LANGIT7.ID-, Jakarta- - Wakil Ketua I Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menggambarkan pentingnya peran masjid dalam kehidupan umat Islam, terutama dalam era milenial.
Dia menyampaikan hal itu dalam Tabligh Akbar bertajuk “Muslim Milenial Beraut Masjid, Keluarga Tangguh Berbingkai Jamaah” di Solo, Jawa Tengah.
UAH menegaskan, masjid bukan hanya tempat ibadah shalat, tapi juga meliput ibadah-ibadah lain seperti ibadah sosial. Masjid merupakan sentral komunitas tempat berbagai kebutuhan sosial dan spiritual dipenuhi.
Menurut UAH, Rasulullah SAW membangun kekuatan umat Islam melalui masjid. Karakter umat Islam dibentuk melalui kegiatan-kegiatan di masjid yang digagas oleh Rasulullah. Itu pula yang sejatinya harus diikuti umat Islam saat ini. Maka itu, sangat penting persatuan dalam komunitas muslim.
“Nabi Muhammad SAW membangun kekuatan jamaah di Madinah dengan menggabungkan suku-suku yang berbeda. Mereka saling mengenal, membantu satu sama lain, dan berkontribusi pada pertumbuhan bersama,” ujar UAH.
Baca juga:
Viral Pinjam Dulu Seratus, Begini Etika Utang Piutang dalam IslamPeran masjid adalah pusat kegiatan umat Islam. Masjid bukan hanya tempat ibadah. Tetapi, masjid bisa menjadi tempat pertemuan, konsultasi, dan bantuan sosial. Masjid merupakan pusat kegiatan untuk memberdayakan masyarakat.
“Masjid bisa digunakan untuk memecahkan masalah dalam masyarakat, seperti memberikan makanan kepada yang lapar, menyediakan pekerjaan bagi yang mencarinya, dan membantu mereka yang sakit,” tutur UAH.
Selain itu, sifat jamaah juga perlu dididik. Ini menjadi tugas pengurus masjid. Sifat jamaah sangat penting saat berada di masjid. Saat menghadiri masjid, jamaah bukan hanya shalat saja, tapi juga bisa memperluas silaturahmi satu sama lain.
“Saat menghadiri masjid, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk berkenalan dengan sesama jamaah, berbagi informasi, dan memberikan bantuan jika diperlukan,” ungkap UAH.
Masjid juga harus memanfaatkan teknologi. Di era milenial saat ini, teknologi menjadi penting dalam menghubungkan dan mengorganisir komunitas. Maka itu, pengurus harus melek teknologi agar bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
“(Gunakan) database untuk mengumpulkan informasi anggota komunitas dan memudahkan pertukaran informasi dan bantuan,” ucap UAH.
Masjid juga perlu adaptasi terhadap era milenial. UAH mengingatkan, dunia terus berubah. Era milenial ditandai oleh percepatan waktu dan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, umat Islam perlu beradaptasi dengan perubahan ini dan tetap menjaga sifat jamaah, persatuan, dan fungsi masjid sebagai pusat kehidupan komunitas.
UAH mengajak umat Islam, khususnya generasi milenial untuk memanfaatkan masjid sebagai tempat bertemu, bersatu, dan memberdayakan diri dalam membentuk komunitas yang kuat dan berdaya. Dengan memahami nilai-nilai Islam dan beradaptasi dengan perubahan zaman, mereka dapat menjadi bagian dari komunitas yang membantu satu sama lain dan memberikan kontribusi positif dalam masyarakat.
(ori)