LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah kembali menyelenggarakan program peningkatan kapasitas dan pertukaran pengalaman sebagai upaya pembinaan industri kecil dan menengah (IKM). Hal itu ditujukan kepada para peserta dari berbagai negara anggota yang tergabung dalam
Organisasi Internasional Colombo Plan.
Colombo Plan merupakan organisasi regional yang berperan memperkuat ekonomi dan sosial negara anggotanya di wilayah Asia Pasifik. Para peserta program peningkatan kapasitas tersebut berasal dari kalangan birokrat aparatur pemerintah hingga pelaku IKM.
Plt. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita mengatakan, kegiatan itu merupakan implementasi Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KSST), yang telah menjadi komitmen Indonesia sejak tahun 1950.
“Ini adalah tahun ke-6 Indonesia menjadi tuan rumah sejak 2016. Semoga kegiatan ini bisa mendorong kerja sama baik antar instansi pemerintah maupun para IKM dari para negara anggota Colombo Plan," ujarnya di Jakarta, Selasa (14/9).
Baca juga: Tumbuh Positif, Pertanian dan Makanan Halal Jadi Fokus Pengembangan Ekonomi SyariahMelalui kegiatan tersebut, lanjut Reni, diharapkan dapat menjadikan IKM sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan membuka kesempatan lapangan kerja baru. Selain itu, dalam program ini juga peserta akan menyusun
action plan yang diterapkan di negaranya masing-masing.
Lebih lanjut, Reni menuturkan program ini dirancang agar bisa dilaksanakan secara berkelanjutan pada tahun 2022 mendatang. Rencananya, pada tahun depan akan dilaksanakan secara offline di Bali.
"Program pelatihan tahun ini bertujuan mendorong pemberdayaan pengusaha IKM perempuan sebagai penggerak ekonomi yang mampu bertahan dari dampak pandemi Covid-19. Serta turut memberdayakan masyarakat dalam aktivitasnya," ujarnya.
Baca juga: Kesadaran Rendah, Pemerintah Imbau Konsumen Lebih Bijak Gunakan Pinjaman OnlinePelaku IKM selama ini terbukti mampu menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) disebutkan, jumlah IKM Indonesia saat ini mencapai 4,4 juta unit usaha, dan menyerap 10,36 juta pekerja atau sekitar 66 persen dari total pekerja industri di Tanah Air, serta menyumbang hingga 21,22 persen dari total nilai kontribusi industri manufaktur.
Adapun dari penelusurannya, IKM seringkali mendapati kendala seperti menurunnya permintaan, bergesernya perilaku belanja konsumen, terbatasnya kemampuan untuk beradaptasi cepat, strategi pemasaran, dan kebutuhan modal untuk membayar gaji pekerja dan operasional.
“Kami berkomitmen untuk membantu dan memfasilitasi IKM agar mampu bertahan di tengah pandemi melalui seminar dan pelatihan online. Selain itu, program pengembangan wirausaha baru, restrukturisasi mesin, dan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia untuk mendorong konsumsi produk lokal,” tambahnya.
Sebagai informasi, program ini diikuti oleh 61 peserta dari 13 negara anggota Colombo Plan, yang meliputi Indonesia, Bangladesh, Bhutan, Filipina, India, Laos, Maladewa, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13-17 September 2021 secara hybrid.
(zul)