LANGIT7.ID, Jakarta - Pesan Jusuf Kalla sebagai ketua DMI yakni mengambil hikmah dari masjid agar ummat Islam kaya. Karena itu Baitullah jangan hanya jadi tempat beribadah semata.
Rumah Allah punya banyak fungsi di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Mulai dari asrama, merawat orang sakit, hingga menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan.
Tapi sekarang, sebagian masjid justru minim kegiatan. Ramai hanya di kala waktu shalat tiba, sudah itu jamaah bubar. Bahkan, sampai di kunci pintu dan digembok pagar.
Pasti ada alasan mengapa warga atau para pengurus sepakat menutup akses masjid di luar jam shalat. Di antaranya, khawatir kotak amal kemalingan, dan tidak ingin ruangan shalat dipakai untuk beristirahat.
Kalau kata Imam Masjid Istiqlal, Imam Mustafa, penerapan fungsi masjid di zaman dulu, sudah tidak cocok dengan realita era saat ini. Masjid bisa jadi tempat yang kumuh, padahal saat shalat kita dituntut untuk suci, bukan?
Tapi tak lantas umat Islam justru menjauhi masjid atau menjadikan bangunan berkubah itu cuma simbol rumah peribadatan saja. Instruksi ini pernah juga disampaikan Pak Jusuf Kalla, selaku ketua Dewan Masjid Indonesia, atau DMI.
Pada Maret 2013 lalu, Pak JK, begitu orang-orang memanggilnya, meminta agar masjid bisa lebih produktif memberdayakan dan melayani umat Islam.
Secara tidak langsung, Pak JK ingin agar masjid dikembalikan ke fungsinya dulu pada masa Rasulullah. Kalau memang ada rasa khawatir justru mengganggu kekhusyukan ibadah, mungkin bisa dipersempit lagi ruang lingkup fungsi masjid.
Mengutip kata Pak JK, pokoknya pada ekonomi dan pendidikan masyarakat. Inilah yang nantinya akan membuat umat bangkit dari keterpurukan.
Cara pikir putra asli Watampone di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini memang tidak lagi saya ragukan. Banyak hal yang saya serap dari ide-ide brilian beliau.
Sederhananya, berkat usul Pak JK DMI telah meluncurkan sistem ISYEF (Indonesian Islamic Youth Economic Forum) pada November 2018 lalu.
Ini menjadi wadah remaja-remaja masjid dalam mengembangkan keilmuan, jadi tempat nongkrong dan berdiskusi serta pusat pemberdayaan ekonomi. Masjid menjadi pusat pergerakannya, memunculkan konsep fresh.
Masid tentu lebih hidup, bukan cuma didatangi orang saat waktu shalat tiba. Tapi, memang menjadi aktivitas, di mana mereka yang ingin nongkrong, tak harus mencari coffee shop atau belanja di mini market, tapi juga di masjid.
Lini bisnisnya, akan ada transaksi jual beli, dan keuntunganya masuk kas masjid yang nanti dipakai untuk kemaslahatan umat. Apalagi kesadaran dan keinginan masyarakat untuk meningkatkan ibadahnya makin tinggi.
Bagi JK, ummat Islam ditakdirkan menjadi orang kaya. Ya, bukan rakyat jelata. Karena pada masa Rasulullah, tidak ada orang miskin dari kalangan orang-orang beriman. Apalagi para sahabat.
Semisal Abu Bakar yang kerap membebaskan budak kaum kafir Quraiys, Bilal salah satunya. Lalu, kemampuan sahabat-sahabat dalam berinfaq, zakat serta sadaqoh yang nilainya tidak tanggung-tanggung.
Mereka berani mengeluarkan separuh, sepertiga, bahkan seluruh harta mereka di jalan Allah, untuk mengembangkan Islam. Inilah yang membuat Islam jaya pada masa itu. Sedangkan kita, masih pilih kasih antara uang Rp5.000 atau Rp50.000 yang harus masuk kotak amal setiap hari Jumat, sepekan sekali.
Seorang Jusuf Kalla sadar betul hal tersebut. Dia tahu kalau sebagian umat Islam lebih rela mengeluarkan uang Rp50.000 untuk belanja atau nongkorong di cafe. Karena itulah dia memberikan sumbangsih ide agar kami di jajaran pengurus DMI memikirkan cara agar Islam bangkit lewat masjid.
Pak JK sebagai pembisnis kawakan juga pasti sudah hatam sebuah prinsip, kalau mau kaya bukan menjadi pekerja, tapi berwirausaha. Karena itulah ISYEF didirikan sebagai unit usaha. Para pemuda yang menjadi penggawanya, mereka yang masih tertarik untuk berpikir ke depan melalui cara inovatif.
Bukankah ke fakiran dekat sekali dengan kekafiran? Di sana Pak JK berpesan, kekuatan ekonomi dapat membangun sebuah agama.
Coba bayangkan, ada sekitar 800.000 - 900.000 masjid di Indonesia ini. Bila separuhnya saja bisa produktif dalam meningkatkan ekonomi, serta mencetak kader-kader pengusaha muda, Indonesia pasti bukan lagi sekadar negara yang dijuluki mayoritas Islam saja, tapi akan setara, bahkan melebihi kemakmuran Arab Saudi.
Ditambah lagi keberadaan kotak amal. Ya, kotak dengan lubang kecil di atasnya, seperti celengan. Kata Pak JK tidak ada negara lain seperti Indonesia yang membudayakan kotak amal di setiap masjidnya.
Ya, bisa jadi negara tersebut sudah maju atau memang rumah ibadah tersebut diprakasai pemerintah. Tapi, kotak amal yang familiar bagi kita, ternyata punya makna besar dari sudut pandang Kalla.
Dengan kotak amal saja, umat Islam sebenarnya mampu memakmurkan sebuah rencana pembangunan berbiaya tinggi. Mulai dari renovasi hingga pembangunan masjid bisa rampung dengan bermodal kotak amal.
Inilah modal lain yang jarang disadari, yakni solidaritas. Bagaimana jadinya kalau potensi-potensi tersebut dikelola dengan baik untuk kemakmuran orang-orang sekitar.
Itulah yang disinggung Pak JK di Masjid Al-Azhar Indonesia Jakarta pada Agustus 2016 lalu. Peran masjid sebagai ruang interaksi sosial kerap dilupakan, karena jemaah hanya datang untuk melakukan shalat. Seolah memikirkan surga dan neraka untuk dirinya saja. Sehingga, perubahan ekonomi, moral serta pendidikan agak dihiraukan.
Sumber: Jusuf Kalla Kembali ke Masjid (2019)(bal)