LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di antara ciri manusia yang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib. Hal ini dijelaskan di dalam Alquran surah Al- Baqarah [2]: 1-3.
الم ذَلِكَ الْكِتَبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ ... الَّذِينَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ
Alif Laam Miim (1). Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (2); (yaitu) orang- orang yang beriman pada yang gaib,... (3). (Qs. Al- Baqarah [2]: 3)
Di dalam Alquran kata gaib dengan kata bentukannya disebutkan sebanyak 60 kali: yaghtab satu kali, al-gaib 48 kali, gaibihi satu kali, al-ghuyub empat kali, gaibatin satu kali, gaibin tiga kali, dan ghayabat dua kali.
Dari ayat-ayat tersebut kata gaib paling tidak memiliki lima pengertian. Pertama, tidak hadir atau absen. Di dalam Surah An-Naml [27]: disebutkan:
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَابِبِيْنَ
Dia (Sulaiman) memeriksa (pasukan) burung, lalu berkata, "Mengapa aku tidak melihat Hudhud? Ataukah ia termasuk yang tidak hadir (gaibin)? (Qs. An-Naml [27]: 20)
Kedua, gaib berarti sesuatu yang tidak terlihat (rahasia) sebagai lawan dari sesuatu yang terlihat jelas (syahadat). Di dalam Surah At-Taubah [9]: 105:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُة وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلَى عَلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), "Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan." (Qs. At-Taubah [9]: 105)
Ketiga, gaib berarti sesuatu yang misterius: ada tetapi keberadaannya tidak diketahui dengan pasti. Di dalam Surah Al-An'am [6]: 59:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَبٍ مُّبِيْنٍ
Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Qs. Al-An'am [6]: 59)
Keempat, gaib berarti sesuatu yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan atau dilihat olah indra. Di dalam Surah Maryam [19]: 61 dijelaskan tentang surga yang tidak terlihat tetapi diyakini keberadaannya.
جَنَّتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَةَ بِالْغَيْبِ إِنَّهَ كَانَ وَعْدُهَ مَأْتِيًّا
(Yaitu,) surga 'Adn yang telah dijanjikan oleh (Allah) Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) gaib. Sesungguhnya janji-Nya pasti ditepati. (Qs. Maryam [19]: 61)
Kelima, al-gaib berarti wahyu, pengetahuan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada para rasul-Nya. Dengan wahyu Allah Swt. itu para rasul memiliki ilmu laduni, pengetahuan yang diperoleh tanpa proses belajar biasa, memiliki pengetahuan tentang apa yang akan terjadi (prophecy), takwil mimpi dan ilmu laduni lainnya. Di dalam Surah Yusuf [12]: 102 disebutkan:
ذلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُوْنَ
Itulah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), padahal engkau tidak berada di samping mereka ketika mereka bersepakat mengatur tipu daya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur). (Qs. Yusuf [12]: 102)
Di atas semua hal yang gaib itu, Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa atas segala sesuatu yang telah dan bakal terjadi. Allah Swt. adalah Alim al-gaib wa al-syahadat. Di dalam Alquran surah Ar-Ra'd [13]: 9 disebutkan:
عَلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ
(Allahlah) yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata. (Dia) Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Qs. Ar-Ra'd [13]: 9)
Gaib sebagaimana penjelasan di atas, hampir sama pengertiannya dengan gaib bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gaib memiliki tiga pengertian: 1. tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata; 2. hilang; lenyap; 3. tidak diketahui sebab- sebabnya (halnya, dan sebagainya).
Kembali kepada pengertian beriman kepada yang gaib (yu'minuna bi al-gaib). Di dalam beberapa kitab tafsir disebutkan, al-gaib memiliki beberapa arti. Menurut Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz, beriman kepada yang gaib adalah membenarkan secara mutlak dan sempurna semua sesuatu yang gaib seperti malaikat, jin, hari kebangkitan, hari perhitungan, dan hal lain tentang kengerian hari kiamat.
Dalam Tafsir Departemen Agama, beriman kepada yang gaib termasuk di dalamnya beriman kepada Allah Swt. dengan sesungguhnya, menundukkan diri serta menyerahkannya sesuai dengan yang diharuskan oleh iman itu. Tanda keimanan seseorang ialah melaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan oleh imannya itu. Gaib ialah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca indra. Pengetahuan tentang yang gaib itu semata-mata berdasarkan kepada petunjuk Allah Swt. Karena kita telah beriman kepada Allah Swt., maka kita beriman pula kepada firman dan petunjuknya.
Bagaimana makna beriman kepada yang gaib dalam kehidupan sehari-hari?
1. Percaya akan eksistensi atau keberadaan Allah Swt. sebagai Tuhan walaupun secara fisik zatnya tidak terlihat (gaib). Allah Swt. yang Mahagaib adalah Tuhan Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa atas segala sesuatu dan berbagai kejadian baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
2. Percaya kepada makhluk yang gaib seperti malaikat, iblis, dan jin. Makhluk Allah Swt. itu memiliki sifat-sifat yang mempengaruhi perilaku manusia baik atau buruk.
3. Percaya kepada Alquran sebagai wahyu Allah Swt. yang memberikan petunjuk kehidupan dan memungkinkan manusia memahami dan mengambil pelajaran (ibrah) atas berbagai hal dan keadaan yang terjadi.
4. Senantiasa berbuat baik di mana pun dan kapan pun karena menyadari bahwa setiap perbuatan diketahui oleh Allah Swt. dan dicatat oleh para malaikat-Nya. Tidak ada tempat tersembunyi untuk bersembunyi.
5. Senantiasa waspada terhadap berbagai kemungkinan karena banyak hal dalam hidup yang masih misterius, tidak mampu ditangkap oleh panca indra, dan dipastikan dengan akal dan ilmu manusia.
6. Senantiasa optimistis di tengah berbagai kesulitan karena banyak hal yang mungkin terjadi di luar prediksi manusia. Dalam hidup ini banyak keajaiban dan kejutan yang terjadi atas kehendak Allah Swt. Karena itu, manusia yang beriman kepada yang gaib tidak pernah putus asa dan menyerah kepada keadaan sesulit apa pun karena keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil jika Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa, menghendaki terjadinya sesuatu.
Allahu 'alam.
(lam)