LANGIT7.ID- Mukjizat para nabi terdahulu datang sebagai peristiwa. Tongkat Musa membelah laut. Isa menyembuhkan yang sakit. Semuanya dahsyat, tetapi bersifat lokal dan sementara. Ketika peristiwa itu berlalu, mukjizat tinggal cerita. Di titik inilah Al-Quran mengambil posisi berbeda.
Quraish Shihab, dalam Membumikan Al-Quran, menegaskan bahwa universalitas risalah Nabi Muhammad menuntut bentuk mukjizat yang juga universal. Ia tidak boleh terikat ruang dan waktu, tidak bergantung pada kesaksian mata, dan tidak berhenti bekerja setelah generasi pertama. Al-Quran memenuhi syarat itu: ia dapat dibaca, diuji, dipikirkan, dan diperdebatkan oleh siapa pun, kapan pun.
Argumen ini menjadi semakin kuat bila diletakkan pada konteks historis Nabi Muhammad. Ia lahir di masyarakat yang nyaris buta huruf, jauh dari pusat-pusat peradaban besar seperti Romawi atau Persia. Al-Quran sendiri mengingatkan, seandainya Muhammad pandai membaca dan menulis, kecurigaan akan muncul (QS 29:48). Namun justru dari lingkungan seperti itu lahir sebuah teks yang hingga kini terus diteliti dengan ketelitian filologis modern.
Salah satu aspek yang paling sering dikaji adalah keindahan dan presisi redaksi Al-Quran. Keindahan ini, kata para ahli balaghah Arab klasik seperti al-Jurjani, bukan sekadar soal rima atau irama, melainkan keterpaduan makna, struktur, dan dampak psikologisnya. Ia bekerja pada rasa bahasa, bukan sekadar logika formal.
Menariknya, spontanitas turunnya wahyu tidak mengurangi presisi tersebut. Ayat-ayat sering turun untuk menjawab peristiwa konkret atau pertanyaan mendadak. Namun setelah keseluruhan Al-Quran dianalisis, para peneliti menemukan pola keseimbangan yang sulit dijelaskan sebagai kebetulan.
Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-I‘jaz al-Adabi li al-Qur’an al-Karim, mencatat keseimbangan kuantitatif yang mencolok. Kata hidup dan mati muncul sama banyak. Manfaat dan mudarat hadir dengan frekuensi seimbang. Bahkan kata hari dalam bentuk tunggal muncul 365 kali, seolah mengikuti kalender matahari. Fazlur Rahman menyebut fenomena ini sebagai isyarat bahwa Al-Quran memiliki “internal coherence” yang melampaui konteks pewahyuan parsialnya.
Bagi sebagian sarjana modern, temuan-temuan semacam ini tidak dimaksudkan sebagai matematika mistik, melainkan sebagai indikasi ketertiban internal teks. Angelika Neuwirth, misalnya, melihat Al-Quran sebagai wacana yang dibangun dengan kesadaran struktur tinggi, meskipun ia hadir secara bertahap selama lebih dari dua dekade.
Di sinilah mukjizat Al-Quran bekerja secara senyap. Ia tidak memaksa keyakinan lewat ledakan peristiwa, tetapi mengundang pembacaan berulang. Setiap generasi menemukan pintu masuknya sendiri: sastra, hukum, etika, hingga struktur bahasa.
Mukjizat ini tidak habis disaksikan. Ia justru menunggu untuk diuji. Dan mungkin di situlah letak keistimewaannya: sebuah mukjizat yang tidak selesai dalam satu masa, tetapi terus berlangsung selama manusia masih membaca dan berpikir.
(mif)