LANGIT7.ID-, Jakarta- - Seluruh kehidupan Nabi Muhamad SAW dapat dilihat sebagai manifestasi dari rasa syukur yang luar biasa. Saat mempelajari karakter, ucapan, tindakan, dan seluruh gaya hidup Rasulullah SAW akan menemukan bahwa beliau merupakan hamba yang memiliki rasa syukur mendalam kepada Allah SWT.
Aisyah berkata, "Tidaklah keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengisi perut mereka dengan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga hari wafatnya beliau" (HR. Tarmidzi).
Dari Ibnu ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat tanpa meninggalkan satu dinar (uang emas) dan satu dirham (uang perak). Demi Allah, malam-malam berlalu di rumah Muhammad (saw), dan mereka tidak mendapatkan makan malam." (HR. Ahmad).
Dari Anas, ia berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah saw. sementara `Umar berada di hadapannya. Nabi berbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari daun kurma, dan di bawah kepalanya ada bantal, tidak ada penghalang antara sisi tubuhnya dan daun kurma. Ketika beliau melakukan sedikit gerakan, terlihat jelas bahwa daun korma itu menyentuh sisi tubuhnya.
Lalu `Umar mulai menangis, dan Nabi bertanya, "Mengapa engkau menangis?" Ia menjawab: "Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika aku tahu bahwa engkau lebih dicintai Allah daripada Kaisar dan Kaisar. Namun, mereka hidup dengan kehidupan yang mewah di dunia ini".
Maka Nabi SAW bersabda: "Wahai `Umar, tidakkah engkau senang jika akhirat menjadi milik kita dan dunia menjadi milik mereka?" (Al-Hafiz Al-Asbahani, Akhlaq An-Nabi wa Adabuh. Kutipan terakhir dari hadis ini juga terdapat dalam Sahih Muslim)
Berikut beberapa cara Rasulullah SAW mengimplementasikan rasa syukur kepada Allah SWT:
1. Mengungkapkan Rasa Syukur Melalui Ibadah
Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa syukur yang luar biasa dalam ibadah kepada Allah. Rasulullah menghabiskan malamnya untuk shalat tahajud. Aisyah juga meriwayatkan: Ketika Nabi saw. melakukan shalat (shalat malam: Qiyamul lail), beliau berdiri hingga kulit kakinya membengkak. Jadi, saya berkata:
"Wahai Nabi Allah, apakah engkau melakukan hal seperti itu, padahal Allah telah mengampuni semua kesalahanmu?" Beliau menjawab: "Tidakkah aku seharusnya menjadi hamba Allah yang bersyukur?" (HR. Muslim)
Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menjelaskan hadits tersebut menjelaskan, Rasulullah SAW beribadah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SAW. Dalam kitab yang sama, Ibnu Battal mengungkapkan ibadah Rasulullah SAW merupakan bentuk rasa sayukur kepada-Nya.
"Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang harus mengambil jalan yang lebih keras dalam ketaatan, bahkan jika hal itu akan berdampak pada tubuhnya, karena jika Nabi saw. melakukan hal tersebut dengan keyakinan akan diampuni, maka bagaimana dengan orang yang tidak memiliki keyakinan tersebut, apalagi yang tidak yakin akan masuk neraka." Kata Ibnu Battal dalam Fathul Barri.
2. Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Imam Ibnu Hajar memodifikasi pemahaman dari pernyataan Ibnu Battal: "Hendaknya pola pikir ini dalam kondisi yang tidak menyebabkan seseorang menjadi bosan dan mundur dari ibadah, karena kondisi Nabi SAW adalah yang paling sempurna, dan beliau tidak pernah mundur dari beribadah kepada Rabbnya.
Jadi, jika seseorang khawatir akan kebosanan dan kemunduran, hendaknya ia tidak memaksakan diri untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, Nabi SAW bersabda, "Ambillah dari amalan-amalan itu apa yang kalian mampu untuk melakukannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Hubungan Khusus dengan Allah
Contoh lain dari rasa syukur Rasulullah adalah beliau memohon ampun kepada Allah setelah melaksanakan shalat lima waktu. "Beberapa orang bertanya bagaimana beliau memohon ampun padahal sudah diampuni, dan Imam ibn Sayyid An-Nas menjawab:
"Hal ini menunjukkan kesetiaannya pada tugas-tugas penghambaan dan praktik syukurnya, dan agar ia dapat menjelaskan sunahnya dengan tindakan sebagaimana ia telah melakukannya dengan ucapan." (Al-Mubarkaafuri, Tuhfat Al-Ahwazi Syarh Sunan At-Tirmizi)
4. Menyebarkan Rasa Syukur
Syukur bukan hanya sesuatu yang dipraktekkan dan diikrarkan oleh Nabi kita tercinta (saw), tetapi juga merupakan sifat yang beliau tanamkan kepada para sahabatnya.
Al-Hafizh Al-Asbhani, dalam kitab Akhlaq An-Nabi wa-adabuh mengisahkan, pada suatu ketika, Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar meninggalkan rumah mereka dalam keadaan lapar. Mereka dijamu oleh seorang pria dari Al-Ansar yang menawarkan kepada mereka sebatang kurma dan mereka memakannya hingga rasa lapar mereka hilang.
Pada saat itu, Nabi Muhammad membaca: "Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan." (QS. At-Takatsur: 8). Beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: "Ini adalah salah satu kenikmatan yang akan kalian tanyakan."
(ori)