LANGIT7.ID, Semarang - Seorang YouTuber jangan semata-mata membuat konten instan, seperti mengikuti segala yang tengah viral, kemudian dijadikan konten. Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Siberkreasi, Yosi Mokalu atau Yosi Project Pop.
"Jangan juga menjadi kreator yang latah, segala yang sedang viral di media sosial lalu dibahas," kata Yosi, dalam webinar “Positive Cyberfun”, yang digelar SMP N 1 Semarang, Kamis (16/9/2021).
Sebaliknya, hal ini justru akan menjadikan seorang konten kreator lupa akan kreativitasnya sendiri dan potensi yang dimiliki. Hasilnya pun juga tidak akan maksimal, karena tidak banyak viewernya jika hanya menyajikan hal-hal yang monoton dan membosankan.
“Maksimalkan potensi, kamu punya sesuatu yang bagus banget, bermusik, merias, dan sebagainya. Harus riil otentik. Yang kedua, kepedulian, seperti di Semarang misal ada yatim piatu, anak jalanan, Covid-19. Lalu pilih satu, apa yang mau dijadikan konten,” kata Yosi.
Potensi dan kepedulian itu, harus dilaksanakan secara konsisten, tentunya dengan terus mengasah kreatifitas yang butuh proses, dan tidak bisa instan. Kreatifitas itu bukan hanya sebuah ide, melainkan pembuktian dari ide itu sendiri. Tidak hanya sebatas mampu dalam merancang tapi bisa merealisasikan.
Dia membandingkan, youtuber tidak jauh berbeda dengan industri musik. Ada masanya sedang naik daun, tapi juga ada kalanya juga berada di bawah. Siapa yang konsisten dalam berkarya, akan menjadi besar dan tetap bisa bersaing dengan grup musik yang lain.
“Makanya kreativitas ini menjadi sangat menentukan. Video-video yang saya buat itu dari sebuah proses,” ujarnya.
Diketahui, pengguna internet di dunia ini sangat tinggi. Dari 7,8 milyar penduduk di dunia, 4, 6 miliar adalah pengguna internet. Kemudian 5,22 miliar adalah pengguna smartphone, atau setara 66 %. Kemudian pengguna platform media sosial 4,2 miliar.
“Saat ini kita sedang menuju ke masyarakat digital, dari analog. Kita perlahan-lahan semakin digital,” ujar salah satu pendiri CameoProject ini.
Di sisi lain, pentolan dari Project Pop ini juga mengingatkan peralihan dari analog ke digital ini telah menyebabkan perubahan perilaku dan sikap. Seperti pembelajaran online, ketika siswa tidak langsung bertatap muka dengan guru. Ketika guru memberikan pelajaran, siswa bisa saja tidak memperhatikan.
“Seharusnya, apakah online atau pembelajaran tatap muka (PTM), ketika ada guru bicara, harus dilihat dan didengarkan, bukan main handphone sendiri atau tengok ke kiri dan ke kanan,” ucapnya.
(jqf)