuliakan ini sebagai sarana untuk memberitahukan kepada hamba tentang kebaikan-Nya dan kasih sayang-Nya yang Dia tunjukkan kepadanya.
Seseorang dapat menyadari keagungan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya jika ia membandingkan dua kasus berikut ini. Kasus pertama, orang yang merasa nyaman dengan dosa dan perbuatan buruk yang telah dilakukannya.
Kondisi kedua, orang yang dosa dan perbuatan jahatnya menjadi sebab timbulnya perasaan terasing dan kebencian di dalam hatinya terhadap dosa dan keburukan tersebut, serta keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk membebaskan diri darinya dengan memohon pertolongan Allah.
Seperti dalam kasus pertama, seseorang dibiarkan sendirian; pada dirinya sendiri yang mendorong kepada kejahatan. Akibatnya, dia akan meningkatkan perbuatan jahat dan menikmati perbuatan dosa.
Namun, untuk kasus kedua, dosa-dosa dibuat menjadi sesuatu yang dibenci olehnya sehingga ia merasa enggan untuk terus melakukannya dan memutuskan untuk meninggalkannya.
“Sungguh, ini adalah tanda Rahmat dan Kebaikan Allah kepada hamba tersebut yang harus disyukuri,” ujar Dr Ali.
(ori)