LANGIT7.ID-, Jakarta- - Presiden AS Joe Biden tetap melanjutkan rencana pembangunan dermaga bantuan untuk Gaza yang bermasalah, meski sudah ada peringatan internal. Hal ini diungkapkan oleh badan pengawas pemerintah AS. Sementara itu, Gedung Putih membela operasi tersebut sebagai "respons menyeluruh" terhadap krisis kemanusiaan.
Biden mengaku kecewa dengan kinerja dermaga yang dioperasikan militer AS. Dermaga ini berkali-kali harus dipindahkan dari pantai karena cuaca buruk.
Baca juga:
Krisis Kemanusiaan Memanas: WFP Terpaksa Hentikan Bantuan di Gaza
Namun, badan pengawas USAID (Badan Pembangunan Internasional AS) menyatakan dalam laporan yang dirilis Selasa (27/8) bahwa sudah ada serangkaian peringatan tentang laut yang ganas dan tantangan keamanan sebelum Biden memutuskan untuk mengerahkan ponton bermasalah tersebut.
"Banyak staf USAID menyampaikan kekhawatiran" bahwa dermaga ini akan mengalihkan perhatian dari upaya mendorong Israel membuka perlintasan darat, yang merupakan cara "lebih efisien dan terbukti" untuk mengirim bantuan ke Gaza, kata laporan itu.
"Begitu presiden mengeluarkan perintah, fokus Badan adalah menggunakan (dermaga) seefektif mungkin," tambahnya.
Gedung Putih menyatakan pada Rabu (28/8) bahwa dermaga tersebut adalah "bagian dari respons menyeluruh terhadap kondisi mengerikan, bersama pengiriman melalui udara dan darat."
Dermaga ini berhasil mengirimkan hampir 20 juta pon (9 juta kilogram) makanan dan air, serta "secara signifikan membantu meringankan" kondisi di Gaza utara saat para ahli memperingatkan ancaman kelaparan, kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Sean Savett.
"Kami berterima kasih atas upaya heroik para pria dan wanita militer AS yang membangun dan memelihara dermaga ini," tambahnya.
Biden mengumumkan proyek ini saat pidato kenegaraan pada Maret lalu, ketika Israel menahan pengiriman bantuan melalui darat.
Namun, laporan USAID menyebutkan bahwa masalah dermaga membuat proyek ini "gagal mencapai" tujuannya untuk memberi bantuan cukup bagi setengah juta warga Palestina selama tiga bulan. Nyatanya, hanya cukup memberi makan 450.000 orang selama satu bulan.
Pada akhirnya, dermaga hanya beroperasi selama 20 hari dalam dua bulan sebelum dihentikan, kata laporan tersebut.
"Sejak awal, cuaca buruk menjadi tantangan utama," tambahnya. Dermaga ini "terlepas atau ditutup berkali-kali."
Panduan Pentagon yang dibahas dalam rapat perencanaan awal menyebutkan bahwa dermaga hanya cocok digunakan saat gelombang pendek atau sedang. Namun, Laut Mediterania sering mengalami angin dan gelombang "signifikan", kata badan pengawas.
Kekhawatiran keamanan di zona perang aktif, di mana Israel menyerang Hamas pasca serangan 7 Oktober, "berdampak signifikan" terhadap pengiriman bantuan melalui dermaga, tambah laporan itu.
(lam)