LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat diminta tidak ragu dengan ketersediaan dan keamaan vaksin, juga agar segera menjalani vaksinasi. Pemerintah memastikan vaksin yang digunakan di Indonesia aman.
Kepastian tersebut berupa Persetujuan Penggunaan dalam Kondisi Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Jhony G Plate, dalam keterangan pers tertulis yang diterima LANGIT7 di Jakarta, Sabtu (11/9/2021).
"Hadirnya beragam jenis vaksin COVID-19 di Indonesia ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengamankan ketersediaan vaksin," ujarnya.
Jhony menyatakan seluruh dunia sangat memerlukan vaksin COVID-19 saat ini, dan Indonesia sendiri memerlukan 400 juta lebih dosis vaksin. "Oleh karenanya, pemerintah berupayamendapatkan vaksin dari berbagai produsen," ucapnya lagi.
Pada hari yang sama Badan POM juga memberikan EUA untuk vaksin Convidecia yangdikembangkan CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology. Efikasi vaksin Convidecia untuk perlindungan pada semua gejala COVID-19 adalah 65,3 persen, sedangkan efikasi untuk perlindungan terhadap kasus COVID-19 berat adalah 90,1 persen.
Vaksin Janssen dan Covidecia menjadi ke-8 dan ke-9 yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM pada tahun ini. Kedua vaksin tersebut menyusul tujuh vaksin lain yang telah mendapatkan EUA lebih awal, yaitu Sinovac, Vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sputnik V.
Dari sembilan vaksin yang sudah mendapatkan EUA dari Badan POM, enam diantaranya telah digunakan di Indonesia. Hari ini vaksin Janssen juga telah tiba di Indonesia.
Perluas Cakupan VaksinasiPakar Imunisasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH. DSc terus mendorong pemerintah untuk memperluas cakupan vaksinasi, khususnya di daerah dengan tingkat kasus COVID-19 paling tinggi.
Daerah padat penduduk dengan mobilitas masyarakat yang lebih tinggi umumnya dinilai memiliki risiko penyebaran kasus COVID-19 lebih tinggi.
"Dengan cara ini otomatis cakupan imunisasi akan lebih cepat meningkat dibanding vaksin yang ada di distribusi secara merata," ujar Doktor Bidang Penelitian Pelayanan Kesehatan dari Erasmus University, Belanda ini.
Selain itu, dr. Jane juga kembali mengingatkan bahwa varian delta jauh lebih cepat menular dan masa inkubasi virus di pasien sebagai penyakit dua kali lebih cepat dan mematikan.
Masyarakat yang masih enggan divaksin diharapkan dapat memahami bahwa vaksinasi akan sangat membantu mereka menghindari risiko kesehatan yang lebih parah akibat infeksi COVID-19 varian Delta.
"Sebanyak 99% kasus positif COVID-19 di Amerika Serikat terjadi pada mereka yang belum diimunisasi, kelompok antivaksin, dan antivmasker," tegas dr. Jane.
(arp)