LANGIT7.ID-, Jakarta- - Presiden AS Joe Biden baru saja melakukan pembicaraan penting dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kabar ini langsung disampaikan oleh Gedung Putih pada hari Rabu. Pembicaraan ini menjadi sorotan setelah tersiar kabar bahwa Netanyahu menambahkan beberapa tuntutan baru dalam proposal gencatan senjata di Gaza.
Panggilan telepon ini menyusul kunjungan kilat Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke Timur Tengah yang berakhir Selasa lalu. Sayangnya, kunjungan tersebut belum membuahkan kesepakatan antara Israel dan militan Hamas mengenai gencatan senjata di wilayah Palestina.
Baca juga:
Kepala Militer Israel Mengakui Kesalahan 7 Oktober dalam Pidato Pengunduran DiriBlinken, bersama mediator dari Mesir dan Qatar, menaruh harapan besar pada "proposal jembatan" AS. Proposal ini bertujuan untuk mempersempit jurang perbedaan antara kedua pihak dalam perang Gaza yang telah berlangsung selama 10 bulan.
Dalam pembicaraan tersebut, Biden dan Netanyahu juga ditemani oleh Wakil Presiden Kamala Harris. Mereka membahas upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut, demikian menurut pernyataan Gedung Putih.
Saat ini, Biden sedang menikmati liburan keluarga di Santa Ynez Valley, California. Ia menginap di sebuah ranch seluas 8.000 acre, sementara para Demokrat berkumpul di Chicago untuk menominasikan Wakil Presiden Kamala Harris sebagai calon partai untuk pemilihan presiden 5 November mendatang.
Mendapatkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza menjadi prioritas utama bagi Biden. Seorang pejabat senior AS pada hari Jumat lalu menggambarkan bahwa pembicaraan sudah mendekati kesepakatan, namun perjanjian final masih sulit dicapai.
Dalam pembicaraan untuk menghentikan pertempuran dalam perang yang telah berlangsung selama 10 bulan ini, Hamas menuntut penarikan lengkap pasukan Israel dari Gaza. Termasuk dari apa yang disebut Koridor Philadelphi, sebuah jalur sempit sepanjang 14,5 km di sepanjang perbatasan selatan daerah pesisir dengan Mesir.
Israel ingin mempertahankan kendali atas koridor tersebut, yang berhasil mereka rebut pada akhir Mei lalu. Mereka telah menghancurkan puluhan terowongan di bawahnya yang mereka klaim digunakan untuk menyelundupkan senjata ke kelompok militan Gaza.
(lam)