LANGIT7.ID - Setiap muslim adalah orang yang berpandangan luas dan berjiwa lapang, maksudnya agar setiap muslim mencapai kebaikan di dunia dan akhirat melalui media iman dan amal saleh. Demikian disampaikan almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya yang dikutip dari sebuah kanal YouTube, Rabu (1/9).
"Kita ingin
fid dunya hasanah tercapai,
fil akhirah tercapai, oleh karena itu Al-Qur'an menjelaskan, dengan karunia yang Allah berikan kepadamu, carilah akhirat dengan tidak melupakan jatahmu di dunia," ujarnya.
Kemudian mengapa setiap muslim harus berjiwa lapang? karena setiap dia gagal dalam tujuan jangka pendek, maka dia masih punya tujuan jangka panjang, yaitu akhirat dan Allah SWT. Dia masih bisa menghibur diri: biarlah susah dan sederhana di dunia, yang penting di akhirat bahagia.
"Orang yang tidak punya pandangan seperti ini, dunialah yang menjadi surganya. Bila umurnya selesai, ajalnya datang, maka selesailah semua urusannya, dan hanya bertumpu pada dunia, padahal dunia seperti air laut, semakin diminum semakin haus, dan semakin kering tenggorokan," katanya mengingatkan.
"Dunia yang diperturutkan akan menyeret manusia ke dalam lingkaran setan, yaitu tamak bin rakus alias serakah," imbuhnya disambut kelakar jamaah.
Apalagi yang lebih celakanya, lanjut beliau, sudah di dunia sengsara, di akhirat mendapatkan siksa pula. "Di dunia rumahnya gubuk, di pinggir kali, utang selebar warung, ngaji kagak, sembahyang kagak, lalu kapan mau bahagia kalau di dunia saja susah dan tidak memiliki orientasi ukhrawi," ucapnya.
Bagi seorang mukmin, uniknya dalam melakukan hal yang bersifat jangka pendek, selalu berorientasi pada tujuan jangka panjang. Dia memang benar cari harta, tapi karena dia yakin Allah tujuannya, maka keridhaan Allah pula muaranya.
"Orang yang punya cita-cita jangka panjang selalu dibingkai dengan pertanyaan 'Allah ridha apa tidak'. Pendeknya, apapun yang dia kerjakan, dia selalu menimbang-nimbang keridhaan Allah," ujarnya.
"Inilah makna '
Inna akramakum indaAllahi atqakum', karena di akhirat tidak akan ditanya gelarmu berapa banyak, akhirat hanya menyidang 'kau shalat atau tidak, kau zakat atau tidak, dari mana harta kau dapatkan, dan untuk apa harta tersebut kau gunakan'. Setinggi apapun prestasi pendidikan tidak akan ditanya, tetapi prestasi ibadah itulah yang ditanya dan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala," imbuhnya.
(jqf)