Hukum merayakan tahun baru masehi 2024 menurut Gus Baha perlu dipahami dengan benar. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan penanggalan Islam berdasar Syamsiah dan Qomariah. Para ulama termasuk Buya Yahya menyarankan menghindari perayaan yang berpotensi mengarah ke maksiat.
Gus Baha mengajak umat Islam menemukan makna ibadah sejati melalui cinta tulus pada Allah. Beliau menekankan pentingnya beribadah tanpa mengharapkan imbalan surga atau takut neraka. Pandangan ini membuka wawasan baru tentang hubungan dengan Allah, menginspirasi banyak orang untuk mengevaluasi niat ibadah mereka. Ceramah ini menjadi pengingat untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan keikhlasan murni.
Gus Baha menyoroti keunikan mukjizat Nabi Muhammad yang bersifat manusiawi dan sederhana. Berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu yang spektakuler, Rasulullah diberkahi dengan keistimewaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari umatnya. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan dakwah Islam, membuat ajaran agama lebih mudah diterima dan dipraktikkan. Pesan utamanya adalah menghargai nilai-nilai praktis dalam beragama dan fokus pada tujuan akhirat.
Kisah Khimar dari zaman Nabi Muhammad SAW memberi perspektif baru tentang ibadah. Meski kontroversial, rajin bersholawat namun jarang shalat bisa jadi pintu hidayah. Gus Baha menekankan pentingnya tidak menghakimi, sambil tetap mendorong ketaatan komprehensif. Refleksi ini mengajak kita memahami kompleksitas perjalanan spiritual setiap individu.