LANGIT7.ID-, Jakarta- - Perdebatan seputar ibadah sering kali memicu kontroversi di kalangan umat Muslim. Salah satu isu yang kerap diperbincangkan adalah mengenai orang yang rajin bersholawat namun jarang menunaikan shalat. Apakah mereka masih mendapat syafaat? Pertanyaan ini dijawab oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha melalui kisah menarik dari masa Nabi Muhammad SAW.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menceritakan sosok bernama Abdullah, yang lebih dikenal dengan panggilan Khimar. Pria ini dikenal sebagai pemabuk yang sering menghabiskan waktu di masjid. Meski perilakunya kontroversial, Khimar memiliki keistimewaan yang membuat Nabi Muhammad SAW selalu tersenyum saat melihatnya.
Gus Baha mengungkapkan bahwa Nabi pernah bertanya kepada Khimar, "Mengapa kamu yang fasik malah berada di masjid, bukan di tempat lain?" Jawaban Khimar mengejutkan: ia mengaku tak sanggup jauh dari Nabi dan merasa gelisah jika tak minum arak.
Meski demikian, Nabi tetap menegakkan hukum Allah dengan memberikan hukuman cambuk kepada Khimar. Namun, yang menarik adalah ketika ada sahabat yang melaknat Khimar, justru Nabi menegurnya. "Jangan laknat dia, karena sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya," ujar Nabi sebagaimana dikutip Gus Baha.
Kisah ini menjadi refleksi menarik bagi kita. Gus Baha menegaskan bahwa orang yang berbuat maksiat tidak selalu berarti membenci Allah dan Rasul-Nya. "Semua kesalahan itu ya kesalahan saja, tapi tidak menjadikan kafir dan bukan berarti kita tidak cinta Allah dan Rasul," jelasnya.
Dalam konteks sholawat dan shalat, Gus Baha berpendapat bahwa orang yang rajin bersholawat meski jarang shalat masih memiliki potensi mendapat hidayah. "Jika seseorang tak pernah bershalawat dan abai shalat, lantas dari mana pintu hidayah akan terbuka untuknya?" tanyanya retoris.
Meski demikian, Gus Baha tidak membenarkan perilaku meninggalkan shalat. Ia hanya menekankan bahwa kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan sholawat bisa menjadi pintu masuk menuju ketaatan yang lebih komprehensif.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menghakimi orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik, dan tugas kita adalah saling mengingatkan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang.
(lam)