JAKARTA-LANGIT7.ID; Ulama satu ini, benar benar beda. Ini ulama, lain daripada yang lain. Sebenarnya tidak pas membandingkan antar ulama, karena semua ulama pantas untuk mendapatkan penghormatan yang sama, karena ketauladannya dan keilmuannya yang tinggi. Namun untuk kelebihan ulama yang satu ini Langit7.id sengaja ingin mengekplore lebih jauh, karena ulama kharismatis ini, sungguh sangat membanggakan ummat. Siapa ulama ini? Ia adalah Prof.Dr.K.H.Asep Saifuddin Chalim M.A, pendiri dan pengasuh pondok pesantren “Amanatul Ummah”, Mojokerto, Banyuwangi, Surabaya, Jawa Timur dan Majalengka, Jawa Barat.
Putra bungsu dari salah satu pendiri NU, KH.Abdul Chalim yang sangat kharismatik ini, memiliki kemampuan luar biasa dalam mengelola pesantren. Pesantrennya tumbuh pesat di mana mana dengan jumlah santri puluhan ribu. Tidak semua santri yang dibebani biaya pendidikan. Ada santri santri yang tidak memiliki kemampuan, tetap bisa nyantri di pesantren. Abah Kiai—biasa para santrinya memanggil—memiliki pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Bahkan perguruan tingginya sudah memiliki program studi S2 dan S3. Mahasiswa pasca sarjananya bahkan banyak yang lulusan S1 Al-Azhar Mesir.
Prestasi pesantrenya yang sangat mengejutkan adalah ketika 280 santrinya lolos diterima jalur SNBP dan 31 santrinya diterima di kedokteran di beberapa perguruan tinggi. Luar biasa berkah keilmuan yang tinggi Abah Kiai.
Abah Kiai yang dilahirkan di Majalengka, 16 Juli 1955 menjadi pribadi kiai yang sangat mengagumkan. Bagaimana tidak! Abah Kiai, mendapat julukan kiai miliarder yang super dermawan. Bahkan predikat ini sampai ditulis menjadi sebuah buku: KIAI MILIARDER TAPI DERMAWAN”.

Kedermawanan Abah Kiai, karena mempunyai kebiasaan setiap tamu yang datang bersilaturahmi dengan Abah Kiai, si tamu saat pulang diberi amplop. Padahal kultur yang biasa tidak demikian: para tamu yang bersilaturahmi dengan kiai, biasanya memberi amplop pada kiai. Namun tradisi ini benar-benar tidak berlaku bagi Abah Kiai. Langit7.id yang kemarin bersilaturahmi dengan Abah Kiai di Mojokerto menyaksikan sendiri puluhan tamu yang datang ke pesantrennya –yang bersilaturahmi dengan Abah Kiai—diajak makan bersama, dan saat pulang diberi amplop dan beras 5kg satu persatu. Bahkan selama Ramadhan, para warga juga disiapin makan buka gratis di pesantrennya.
Abah Kiai sangat derwaman, karena juga memiliki usaha selain pesantren. Abah Kiai memiliki usaha air mineral dan juga SPBE. Dari bidang usaha inilah oleh Abah Kiai, hasilnya dibagi bagikan kembali kepada ummatnya. Selama hartanya didermakan untuk bersedekah, bagi Abah Kiai tidak perlu ada yang dikhawatirkan hartanya akan berkurang. Memang, kebiasaan Abah Kiai bukan hanya bagi bagi amplop pada para tamu yang datang bersilaturahmi ke pesantrennya, tetapi saat bepergian, Abah Kiai juga selalu bawa tas besar yang isinya uang. Uang ini juga dibagi bagi pada orang orang yang ditemui di perjalanan. Inilah kedermawanan Abah Kiai yang sangat enginspirasi.
Abah Kiai yang sangat favorit dengan kemeja putih, sangat disiplin mendidik para santrinya. Semua santrinya setiap pukul 03.00 pagi dibangunkan diajak sholat malam. Bahkan tidak segan segan ketika melihat santrinya masih terkesan ngantuk ngantuk langsung diobrak obrak (dipaksa bangun), segera mengambil air wudhu. Ibadah ini dilakukan sampe sholat subuh. Abah Kiai benar benar mendidik santri dengan disiplin ibadah yang tinggi. Karena sudah menjadi aturan baku, para santrinya tidak ada yang merasa mengeluh dengan kegiatan bangun setiap pukul 03.00 pagi. Hasilnya, para santrinya cerdas-cerdas dan mudah diterima di setiap perguruan tinggi. Bahkan putra Wapres KH Makruf Amin dan putra Gubernur Jawa Timur, Chofifah Indarparawansa juga nyantri di pesantren Abah Kiai.
Abah Kiai yang dikaruniai 9 anak ini, bukan kiai sembarangan. Abah Kiai memiliki akses komunikasi yang luas dengan semua level masyarakat. Inilah yang membuat semua pejabat juga berkepentingan mendekat dan membangun silaturahmi dengan Abah Kiai(*)

(lam)