Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 Juli 2026
home global news detail berita

Peran Al-Quran Selesaikan Masalah Sosial Masyarakat

Muhajirin Rabu, 11 Oktober 2023 - 15:00 WIB
Peran Al-Quran Selesaikan Masalah Sosial Masyarakat
Kitab suci Al Quran.
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Perdebatan mengenai sebuah isu merupakan masalah yang mengganggu masyarakat. Namun, hal itu bukan pokok masalah dari masalah itu sendiri. Hal tersebut merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam dan lebih serius di dalam diri manusia.

Akarnya adalah kurangnya spiritualitas dan kemurnian spiritual di dalam diri. Ketika seseorang berdebat, terutama dalam masalah iman, ada penyakit yang mendasari di dalam hati yang memicu argumentasi, keinginan untuk membuktikan bahwa lawannya salah, untuk memuaskan ego dan untuk membuktikan nilai seseorang dengan meremehkan orang lain.

Mansoor Ahmed, seorang penulis di About Islam, mengatakan, kondisi demikian kian diperindah oleh setan saat seseorang seolah memperjuangkan kebenaran. Apalagi, jika sudah ada anggapan orang lain salah, sehingga terbetik niat untuk membimbingnya.

“Sikap ini menumbuhkan ketidakpedulian terhadap orang lain, dan mengarah pada penghinaan dan perselisihan di antara orang-orang. Ironisnya, hal ini sangat jauh dari arahan Al-Quran. Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa hal ini terjadi adalah karena kurangnya hubungan spiritual dengan Al-Quran dan pesan Ilahi yang tertanam di dalamnya,” kata Mansoor.

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS Yunus: 57)

Ini alasan Al-Qur’an sangat penting bagi perkembangan spiritual seseorang. Al-Qur’an akan terus membimbing manusia mengingat Allah SWT, mengingatkan tentang sifat dunia yang sementara, tentang kematian, tentang kebangkitan, hari kiamat, serta tentang surga dan neraka. Al-Quran menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif.

Sesuatu yang merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman tidak dapat menjadi sesuatu yang berlawanan dengan itu. Inilah sebabnya mengapa Khalifah Utsman bin Affan berkata, "Jika hati kita benar-benar murni, kita tidak akan pernah merasa cukup dengan Firman Tuhan kita, dan saya benci jika satu hari berlalu tanpa membaca Al-Quran."

Umat Islam harus menyibukkan diri dengan Al-Quran, dan tidak menyibukkan diri dengan berdebat tentang hal-hal yang tidak bermanfaat. Al-Quran benar-benar merupakan 'makanan jiwa'. Al-Qur’an adalah makanan bagi jiwa, penyembuh bagi hati dan percakapan dengan Ilahi.

“Tubuh kita diciptakan dari bumi ini dan Allah menempatkan makanan untuk tubuh kita di bumi juga. Semua yang kita makan pada akhirnya berasal dari bumi,” kata Mansoor.

Namun, jiwa kita berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, makanan jiwa juga harus berasal dari tempat asalnya, yakni Allah SWT. Inilah sebabnya mengapa hati, ketika terlibat dengan Al-Quran, merasakan ketenangan dan kedamaian, dan ketika jauh dari Al-Quran, hati perlahan-lahan akan mengeras hingga mati.

Ibnu Qayyim, cendekiawan Muslim, mencatat, "Kunci kehidupan hati terletak pada merenungkan Al-Quran, menjadi rendah hati di hadapan Allah secara rahasia, dan meninggalkan dosa."

Ketika seseorang berpaling dari Al-Quran, hati mulai kelaparan seperti halnya tubuh yang kelaparan ketika tidak diberi makan. Akibatnya, kehidupan menjadi menyedihkan dan tidak lengkap, karena setiap rang menyibukkan diri dengan hal-hal lain, berusaha mengisi kekosongan di dalam dirinya. Dengan demikian, argumentasi dan kontroversi menjadi jalan untuk memuaskan diri.

“Meninggalkan Al-Quran dapat berkisar dari tidak mendengarkannya, tidak mengamalkannya, tidak menjadikannya sebagai sumber petunjuk, hingga tidak merenungkannya dan mencarinya sebagai obat untuk masalah spiritual dan penyakit hati,” ujar Mansoor.

"Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan.” (QS Al-Furqan: 30)

Ketika memeriksa Al-Qur'an dan ayat-ayat tentang perintah dan larangan, selalu ditemukan bahwa ayat-ayat tersebut selalu disertai dengan peringatan untuk bertakwa kepada Allah atau merenungkan-Nya atau peringatan tentang Surga dan Neraka.

Intinya, bukan melakukan tindakan dengan benar; melainkan ada dimensi spiritual seperti keikhlasan yang diperlukan. Ketiadaan dimensi-dimensi tersebut akan membatalkan perbuatan baik itu sendiri.

Semua ini adalah bagian dari pengembangan Quran yang membangun hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan melalui perintah dan larangan tersebut. Hal ini memungkinkan seseorang untuk melihat tujuan yang mendasari perintah-perintah tersebut-menyembah Allah dan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta serta berfungsi sebagai komunitas yang didasarkan pada persaudaraan.

“Jadi, ketika seseorang terlibat dalam argumentasi, dia melupakan peran tambahan yang dimainkan oleh Al-Quran dalam hal aspek-aspek batiniah dari ibadah. Al-Quran membuat kita fokus pada isu-isu penting dan mengikat kita semua berdasarkan tujuan kita bersama - yaitu masuk surga dan menghindari neraka,” ujar Mansoor.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan