LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di dalam Alquran terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada manusia yang cerdas (ashab al uqul, dzawil uqul) yaitu ulul albab, ulul abshar (Qs. Al-Hasyr [59]: 2), ulul ilmi (Qs. Ali Imran [3]: 18), dan ulun nuha (Qs. Thaha [20]: 54). Walaupun memiliki penekanan yang sedikit berbeda, empat istilah tersebut merujuk kepada mereka yang senantiasa menggunakan akal yang sehat, pikiran yang jernih, hati yang bersih, dan ilmu yang mendalam.
Manusia yang cerdas mampu memilah yang hak dari yang batil dan memilih yang hak. Manusia yang cerdas memiliki visi dan pandangan yang luas dan jauh ke masa depan dengan memahami ayat-ayat Allah Swt. dan berbagai peristiwa sejarah umat manusia.
Di antara empat istilah tersebut, yang paling banyak disebut adalah ulul albab (16 kali). Beberapa ayat berisi perintah agar manusia yang cerdas bertakwa kepada Allah Swt.
أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
Allah telah menyediakan azab yang sangat pedih bagi mereka. Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai ululalbab (orang-orang yang berakal sehat, berhati bersih, dan cerdas,) (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu. (Qs. At-talaq [65]: 10)
Ayat tersebut disebutkan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan tentang kehancuran bangsa dan negeri akibat kekufuran dan pembangkangan penduduknya terhadap perintah Allah Swt. Dengan nalarnya, manusia yang cerdas bisa mengambil hikmah dan ibrah (pelajaran) bahwa takwa kepada Allah Swt. dalam bentuk kepatuhan dan ketaatan kepada ajaran Allah Swt. dan rasul-Nya merupakan kunci meraih kejayaan.
Pada ayat yang lainnya, perintah bertakwa kepada manusia yang cerdas dikaitkan dengan sikap konsisten terhadap kebenaran dan kebaikan. Allah Swt. berfirman di dalam surah Al-Maidah [5]: 100.
قُلْ لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), "Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah [5]: 100)
Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz menjelaskan Surah Al-Maidah [5]: 100 diturunkan ketika ada seorang laki-laki yang menjual khamr. la ingin berinfak dengan harta hasil penjualan khamr itu berbuat baik dan beribadah.
Mengetahui hal itu, Rasulullah bersabda bahwa harta yang ia infakkan untuk haji, jihad, dan sedekah sia-sia belaka, tidak akan mendapatkan pahala.
Sesungguhnya tidaklah sama sesuatu yang halal dengan yang haram, perbuatan taat dengan maksiat, dan antara mukmin dengan kafir.
Alquran melarang manusia mencampur adukkan yang hak dengan yang batil (Qs. Al-Baqarah [2]: 42). Dengan kecerdasan akal dan kejernihan nurani, manusia yang cerdas akan konsisten di jalan yang benar dan taat kepada Allah Swt., meskipun kejahatan dan kemaksiatan itu begitu kuat dan banyak jumlahnya.
Salah satu ciri manusia yang cerdas adalah kemampuannya dalam memilah yang salah dari yang benar dan memilih yang benar dengan ilmunya (Qs. Az-Zumar [39]: 18).
الَّذِينَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ أُولَيكَ الَّذِينَ هَدُهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.661) Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat). (Qs. Az- Zumar [39]: 18)
Perintah bertakwa bagi manusia yang cerdas dikaitkan dengan ibadah haji. Dalam surah Al-Baqarah [2]:197 disebutkan tiga ketentuan tentang haji: waktu pelaksanaan (asyhur ma'lumat: dzulhijjah), perbuatan-perbuatan yang dilarang (rafats: berkata kotor, fusuq: berbuat kerusakan, dan jidal: bertengkar), dan bekal ibadah haji (takwa).
Larangan selama menunaikan ibadah haji itu tidak hanya berlaku saat pelaksanaan saja, tetapi berlaku di mana saja dan kapan saja. Ibadah haji adalah proses pendidikan yang membentuk manusia yang berakhlak mulia dan beradab.
Pada ayat yang lainnya, takwa dikaitkan dengan hukum qishash dan bagaimana manusia yang cerdas memahami dan mematuhinya. Allah Swt. berfirman di dalam surah Al- Baqarah [2]: 179.
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيُوةٌ يَأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Dalam kisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal agar kamu bertakwa. (Qs. Al-Baqarah [2]: 179)
Terdapat tiga ketentuan hukum Islam tentang qishash. Pertama, qishash diberlakukan bagi mereka yang terbukti bersalah melakukan pembunuhan dan tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Kedua, qishash dapat diganti dengan membayar denda/tebusan apabila keluarga memaafkan. Ketiga, qishash tidak dilaksanakan apabila keluarga korban memaafkan dan tidak meminta tebusan.
Banyak kalangan yang mengkritik hukum qishash karena dianggap tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia. Beberapa negara tidak memperlakukan hukuman mati (
martial law).
Sebagaimana disebutkan di dalam surah Al-Baqarah [2]:179 penerapan qishash justru untuk menjamin dan melindungi kehidupan. Penerapan hukum qishash diharapkan dapat menimbulkan efek jera sehingga manusia tidak menghilangkan nyawa sesama yang tidak berdosa.
Di antara tujuan Syariat Islam adalah untuk melindungi kehidupan (hifdz al-nafs). Hidup manusia ada- lah anugerah Allah Swt. yang sangat berharga. Karena itu, barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena dia berbuat kerusakan di muka bumi atau membunuh manusia yang tidak berdosa, pembunuhan itu sama nilainya dengan membunuh seluruh umat manusia.
Sebaliknya, barang siapa yang menyelamat- kan nyawa seorang manusia, sama halnya dengan menyela- matkan (kehidupan) seluruh umat manusia (Qs. Al-Maidah [5]: 32).
Dengan kekuatan, keluasan wawasan, dan kedalaman ilmunya manusia yang cerdas akan senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Sebagaimana disebutkan di dalam surah Fathir [35]: 28.
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاتِ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفُ أَلْوَانُهَ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمُوا إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُوْرٌ
(Demikian pula) di antara manusia, makhluk ber- gerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada- Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir [35]: 28)
Dengan ilmu dan kecerdasan manusia akan semakin dekat dan bertakwa kepada Allah Swt. Sumber dan pemilik ilmu adalah Allah Swt. Dengan iman dan ilmu manusia akan hidup bermartabat dan selamat hidup di dunia dan akhirat.
Allahu 'alam (bersambung)
(lam)