LANGIT7.ID, Jakarta - Covid-19 tidak pandang bulu dikala menyerang. Termasuk pada anak-anak, salah satu target rentan dari infeksi virus corona. Sering, kasus pasien tanpa gejala terkadang membuat orang tua lengah dengan kondisi anaknya.
Tidak seperti orang dewasa yang bisa leluasa menceritakan keluhan dikala sakit, orang tua harus memberikan perhatian ekstra dan lebih peka terutama bagi anak yang terpapar Covid-19 tanpa menunjukkan gejala.
Dokter spesialis anak Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Yovita Ananta membagikan langkah-langkah penanganan yang harus dilakukan oleh orang tua saat anak positif Covid-19.
Pertama, yang harus diingat oleh orang tua ketika mendapati hasil tes PCR/antigen sang anak terpapar COVID 19 adalah jangan panik.
“Kalau misalnya sudah panik nanti tidak bisa memantau dengan baik, jadi yang penting tidak boleh panik dan harus mendukung sang anak,” urai dokter Yovita dalam sharing session bersama The Asian Parent Indonesia, Jum’at (9/7/2021).
Kedua adalah memberikan pengertian kepada anak, orang tua harus bisa menjelaskan kepada anak kenapa harus menjalani isolasi mandiri. Situasi di saat anak tidak bisa bermain keluar dan harus tinggal di rumah akan membuat anak bertanya-tanya dan cepat bosan.
“Anak-anak yang biasanya aktif pasti akan merasa sedih, jadi kita harus dukung dan memberi pengertian kenapa tidak boleh keluar rumah, seperti (menjelaskan) saat ini ada virus, di rumah saja membuat penyembuhan lebih cepat, dan dia bisa menjadi ksatria dengan melindungi anak-anak lain di luar sana agar tidak tertular,” katanya.
Ketiga, dokter Yovita mengungkapkan jika isolasi mandiri bisa dilakukan apabila kondisi anak sudah dikonsultasikan oleh tenaga kesahatan. Jangan langsung memutuskan untuk isolasi mandiri setelah mendapati hasil positif.
“Anak yang bisa melakukan isolasi mandiri adalah yang kondisinya tanpa gejala atau mengalami gejala ringan, karena jika (mengalami) gejala sedang atau berat, tidak bisa dilakukan isolasi mandiri, kita harus lakukan perawatan di rumah sakit,” jelasnya.
Karena kondisi rumah sakit yang kurang kondusif di situasi pandemi, sebaiknya konsultasikan ke tenaga kesahatan terlebih dahulu dan pastikan kondisi anak aman untuk tidak dirawat di rumah sakit sehingga cukup untuk menjalani isolasi mandiri.
Keempat, meskipun kondisi anak yang tanpa gejala atau bergejala ringan bisa dirawat di rumah, orang tua tetap tidak boleh lengah dan harus terus memantau jangan sampai timbul gejala berat. Pengecekkan suhu tubuh, kondisi pernapasan anak, napsu makan dan minum merupakan hal yang harus terus dipantau oleh orang tua selama masa isolasi mandiri.
Kelima, Saturasi oksigen tidak kalah penting untuk terus dipantau oleh orang tua, dokter Yovita menyarankan bagi orang tua yang melakukan isolasi mandiri untuk memiliki alat ukur saturasi oksigen atau oximeter.
Hal yang harus diwaspadai oleh orang tua saat anak melakukan isolasi mandiri adalah terjadinya
Happy Hypoxia yaitu kondisi berkurangnya kadar oksigen di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala.
“Ini kondisi di mana kadar oksigen sudah turun tapi anak masih kelihatan cukup aktif dan tidak mengalami sesak napas. Jika saturasi oksigen turun, meskipun kondisi lainnya cukup baik kita tetap harus segara bawa anak ke rumah sakit,” paparnya.
(zul)