Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Jangan Asal Ceplos, Ini Bahaya Suka Berdebat

Muhajirin Kamis, 09 November 2023 - 12:00 WIB
Jangan Asal Ceplos, Ini Bahaya Suka Berdebat
ilustrasi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Suka berdebat merupakan akhlak buruk. Ada dua istilah digunakan untuk kata debat yakni jidal (debat) yang berkonotasi buruk dan dilarang. Kedua, istilah khiwar (dialog) yang berkonotasi baik dan dianjurkan.

Jidal yakni saling menyanggah di antara dua pihak tanpa menggunakan bukti yang kokoh dan etika yang baik. Khiwar atau adalah beradu argumen dengan bukti dan etika yang baik. Ada banyak dalil dalam Al-Qur’an yang melarang debat. Bisa ditemukan dalam Surah Al-Baqarah ayat 197, Surah Ali Imran ayat 66, dan Surah Az-Zukhruf ayat 58.

“Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS Az-Zukhruf: 58)

Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, perdebatan justru tidak membuat orang baik, namun membuat orang lain menjadi antipati. Perbebatan bisa pada tahap fatal, yakni putusnya tali silaturahmi.

Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Janganlah kau mendebat saudaramu karena perdebatan itu tidak akan dipahami hikmahnya dan juga tidak aman masalahnya.” Sementara, Imam Malik mengatakan, “Perdebatan ini tidaklah masuk ke dalam ajaran agama sedikit pun.”

Secara umum, Al-Qur’an, sunnah dan para Ulama mencela akhlak suka berdebat. Ujung dari perdebatan bukan membuat orang lain menerima kebenaran, namun justru menjatuhkannya. Perdebatan tidak mendatangkan kebaikan, sebaliknya justru mendatangkan keburukan.

“Perdebatan itu tidak membuat orang menjadi taat kepada agama namun justru membuatnya meninggalkan syariat,” kata Ustadz Fauzi dalam kajian daring, Rabu (8/11).

Menurut Ustadz Fauzi, debat juga memiliki buruk. Di antaranya, debat merupakan bagian dari perkataan yang melebihi batas dan hal ini tercela. Perdebatan yang berlebihan itu akan mendorong orang-orang saling mengkafirkan dan menyesatkan. Debat juga berdampak saling menolak, memicu permusuhan, dan mendorong orang untuk berdusta karena tidak mau kalah.

Terkadang orang sering kali tidak mau kalah dalam berbicara, sehingga terjadilah perdebatan. Orang itu berpikir bahwa ketika bisa berdebat, maka ia akan menang dan puas. Padahal, sesungguhnya ia kalah karena tidak ada gunanya.

“Kemenangan di atas perdebatan yang menyakiti itu sesungguhnya adalah kekalahan dari sudut diplomasi. Ada ungkapan bahwa lebih baik kalah di omongan tapi menang di agenda, ketimbang menang di omongan tapi kalah di agenda. Itulah perlunya kita menghindari akhlak ini dan semoga Allah selalu menjaga kita,” ujar Ustadz Fauzi.

Akan tetapi, jika perdebatan tidak bisa dihindari, maka ada etika yang harus diperhatikan agar menjadi dialog yang baik. Pertama, memiliki niat yang baik untuk mencari kebenaran, tidak ingin menang sendiri dan tidak sombong.

Kedua, memiliki data yang cukup. Ketiga, memiliki kemampuan untuk mengembalikannya kepada bukti. Keempat, memuliakan dan tidak menghinakan lawan bicara selama berdialog. Kelima, mendahulukan hal-hal yang lebih penting daripada hal-hal yang tidak penting. Keenam, menghindari pembicaraan yang panjang lebar yang tidak berfokus kepada tujuan.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)