LANGIT7.ID-, Jakarta- - Aktor berbakat Bryan Domani kembali akan main di film religi. Kali ini Bryan Domani bakal memerankan tokoh Aqsa di film drama romansa religi "Pantaskah Aku Berhijab".
Menurut Bryan, “Pantaskah Aku Berhijab” memberi pengalaman baru dengan karakter Aqsa yang diperankannya.
“Dari karakter Aqsa, saya belajar banyak tentang bagaimana menjadi support system yang sesungguhnya," kata Bryan Domani dalam keterangan resminya, Rabu (26/6/2024).
Film "Pantaskah Aku Berhijab" disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Kembali bekerjasama dengan Hadrah Daeng Ratu diakui Bryan sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Bagi Bryan, sebagai sutradara Hadrah memberi ruang bagi aktor untuk bereksplorasi.
"Bekerja sama kembali dengan Ibu Hadrah tentunya senang sekali. Sutradara yang memberikan ruang bagi aktor untuk mengeksplorasi karakter dan memberikan arahan yang jelas dan membangun suasana syuting menjadi lebih nyaman,” kata Bryan.
Baca juga:
Fenny Saptalia Hadirkan Cerita Rakyat Lewat Desain FesyenFilm “Pantaskah Aku Berhijab diproduseri oleh Deni Saputra dan digarap oleh Narasi Semesta, menjadikan film ini sebagai produksi perdana mereka.
Sementara skenario film ini ditulis oleh Cassandra Massardi.
“Film “Pantaskah Aku Berhijab” adalah film genre drama romansa yang memiliki nuansa religi yang ringan," kata sutradara Hadrah.
"Melalui karakter Sofi dan Aqsa, kami ingin mengajak penonton untuk menyelami lika-liku hidup dan proses memaafkan masa lalu, serta bagaimana kita bisa berdamai dengan takdir,” ujarnya menambahkan.
Bryan akan bersanding dengan Nadya Arina di film ini. Selain itu, film “Pantaskah Aku Berhijab” juga dibintangi oleh Nadzira Shafa, Dhini Aminarti, Indra Birowo, Tike Priyatna, Cakrawala Airawan, Hifdzi Khoir, Azkya Mahira, dan Najla.
Film ini juga menjadi pengalaman perdana Nadzira Shafa, penulis novel populer “172 Days” berperan dalam sebuah film.
“Pantaskah Aku Berhijab” berkisah tentang gadis muda bernama Sofi (Nadya Arina) yang penuh luka dalam menjalani cinta dan kehidupan, namun ia memiliki sahabat laki-laki, Aqsa (Bryan Domani) yang selalu menemaninya dalam keadaan suka maupun duka, juga mendampingi Sofi untuk menemukan kembali hidupnya dan berdamai dengan takdir.
Bagaimana akhir dari kisah Sofi dan Aqsa?
Film "Pantaskah Aku Berhijab" rencananya akan tayang di bioskop Indonesia pada tahun ini.
Aksi Kolaborasi Mahasiswa UMBY Kolaborasi dalam Pengelolaan Sampah di Bantul
Bantul - Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta berkolaborasi dengan warga Dusun Sawahan, Kelurahan Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul dalam pengelolaan sampah.
Aksi ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang ditugaskan kampus kepada mahasiswa.
Anggota kelompok tersebut, Patmawati mengungkapkan, aksi kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam merespon persoalan pengelolaan sampah yang kini masih menjadi persoalan serius yang dihadapi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini.
“Konsep dari aksi ini adalah aksi kolaborasi. Kami berkolaborasi dengan organisasi Karang Taruna dan Kelompok Resik Asri Sawahan untuk mengelola sampah dan berbagi informasi tentang pengelolaan sampah secara lebih modern dan maju. Kampus tentu perlu hadir untuk ikut berpartisipasi sekaligus memperkuat kolaborasi stakeholder yang ada di masyarakat untuk bergerak bersama dalam mengatasi persoalan sampah di Yogyakarta,” ungkap Fatma di Balai Dusun Sawahan, Srihardono, Rabu (26/06/2024).
Aksi kolaborasi ini dilakukan dalam dua bentuk kegiatan, yaitu aksi partisipasi mahasiswa bersama warga dusun Sawahan dalam kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah dan Sharing Session yang menghadirkan beberapa fasilitator, antara lain pendamping program pengolahan sampah Dinas Lingkungan Hidup Bantul, Wahyu Fitriyanto, Aktivis Garbage Care and Education (GarduAction) Jogja Ardha Kesuma, dan Pengelola Kampung Wisata Warung Boto, Tri Widodo Purnomo.
Wahyu Fitriyanto, Pendamping Program Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Bantul, mengatakan pendampingan program pengolahan sampah di Kabupaten Bantul tidak hanya dilakukan melalui pendekatan struktural tetapi juga fungsional.
Dua pendekatan ini masih terus dilakukan agar pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul lebih efektif.
“Ini tidak hanya konsolidasi institusi pemerintahan dari Pemkab, hingga RT, tetapi juga konsolidasi aksi nyata bersama masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup tidak hanya berkoordinasi secara organisasi dengan Pemerintah Kecamatan, Kelurahan tetapi juga hadir dan berpartisipasi bersama masyarakat di tingkat RT untuk mengolah sampah,” kata Wahyu.
Selain langkah itu, fokus pemerintah Kabupaten Bantul saat ini juga adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat dari “membuang” menjadi “memilah”.
“Kuncinya tetap ada di masyarakat. Penanganan sampah melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) adalah bagian dari upaya ini,” tambah Wahyu.
Ardha Kesuma, aktivis Garbage Care and Education (GarduAction) Jogja, mengatakan persoalan penanganan sampah perlu dilihat secara komprehensif, dari hulu hingga hilir.
Perubahan mindset tidak hanya terjadi di level masyarakat, tetapi juga pada level kebijakan publik.
Menurut Ardha, untuk menghasilkan perubahan dalam pengelolaan sampah tentu dibutuhkan proses yang kolaboratif, dimana semua komponen terlibat di dalam mendorong pengolahan sampah yang ideal.
Sementara pengelola Kampung Wisata Warung Boto, Tri Widodo Purnomo mengatakan bahwa selain sebagai upaya merawat lingkungan hidup, program pengelolaan sampah di tingkat desa juga dapat membawa manfaat secara ekonomis.
Purnomo bercerita, di Kampung Wisata Warung Boto, proses daur ulang sampah dijadikan paket wisata yang telah membawa keuntungan bagi masyarakat Warung Boto.
“Kami mengemasnya dengan konsep wisata edukasi. Kami menyuguhkan proses daur ulang sampah plastik kepada wisatawan. Produk hasil daur ulang itu juga kami jual. Program ini dikelola ibu-ibu,” tutup Purnomo.
Fenny Saptalia Hadirkan Cerita Rakyat Lewat Desain Fesyen
Tiap perancang busana atau desainer fesyen memiliki ciri khas masing-masing. Biasanya ini yang menjadikan desain mereka otentik dan istimewa. Desainer Fenny Saptalia salah satunya, ia kerap menghadirkan cerita rakyat pada karya fesyennya.
Rancangan yang ditampilkan Fenny dengan brand sesuai namanya yaitu Fenny Saptalia, didominasi tema culture yang dikembangkan melalui digital printing. Sebab itu tagline yang dipilih adalah “our culture is our style”.
Saat ditemui di Jakarta Convention Center, Jakarta, beberapa waktu lalu Fenny menuturkan ia memiliki keyakinan sendiri soal penentuan tema tersebut. Visi dan misinya adalah ingin budaya Indonesia tidak lekang oleh waktu dan generasi muda terus bangga akan budaya dalam negri.
Untuk itu, Fenny ingin tidak hanya tema besar pada koleksinya melainkan selalu ada cerita di baliknya.
Sebagai contoh saat ia menelurkan koleksi yang diberi nama “Nan Elok”. Ide ini terinspirasi dari kisah Sabai Nan Aluih yang tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki kekuatan dan keberanian.
“Cerita Sabai Nan Aluih ini tentang perempuan Minang yang cantik, yang endingnya bisa angkat senjata untuk bela keluarganya. Untuk koleksi seri ini gaya yang mau saya tampilkan yaitu edgy, sporty dengan aksen Rumah Gadang. Lebih ke ‘storytelling’, itu yang kita masukan karena menurut saya di situ nilai plus-nya,” jelasnya.
Sesuai visinya yakni mengenalkan dan mengabadikan budaya asli Indonesia, Fenny menetapkan target marketnya untuk usia 25 ke atas. Namun tidak memungkiri bahwa koleksinya juga disukai oleh perempuan yang usianya lebih dari target tersebut.
“Banyak juga ibu-ibu yang berjiwa muda yang senang koleksi saya. Tidak apa-apa fashion itu dinamis. Yang jelas saya ingin kenalkan budaya Indonesia lewat fashion sebab tagline saya “our culture is our style.”
Untuk seri Nan Elok, ujar Fenny, kebanyakan yang jaid favorit adalah kemeja, hijab, rok, celana palazzo, dan outer. “Sepertinya mereka (cutomer) lebih suka sporty, karena saya pakai aksen tali-tali di bagian bawah.”
Sementara itu, seperti kebanyakan desainer lainnya, ada momen khusus dimana Fenny juga menyiapkan tema berbeda yaitu saat momen hari raya Idul Fitri.
Idul Fitri lalu desainer yang kerap mengenakan outer panjang ini meghadirkan koleksi “Crystal Line”. Ia mengungkapkan, koleksi ini bercerita tentang perempuan yang memiliki cahaya. “Gambarnya diambil dari bintang dan bentuk salju (kristal).”
Koleksi dari Crystal Line ini didominasi pada abaya dan dress. Namun ia juga menyiapkan top dan bawahan. Meski koleksi Lebaran, namun Crystal Line masih tersedia sampai sekarang.
Mundur ke belakang, mengingat bagaimana Fenny mengawali karier sebagai desainer, ternyata ia tidak langsung begitu saja sebagai desainer. Meski tak jauh dari dunia fesyen namun desainer yang terkenal dengan tema “culture” ini sebelumnya membuka jasa printing busana dan jahit. Berikut cerita perjalanan karier Fenny.
“Awalnya bukan (desain) fashion tapi lebih ke jasa printing dan buka jahitan. Dari situ berpikir, kita sudah punya semua kenapa nggak kita bikin sendiri. Akhirnya lahirnya (brand) Fenny Saptalia,” ungkapnya.
Outlet Fenny Saptalia bisa ditemukan di Sarinah, Jakarta, Jogja ada di L Mart, Yogyakarta, dan sejumlah market place. Brand ini juga menawarkan koleksi busana custom yang bisa disesuaikan dengan permintaan customer. “Silakan kontak admin, bisa nanti kita siapkan untuk size tertentu,” tukas Fenny.
Fenny Saptalia (tengah) usai fashion show di Muslim Fashion Jakarta
Memahami Makna Hijrah Sesuai Ajaran Rasulullah
Hijrah secara umum dapat diartikan sebagai meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran menuju hal yang dicintai Allah Swt. Banyak orang ingin berhijrah namun ada baiknya memahami terlebih dahulu tentang hijrah yang diajarkan Rasulullah Saw.
Seperti tercantum dalam surat an-Nisaa ayat 100, diterjemahkan:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah maka niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya lalu kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju) maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Dikatakan Ustadz Weemar Aditya dalam buku Aku dan Hijrah karya Lia Yogiantoro, “hijrah artinya meninggalkan dalam hal ini bukan karena membenci, melainkan karena ingin menuju sesuatu yang lebih baik, dari kegelapan menuju cahaya, dari cinta pada kemaksiatan menuju cinta pada ketaatan, dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, dan dari jauhnya diri dengan Allah Swt menuju kedekatan dengan Allah Swt.”
Hal serupa disampaikan Ustadzah Aini Aryani, “Hijrah adalah berpindah dari satu tempat tidak baik menuju tempat yang lebih baik, atau berpindah dari hal-hal yang Allah Swt larang menuju pada hal-hal yang Allah Swt ridhai. Sejatinya hijrah adalah salah satu cerminan dari tobat, dan hamba terbaik adalah dia yang segera datang kepada Allah Swt lalu menyesali perbuatannya apabila berbuat dosa.”
Modal utama dalam berhijrah adalah iman kepada Allah Swt dan saat ini fenomena hijrah menjadi sebuah arus dan bahkan terjadi secara masif. Bisa dilihat banyaknya majelis taklim yang tersebar dimana-mana dibanding sebelumnya.
Banyak pula kita lihat selebritas dan public figure perempuan kini berhijab, dan untuk selebritas pria pun telah mengubah penampilan mereka. Tak sedikit pula kita lihat di televisi maupun berbagai media sosial para selebritas tersebut hadir dan bahkan turut ambil bagian di taklim serta kegiatan Islami lainnya.
Niat untuk berhijrah memang sudah sangat baik namun alangkah lebih baiknya lagi kita pahami betul makna dan hakikat hijrah itu sendiri seperti apa.
Kata ukuwah berasal dari Bahasa Arab yaitu “akh” yang artinya “saudara”. Saat ini ukhuwah menjadi sesuatu yang sungguh mahal harganya. Ukuwah bisa dimaknai sebagia ikatan persaudaraan di antara dua orang atau lebih berdasarkan keimanan yang sama. Serta kesepakatan atas pemahaman dan pembelaan terhadap Islam sebagai agama yang diridhai Allah Swt.
Perintah Allah mengenai ukhuwah tercantum dalam Al Quran yaitu surah al-Hujuraat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah di antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat Rahmat.”
Rasulullah Saw sendiri melakukan hal yang sama ketika hijrah yakni menguatkan ukhuwah. Beliau membangun persaudaraan di antara dua kaum saat itu yaitu kaum Muhajirin (umat Islam yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) dan kaum Anshar (umat Islam penduduk asli Madinah). Rasulullah mempersaudarakan mereka satu per satu.
Rasulullah Saw selalu menegaskan bahwa sesama Muslim bersaudara. Bagi seorang muslim persaudaraan bukan hanya didasarkan pada darah, melainkan juga pada keimanan yang sama.
Sebagai sesama muslim baiknya saling menghargai agar tidak mencederai ukhuwah. Bagi yang sudah berhijrah secara penampilan, sebaiknya tidak mencibir apalagi sampai menghakimi orang lain yang berpakaian tidak sesuai standar yang kita pegang.
Seperti yang diteladani Rasulullah Saw, alangkah bijak seandainya kita bisa menghargai perbedaan. Apabila mengabaikan ukhuwah dalam proses hijrah, sungguh ini adalah Langkah awal yang merugikan.
Sebab berhijrah hakikatnya adalah untuk kebaikan diri, keluarga, dan umat. Bukan justru malah menghadirkan permusuhan di kalangan keluarga, saudara, teman dan kelompok bahkan umat Islam.
(ori)