Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 30 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 17)

nabil Sabtu, 06 April 2024 - 04:52 WIB
Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 17)


LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di antara ciri manusia yang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Mereka selalu berusaha untuk mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi. Mereka menyadari pentingnya menjaga kedamaian dan keharmonisan merupakan bukti dari ketakwaan mereka kepada Allah Swt.

Di dalam surah Ali Imran [3]: 134 disebutkan:

الَّذِينَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّراءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكُظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Qs. Ali Imran [3]:134)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yang dimaksud dengan menahan amarah adalah menutupi dan tidak melampiaskan amarah. Ibnu Katsir mengutip Hadis yang diri wayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a. sebagai berikut:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ وَلَكِنَّ الشَّدِيدُ الَّذِي يُمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang datang mengen- dalikan diri ketika sedang marah.

Di dalam Hadis lain yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdullah bin Mas'ud r.a., Rasulullah bersabda:

مَا تَعُدُّوْنَ فِيْكُمُ الصُّرْعَةَ قُلْنَا الَّذِي لَا تَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ قَالَ لَا وَلَكِنِ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Siapa orang yang paling kuat di antara kalian? Mereka menjawab: orang yang tidak seorang pun yang berani menantangnya berkelahi. Rasulullah bersabda: Bukan. Orang yang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah.

Dari dua Hadis tersebut dapat dipahami bahwa manusia yang bertakwa adalah: (1) orang yang dapat mengendalikan diri sehingga tidak marah; (2) orang yang dapat menahan diri ketika sedang marah.

Islam tidak melarang manusia untuk marah. Marah itu diperbolehkan karena itu merupakan sifat alamiah manusia. Marah juga diperbolehkan jika bertujuan untuk mengajak kebaikan dan menegakkan kebenaran bukan karena kebencian.

Meski demikian, sebaiknya seseorang berusaha semak- simal mungkin agar tidak marah. Di dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa suatu ketika seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِنَبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوْصِيْنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Seseorang bertanya kepada Rasulullah: "YaRasulullah berilah saya nasihat. "Nabi menjawab: "Jangan marah." Di mengulang-ulang pertanyaannya dan selalu dijawab: "Jangan marah."

Akan tetapi, apabila memang benar-benar diperlukan marah diperbolehkan asalkan tetap mampu menahan diri. Ketika sedang marah ia dapat mengendalikan diri atau tidak melampaui batas. Apabila seseorang tidak dapat mengendalikan diri ketika marah dia bisa kehilangan kendali diri sehingga mengucapkan kata-kata kotor dan kasar, melakukan tindakan kekerasan seperti memukul, membunuh, dan merusak.

Dalam riwayat Hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah pernah marah kepada sahabat Umar bin Khattab r.a. Suatu ketika Umar menyerahkan beberapa lembar Kitab Taurat dan meminta Rasulullah membacanya. Atas tindakan Umar itu, Rasulullah marah dan berkata:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوسَى فَاتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ وَلَوْ كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لَا تَبَعَنِي

"Demi Zat yang menggenggam jiwa Muhammad, jika Musa a.s. hadir di hadapan kalian, kemudian kalian mengikuti dan meninggalkan aku, maka kalian akan tersesat dari jalan lurus. Bahkan seandainya Musa a.s. masih hidup dan menyaksikan kenabianku, niscaya dia akan mengikuti aku."

Aristoteles, filosof Yunani, mengatakan: marah itu mudah. Siapa pun bisa marah. Tetapi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah.

Seseorang yang mudah marah akan kehilangan banyak sahabat. Kebiasaan marah akan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Seseorang yang sedang marah tidak dapat berpikir dengan jernih. Karena itu, Islam melarang seorang hakim mengambil keputusan dengan atau dalam keadaan marah.

لا يَقْضِيَنَّ حَكَمُ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ رواه البخاري

Janganlah seorang hakim memutuskan perkara di antara dua orang ketika dia sedang marah.

Agar kemarahan tidak mengarah kepada permusuhan dan perpecahan, Rasulullah melarang umatnya untuk tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Rasulullah bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأَ بِالسَّلَامِ. متفقٌ عَلَيْهِ

Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa yang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari kemudian dia mati, maka ia akan masuk neraka.

Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menebarkan kasih sayang dan lemah lembut. Manusia bertakwa adalah mereka yang ramah, bukan pemarah.

Allahu 'alam.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 30 April 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)