LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 memiliki dampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Bahkan angka pengangguran naik karena banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 5 Mei 2021, terdapat 19,10 juta orang (9,30 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (1,62 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (0,65 juta orang), sementara tidak bekerja karena Covid-10 (1,11 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (15,72 orang).
Apalagi memang, kebijakan pemerintah untuk membatasi kegiatan masyarakat juga berakibat pada lapangan kerja yang menjadi sulit didapatkan. Hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi mereka para karyawan yang masih berusia muda, melainkan juga terhadap mereka yang berusia lanjut 50 tahun ke atas.
Lantas bagaimana di usia yang sudah tidak lagi muda ini bisa mendapatkan jawaban terhadap kesulitan ekonomi dikala pandemi seperti ini. Setengah abad, adalah usia yang kebanyakan perusahaan tidak melirik mereka karena tentu penyegaran dalam tubuh perusahaan dibutuhkan.
Berikut nasihat dari Pakar Finansial dan Pelaku Ekonomi Syariah, Adiwarman Azwar Karim di Youtube Smart Skill Skool.
1.
As long as you love what you do, and you do what you loveMenurut Adiwarman, setiap orang yang terus berkembang memiliki kecintaan pada hal baru, termasuk mereka yang berusia 50 tahun. Sebab, manusia terlahir dengan fitrah yang demikian. Manusia memiliki perkembangan yang secara terus-menerus berpengaruh di dalam hidupnya.
“Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak disukainya, maka itu tidak berguna dan hanya membuang-buang waktunya. Maka kita harus nikmati setiap menit waktu pemberian dari Tuhan,” ujarnya.
Aneh, lanjut Adiwarman, jika seseorang menghabiskan waktunya hanya untuk mengeluh. Apalagi tidak bersyukur dan selalu merasa kekurangan.
”Bukankah Allah mengatakan Fabiayyi alaa'i rabbi-kumaa tukadzdzibaan artinya Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan. Covid-19 banyak merenggut nyawa dan juga pekerjaan mereka, tapi kita masih hidup dan diberikan kesehatan, kenapa kita harus mengeluh lagi?” ujarnya.
2. Jatah Rezeki dari Tuhan
Adiwarman mengatakan, setiap orang telah memiliki timeline hidupnya masing-masing. Tuhan telah memberikan mereka jatah rezekinya sesuai dengan ketentuan-Nya.
Namun, memang tidak pernah mengetahui kapan rezeki itu akan diberikan kepada masing-masing hambanya. Sebab, urusan rezeki merupakan rahasia Tuhan.
“
Cash flow ini yang kita tidak pernah tahu kapan kita dapatkan. Ada orang yang baru kaya di umur 50 tahun ke atas. Ada yang baru kaya di umur 36 tahun ke atas. Ada yang kaya di umur muda di usia 20 tahunan tapi jatuh miskin di usia tuanya,” ungkapnya.
Adiwarman menerangkan, dalam takdir ikhtiar ada tiga hal yang menjadi rahasia Tuhan. Pertama, rezeki yang kita tidak tahu kapan datang, dan seberapa besar akan diperoleh. Kedua, jodoh yang juga kita tidak tahu kapan bertemu, dan kapan suatu saat mungkin berpisah. Ketiga, ajal kematian, setiap orang bahkan tidak mengetahui kapan akan meninggalkan dunia ini dan bagaimana caranya.
Tiga hal yang merupakan rahasia Tuhan maka harus disikapi dengan melakukan hal yang terbaik, lalu biarkan Allah yang melakukan sisanya.
“
Do our best and let Allah the rest. Tugas kita adalah melengkapi semua upaya yang ada dan setelah itu serahkan semuanya kepada Tuhan. Kalau kita sudah bertekad melakukan yang terbaik, kemudian berserah dirilah kepada Tuhan,” terangnya.
Begitu juga ketika seseorang yang berusia 50 tahun yang menemukan hal barunya. Perlu ada kecintaan terlebih dahulu dalam hal baru yang ia temui itu, lalu lakukan dengan yang sebaik-baiknya, sehingga akan mengundang pertolongan Allah.
3. Tidak Menyerah dan Tidak Mengeluh
Ajaran Islam mengajarkan tidak ada Tuhan selain Allah yang memiliki sifat Esa. Maka sifat ini akan berlaku pada semua orang, terlepas dari latar belakang agamanya. Menurut Adiwarman, pesan ini datang dari Tuhan yang sama.
“Tidak ada ajaran dalam setiap agama yang mengajarkan ketika seseorang dilanda kesusahan maka kita harus mengeluh dan menyerah, tidak ada,” terangnya.
Adiwarman melanjutkan, hidup ibarat sebuah cermin. Jika seseorang berbuat baik maka hal baik itu akan berbalik kepadanya. Namun, berlaku juga sebaliknya, jika seseorang berbuat hal buruk maka keburukan itu juga akan menimpa dirinya.
Setiap ajaran agama mengajarkan, hidup adalah seperti berjalan di sebuah lorong. Menurut Adiwarman, jika seseorang merasakan kegelapan di tengah lorongnya dan hanya berdiam diri, maka ia akan selama-lamanya tersesat dalam kegelapan tersebut.
“Tapi jika seseorang tetap meneruskan perjalanannya dengan keyakinan bahwa Allah terus bersama, maka ia akan menemukan cahaya diujungnya,” imbuhya.
Adiwarman berpesan, setiap orang tidak boleh memiliki sifat yang mudah menyerah. Sebab, masih ada Tuhan dalam setiap perjalanan panjang hidup seseorang. Selalu berjuang dan nikmatilah hidup.
(zul)