LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pada rapat umum tahunan Selasa, pemegang saham Toyota kembali memilih Akio Toyoda sebagai ketua dewan beserta sembilan anggota direksi lainnya. Mereka seolah tak peduli dengan masalah tata kelola dan skandal uji sertifikasi yang menimpa perusahaan.
Sebelumnya, dua penasihat proxy ternama menyarankan agar Toyoda tidak dipilih lagi. Tapi, terpilihnya kembali Toyoda sudah diduga karena banyaknya saham Toyota yang dimiliki perusahaan-perusahaan grup Toyota, hasil bisnis yang memecahkan rekor, dan popularitasnya di kalangan investor ritel Jepang.
Meski begitu, jika dukungan pemegang saham untuk Toyoda menurun drastis - angkanya akan diumumkan Rabu ini - hal itu bisa memalukan dan mungkin mendorong upaya perbaikan tata kelola. Para analis mengatakan salah satu kemungkinannya adalah mempercepat pengurangan kepemilikan saham silang.
Tahun lalu, dukungan untuk Toyoda turun dari 96% menjadi 85%. Sejak itu, Toyota yang merupakan produsen mobil terbesar di dunia, dihantam berbagai pelanggaran uji keselamatan dan sertifikasi di perusahaan-perusahaan grupnya, termasuk Daihatsu pembuat mobil kecil dan perusahaan induknya sendiri.
Penasihat proxy Institutional Shareholder Services (ISS) mengkritik cara Toyota menangani masalah-masalah tersebut. Dana pensiun pegawai negeri Kota New York setuju dengan kritik itu dan memilih menentang Toyoda.
"Memberi contoh dari atasan itu sangat penting," ujar Michael Garland, pengawas tata kelola perusahaan untuk dana tersebut, lewat email.
Glass Lewis, yang sudah dua tahun berturut-turut menyarankan agar Toyoda tidak dipilih lagi, mengatakan Toyoda bertanggung jawab atas kurangnya independensi dewan. Mereka juga menyoroti masalah kepemilikan saham strategis dan pengembalian ekuitas.
Kebanyakan penentang Toyoda diperkirakan berasal dari investor asing yang memegang seperempat saham Toyota. Namun Toyoda, cucu pendiri perusahaan, tetap sangat disukai investor ritel yang memegang 12,6% saham Toyota. Keuntungan besar tahun lalu dan kinerja saham yang bagus juga mendukungnya.
"Saya beli saham Toyota pakai uang pensiun," kata Hidenori Takahashi, 84 tahun. Dia menganggap Toyota sebagai "perusahaan terbaik di Jepang" untuk pemegang saham.
Takahashi mengakui masalah sertifikasi yang menimpa Toyota itu "buruk", tapi menurutnya Toyoda tampak serius ingin mencegah pelanggaran terulang.
Lebih banyak masalah sertifikasi terungkap setelah para penasihat proxy memberi rekomendasi mereka. Awal Juni lalu, Toyota mengaku telah salah melakukan enam uji sertifikasi kendaraan di masa lalu, termasuk untuk tiga model yang masih dijual.
Toyota menjelaskan beberapa pengujian dilakukan dalam kondisi lebih ketat dari aturan pemerintah, sehingga hasilnya tidak sah.
Saham Toyota turun 10% sejak pengakuan baru ini, tapi masih naik 18% tahun ini.
CEO Toyota Koji Sato, pengganti Toyoda tahun lalu, kembali meminta maaf atas masalah sertifikasi tersebut. Namun baik dia maupun Toyoda tidak menanggapi langsung rekomendasi para penasihat proxy.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham juga menolak usulan investor yang meminta Toyota lebih terbuka soal lobi iklim.
(lam)