Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 05 Juni 2026
home masjid detail berita

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Menurut Sejumlah Ulama

tim langit 7 Selasa, 31 Desember 2024 - 18:30 WIB
Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Menurut Sejumlah Ulama
LANGIT7.ID-Jakarta; Tahun Baru Masehi sudah biasa diperingat banyak orang termasuk umat Islam. Bagaimana sesungguhnya hukum merayakan tahun baru Masehi?

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, dalam tausiyahnya yang ditayangkan dalam kanal Youtube Dakwah Singkat Padat, menjelaskan dalam Al-Qur’an, penghitungan (hisab) tahun sudah dijelaskan yakni menggunakan Syamsiah (matahari) dan Qomariah (bulan).

“Misal kamu ahli falak, itu pasti tahu kalau matahari dan rembulan dibikin Allah itu ‘Assyamsu wal qomaru bikhusban’, bahwa matahari dan rembulan dibikin untuk dihisab,” papar kiai asal rembang Jawa Tengah ini.

Baca juga: Akhir Tahun, Momen Tepat untuk Muhasabah Diri dengan Bertobat

Menurutnya, sehingga betul “syamsiah (matahari) bisa dihitung menjadi tahun Syamsiah, yang oleh bahasa milenial disebut Masehiah.

Situasi tersebut membuat khalifah Umar bin Khattab agak tersinggung, kata Gus Baha. "Karena penanggalan berdasarkan Syamsiah (matahari) sudah lebih dulu dipakai kelompok di luar Islam diberi nama Masehiah".

Secara tegas, Gus Baha juga menjelaskan bahwa dalam hisab (penghitungan) tahun itu tidak ada hubungannya dengan Masehi maupun Hijriah. Dalam penghitungan tahun itu rujukannya berdasarkan pada Syamsiah dan Qomariah.

“Sebenarnya yang namanya hisab itu tidak ada hubungannya dengan Masehi dan Hijriah, itu tidak ada. Semua berdasar pada matahari dan rembulan,” tegasnya.

“Lha sialnya, yang Syamsiah ini sudah dibikin oleh bahasa internasionalnya disebut Masehiah. Makanya Sayyidina Umar marah, terus bilang, ya sudah kalau gitu Qomariyah bikin hijriah. Dan itu sebenarnya politik,” jelas Gus Baha.

Sebenarnya, kalau mau objektif, yang menjadi ukuran penanggalan ya Syamsiah dan Qomariyah. “Berhubung ini (Syamsiah) sudah diambil tetangga, akhirnya ya kira-kira begitu. Akhirnya kita namai Hijriah,” ujar kyai yang selalu tampil sederhana itu.

“Sebetulnya yang asli ya Syamsiah Qomariah. Tapi gak apa apalah. Dunia itu pasti ada politiknya,” tandasnya.

Maka disimpulkan itulah awal mula ada tahun masehi dan hijriah, yaitu pada kepemimpinan Khalifah Sayyiduna Umar. Bagaimana Menyikapi Perayaan Tahun Baru Masehi Ini?

Baca juga:3 Ayat Al-Quran tentang Muhasabah di Akhir Tahun

Umumnya ulama, menyarankan umat Islam menghindari perayaan tahun baru Masehi. Yang berpendapat demikian antara lain KH Yahya Zainul Ma’arif Jamzuri alias Buya Yahya.

Dalam sebuah ceramahnya yang beredar di YouTube, Buya Yahya menyebutkan bahwa perayaan tahun baru Masehi ini hendaknya dihindari karena budayanya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

Buya Yahya menyebutkan, umat Islam hendaknya tidak melakukan perayaan tahun baru Masehi karena biasanya hal-hal yang dilakukan dalam perayaan tersebut justru dapat menjerumuskan pada maksiat, seperti berhura-hura dan berfoya-foya.

Ditegaskannya, banyak yang merayakan ini orang di luar Islam karena bangga dengan tahun baru mereka dan ada kemaksiatan di dalamnya.

Buya Yahya menegaskan, mengikuti budaya-budaya kafir itulah yang tidak diperkenankan. Buya Yahya juga mengatakan, kebiasaan mengikuti budaya non-Muslim diakibatkan oleh lemahnya pendirian seorang muslim.

"Beberapa umat muslim tampak bersuka cita merayakan tahun baru Masehi, namun tidak dengan tahun baru Hijriyah yang merupakan tahun Islam," ujarnya.

Tradisi

Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr (wafat 2006 M) dalam kompilasi fatwa ulama Al-Azhar beliau menyatakan:

“Kaisar Rusia, Alexander III pernah mengutus seorang tukang emas ‘Karl Fabraj’ guna membuat topi baja untuk istrinya pada tahun 1884 M. Proses pembuatannya berlangsung selama 6 bulan. Topi itu ditempeli batu akik dan permata. Warna putihnya dari perak dan warna kuningnya dari emas."

Baca juga: Nasihat Bijak Para Ulama untuk Muhasabah Akhir Tahun

"Di setiap tahunnya ia menghadiahkan topi serupa kepada istrinya hingga kemudian istrinya ditumbangkan oleh pemberontakan kelompok komunisme pada tahun 1917 M.

"Mulanya acara ini merupakan suatu perayaan ‘Sham Ennesim’ (Festival nasional Mesir yang menandai dimulainya musim semi) yang merupakan tradisi lokal Mesir lantas berubah menjadi tradisi keagamaan."

"Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim? Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.”

Selaras dengan fatwa yang dirilis oleh Mufti Agung Mesir itu, ulama pakar hadits terkemuka asal Haramain, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 2004 M) dalam kitabnya "Mafahim Yajibu an Tushahihah" menegaskan:

“Sudah menjadi tradisi bagi kita berkumpul untuk menghidupkan berbagai momentum bersejarah, seperti halnya Maulid Nabi, peringatan isra mi’raj, malam nishfu sya’ban, tahun baru hijriyah, nuzulul Qur’an dan peringatan perang Badar."

"Menurut pandanganku, peringatan-peringatan seperti ini merupakan bagian daripada tradisi, yang tidak terdapat korelasinya dengan agama, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang disyariatkan ataupun disunahkan. Kendati demikian, juga tidak berseberangan dengan dasar-dasar agama, sebab yang justru mengkhawatirkan ialah timbulnya keyakinan terhadap disyariatkannya sesuatu yang tidak disyariatkan.”

Sudah Dimulai Sebelum Nabi Isa

Perayaan malam tahun baru Masehi sudah dimulai sekitar 200 SM dan dipelopori oleh masyarakat Mesopotamia. Perayaan ini dilakukan karena saat itu belum ada kalender Masehi sehingga mereka menggunakan patokan pergantian tahun ialah saat matahari tepat berada di atas khatulistiwa.

Jika dihitung dengan kalender Masehi sekarang, tepatnya pada tanggal 20 Maret. Nah, perayaan tradisional seperti itu disebut Nowruz atau tahun baru Persia yang menandakan hari pertama musim semi.

Biasanya dirayakan sekitar tanggal 21 Maret dan saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah. Perayaan ini dilakukan dengan membersihkan dan menghias rumah, serta menyiapkan berbagai makanan dan minuman.

Selain itu, perayaan pergantian tahun di seluruh dunia juga ditandai dengan peristiwa yang berbeda. Misalnya di China, pergantian tahun ditandai dengan munculnya bulan baru kedua setelah titik balik matahari pada musim dingin.

Sementara masyarakat Babilonia merayakan tahun baru dengan festival keagamaan besar-besaran yang disebut “Akitu”. Di Mesir, tahun baru dimulai dengan banjir tahunan Sungai Nil.

Masa Kaisar Romawi

Pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Julius Caesar, perayaan tahun baru untuk pertama kalinya dilakukan pada 1 Januari. Tepatnya adalah 1 Januari 46 SM.

Waktu itu, penanggalan Romawi yang sebelumnya dibuat oleh Romulus pada abad ke-8 mengalami pergantian. Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan atau 304 hari dan dimulai pada bulan Maret ini kemudian ditambahkan bulan Januarius dan Februarius.

Saat ini, kita mengenalnya dengan Januari dan Februari. Saat Julius Caesar membuat penanggalan baru ini, ia dibantu oleh seorang ahli astronomi asal Mesir bernama Sosigenes.

Penanggalan baru tersebut dibuat berdasarkan revolusi matahari seperti yang sudah dilakukan oleh bangsa Mesir kuno. Nah, setelah itu, 1 Januari ditetapkan sebagai hari pertama tahun.

Setiap tahunnya terdiri atas 365 seperempat hari. Nama Januari itu diambil dari nama dewa mitologi kuno Romawi, yaitu Dewa Janus yang punya dua wajah menghadap depan dan belakang.

Menurut mitologi Romawi, Dewa Janus diyakini sebagai dewa permulaan dan penjaga pintu masuk. Untuk menghormati Dewa Janus, pada setiap tanggal 31 Desember tengah malam, bangsa Romawi mengadakan perayaan untuk menyambut 1 Januari.

Bangsa Romawi kuno merayakan tahun baru dengan mempersembahkan korban kepada Dewa Janus dan mengadakan pesta. Jadi, sebenarnya 1 Januari itu belum masuk tahun Masehi.

Julius Caesar waktu itu setuju untuk menambahkan 67 hari di tahun 45 SM. Selanjutnya, 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Julius Caesar juga memerintahkan untuk menambah satu hari setiap empat tahun sekali, tepatnya pada bulan Februari. Penanggalan ini dikenal dengan Kalender Julian yang diambil dari nama Julius Caesar.

Dimulai Sejak Kelahiran Isa Al Masih

Jika 1 Januari belum menandakan dimulainya tahun Masehi, lalu kapan tahun Masehi mulai diterapkan? Kalender Masehi itu dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret.

Penanggalan ini awal mulanya diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8. Seiring berjalannya waktu, Kalender Julian dikembangkan dan dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian.

Penanggalan menggunakan Kalender Gregorian ini dicetuskan oleh Dr. Aloysius Lilius dengan persetujuan pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII pada tahun 1528.

Sistem inilah yang kemudian digunakan di negara-negara seluruh dunia. Sejak saat itu, setiap tanggal 31 Desember dilakukan perayaan malam pergantian tahun atau malam tahun baru.

Jadi tahun Masehi itu dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih. Tapi penanggalan kalendernya tetap menggunakan Kalender Julian yang dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian seperti yang kita kenal sekarang ini.

Karena dirayakan oleh seluruh dunia, beragam tradisi dan pemujaan dalam perayaan tahun baru terus mengalami pergeseran makna. Banyak orang mulai membuat resolusi untuk mengubah kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baik. Namun terburuknya, malam perayaan pergantian tahun ini diisi dengan berbagai kemaksiatan dengan mabuk-mabukan, pesta pesta campur aduk pria dan wanita, serta lainnya.(*)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 05 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)