LANGIT7.ID, Lombok - Lalu Ading Buntaran, namanya tidak begitu menggema di Nusantara. Tapi di Nusa Tenggara Barat (NTB), nama Lalu Ading ibarat pahlawan daerah yang merubah perekonomian di wilayah Lombok Tengah khususnya.
Mulanya, Ading hanya dikenal sebagai seorang pemuda yang aktif menyuarakan pembelaannya terhadap masyarakat kecil yang tertindas. Bermodalkan pengalaman sebagai aktivis ini, Ading terpikir untuk mengubah kampungnya di Desa Kateng, Lombok Tengah sebagai ‘Kampung Walet Lombok’.
Kampung walet ini merupakan kampung yang komoditinya adalah sarang walet. Perjuangannya di mulai pada 2008 lalu, biasa turun ke jalan saat menjadi aktivis, Ading juga memulai menjual sarang walet dengan usahanya sendiri menyambangi negara-negara tetangga.
Ia ditemani oleh penerjemah kala itu saat beranjak ke luar negeri. Tidak mudah upayanya menjajakan dagangannya ini, ia melangkahkan kakinya hingga sampai di Malaysia, Singapura dan Cina.
Ading berkisah seperti dikutip dari paragraf.co.id, dulu ia menjual sarang waletnya dengan jumlah satu sampai lima kilogram yang ia bawa sendiri ke Malaysia dan menjualnya di sana. Bahkan kakinya juga menapak hingga Afghanistan dan Palestina.
“Dulu sempat ada satu sampai lima kilo saya bawa sendiri ke Malaysia dan jual di sana. Malah sempat juga sampai ke Afghanistan,” tuturnya.
Tidak ada yang sia-sia, usaha kerasnya ke luar negeri membuatnya kian dikenal oleh pelanggannya di sana. Hingga perjalanan waktunya yang lama, kini Ading tidak lagi menawarkan sarang waletnya, melainkan pasar ekspor mulai mencarinya.
Selain budidaya sarang walet yang dilakukan di rumahnya, Ading yang bermimpi membawa komoditi asal Lombok ini ke pasar internasional, juga bekerja sama dengan warga lokal yang ikut tergerak untuk membudidayakan sarang walet.
Diperkirakan, saat ini terdapat sekitar 356 sarang walet yang dalam produksi tahunannya bisa mencapai 7,12 ton sarang burung walet. Rata-rata produksi yang dihasilkan berkisar 5kg per sarang dan dipanen setiap tiga bulan sekali.
Jika dihitung-hitung, setiap tahunnya pembudidaya sarang walet ini diperkirakan mendapat keuntungan hingga ratusan miliar. Ading mengatakan, jika rata-rata nilai ekspor sarang waletnya Rp35 juta/kg, maka akan menghasilkan Rp20 miliar per bulannya.
Kesuksesannya saat ini menjadikan Ading sebagai Direktur Utama PT Ammar Sasombo Internasional, yang merupakan perusahaan walet asal NTB dengan cakupan pasar internasional. Bahkan perusahaan sarang waletnya, Ammar Sasombo Internasional kewalahan dengan permintaan pasar internasional yang kian meningkat.
Ading tidak hanya mengekspor sarang waletnya sebagai bahan baku jadi saja, perusahaan sarang waletnya ini juga memproduksi olahan dari sarang burung walet, seperti kopi sarang walet, bubur sarang walet, dan sarang walet madu.
Kesuksesan usaha Ading ini menarik perhatian pemerintah daerah juga pusat. Pemerintah mengaku siap membantu mengembangkan usaha Ading sebagai produk nasional yang berhasil menjangkau kebutuhan pasar internasional melalui komoditi sarang waletnya.
Seperti dilansir pada laman disdag.ntbprov.go.id, Kepala Dinas Perdagangan NTB, Fathurrahman beserta tim Bank Indonesia melakukan kunjungan ke Kampung Walet Lombok ini pada 15 Februari 2021 lalu. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dalam rangka Promosi Produk NTB ke Taipei.
Selain karena Taipei sendiri yang memang membutuhkan komoditi sarang walet. NTB juga memiliki peluang besar untuk masuk ke sana karena usaha Ading yang memperkenalkan sarang walet kini sudah dikenal oleh negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Sehingga Ammar Sasombo diyakini mampu menjadi salah satu calon eksportir potensial dari NTB.
Ammar Sasombo yang bergerak dalam peternakan walet pada 2010 lalu itu berdiri di atas lahan 6Ha, dengan 13 bangunan sarang walet. Selain itu, Ading berencana akan mengembangkan Kampung Walet Lombok juga sebagai destinasi eduwisata, yang nantinya akan memberikan edukasi dan wisata terkait budidaya walet di lahan seluas 12 Ha. Termasuk turunannya, seperti kopi walet, herbal walet, madu walet dan bubur walet.
(zul)