LANGIT7.ID, Jakarta - Ada banyak komunitas pengusaha di Indonesia. Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda. Ada komunitas yang diikat karena kesamaan bisnis, komunitas pedagang teknologi, hingga komunitas pedagang otomotif. Ada pula yang dibentuk atas dasar kesamaan hobi. Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) sedikit berbeda. KPMI dibangun karena latar belakang anggota seorang muslim dengan beragam jenis usaha.
Komunitas yang didirikan di Bogor itu berawal dari sebuah website pengusahamuslim.com pada 2005 dan milist pengusahamuslim@yahoogroups.com pada 2008. Laman tersebut dibuat sebagai sarana para pengusaha muslim mendalami akidah Islam dan sesuai syariat Islam dalam bermualah atau dikenal dengan istilah fikih muamalah. Seiring waktu, komunitas itu terbentuk Yayasan Bina Pengusaha Muslim dan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).
Awalnya komunitas ini berdiri atas keprihatinan bahwa mayoritas pengusaha muslim tidak sesukses dengan pengusaha nonmuslim. Tak hanya itu, perekonomian umat Islam terkesan tertinggal, sehingga perlu ada terobosan sebagai upaya peningkatan kualitas para pengusaha muslim.
Banyak perhimpunan hanya memberikan pendidikan kewirausahaan dan keterampilan, namun murni berorientasi dunia. Bahkan, KPMI menyinggung banyak perkumpulan hanya mengusung nama syariah saja, namun tak peduli dengan realisasi syariah dalam menjalankan bisnis. Atas dasar itu, KPMI membawa misi menciptakan suatu upaya membina pengusaha muslim sampai terbentuk pengusaha yang menjalankan agama secara benar, ikhtiar benar, dan benar dalam bermualah. Tentu sesuai dengan sunah Rasulullah SAW.
Maka tak heran, KPMI didirikan dan dibina oleh beberapa ustaz bersama pengusaha muslim yang keinginan kuat menyebarluaskan ilmu tentang kode etik seorang pengusaha muslim. Para ustaz memberikan arahan bagaimana seharusnya seorang pengusaha melaksanakan dan mengelola usaha sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, para sahabat, dan generasi Islam terdahulu agar selamat dunia akhirat.
Selain itu, seperti dilansir dari laman resmi KPMI, komunitas itu berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam menjalankan program serta kegiatan, KPMI selalu berpedoman dan berlandaskan pada Akidah Islam yang lurus dan menjalankan ketentuan-ketentuan sesuai Syari’at Islam, berdasarkan Al Quran dan Hadits yang shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih (ulama-ulama shaleh terdahulu).
Saat ini anggota KPMI tersebar di 35 Korwil, 33 Korwil Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dan 2 Korwil di luar negeri. Anggota KPMI yang terdaftar berjumlah lebih dari 32.000 orang baik yang sudah jadi pengusaha maupun calon pengusaha.
Membina Calon Pengusaha Melalui KPMI Enterpreneur School (KES)Dilansir dari laman konsultasi syariah, KPMI Enterpreneur School (KES) adalah sekolah bisnis yang tak sekedar memberi pemahaman tentang ekonomi dan motivasi bisnis, namun lebih pada pemahaman tentang syariah yang dibutuhkan semua pebisnis. Program tersebut telah mencetak 9 angkatan.
Materi yang disajikan pun beragam. Mulai dari materi syariah sebanyak 60 persen dan bisnis manajemen sebanyak 40 persen. Semua materi disajikan selama 28 sesi pertemuan selama 17 hari.
Materi-materi dalam KES yakni tauhid, aqidah, ushul fiqh, dasar hukum syariah, dasar muamalah maliyah, dan ekonomi syariah. Sementara untuk materi bisnis dan manajemen, meliputi kewirausahaan, perencanaan dan strategi, manajemen keuangan, bisnis ekspor, pemasaran dan legalitas bisnis.
Para pengajar di KES pun diisi oleh orang yang berkompeten di bidangnya. Di antaranya ada Ustaz Kholid Syamhudi. Lc., Ustad DR. Muhammad Arifin Baderi, MA., Ustad Ammi Nur Baits, ST., Lc., Ustad Aris Munandar, SSi., Msi., Ustad Said Yai Ardiansyah, Lc., MA., dan Ustad Muhammad Yasir, Lc.
Sementara materi manajemen bisnis dan sharing bisnis akan disampaikan oleh para praktisi, profesional, dan trainer manajemen bisnis yakni Fadil Basymeleh (Owner Zahir Accounting, pendiri KPMI), Drs. Rachmat S. Marpaung, MSc., CSE., GPHR., NLP., CHt., CH. (Pengusaha, fasilitator manajemen bisnis dan SDM), Ir. Nursyamsu Mahyuddin, MSi (Pengusaha, fasilitator Bisnis Ekspor), Remmy Arizza Balaga, SH., MH. (Lawyer), Yogi Widianto S.Si (Owner Arsul Consulting), Anang Prajangka (Pengusaha), dan Darryl Hariananda (Eksekutif keuangan perusahaan).
Sekolah tersebut terbuka untuk semua muslim, terutama para pengusaha dan aktivis bisnis. Baik anggota KPMI yang sudah registrasi atau para pengusaha muslim nonanggota yang memiliki komitmen untuk memahami ekonomi syariah dengan sebenarnya.
Aktif Mengkaji Fikih MuamalahKPMI juga aktif memberikan kajian seputar fikih muamalah. Semua materi tersebut bisa diakses melalui akun media sosial seperti akun instagram @kpmiofficial atau akun Youtube KPMI TV. Mereka juga aktif membagikan kajian melalui akun Facebook dan Twitter.
Ada beberapa kajian terkait fikih muamalah seperti ‘riba dalam jual beli’, ‘pentingnya akad dalam sebuah bisnis’, hingga ‘membuat laporan semudah tersenyum. Ada juga kajian seputar pengantar fikih muamalah seperti Fiqh Buyu’ Kitab Syahrul Mumti karya Syekh Utsaimin. Ada pula kajian dari Ustaz Syafiq Basamalah dan pembina KPMI Ustaz M. Abduh Tuasikal.
Selain itu KPMI, akan terus berupaya memberikan sumbangsih kepada umat. Tidak hanya dakwah dengan berbagai kajian fikih muamalah maupun kajian tauhid, kegiatan seputar entrepreneurship, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan startup juga dilakukan. Komunitas itu juga memiliki kelas Properti, Bengkel Bisnis, Ngobrol Bisnis, kelas Internet Marketing, networking hingga kelas ekspor.
KPMI juga menggagas wakaf produktif sebagai upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Melansir Antara, Ketua KPMI Koordinator Wilayah Surabaya, Nanang Kosim di Surabaya, mengatakan, wakaf produktif jika diimplementasikan bisa menjadi upaya berkelanjutan bagi kesejahteraan umat.
Dia menyebut, wakaf produktif telah terbukti mampu menjadi instrumen kesejahteraan. Sebab model wakaf produktif bukan hanya sekedar pembangunan fisik bangunan namun ada aktivitas pengumpulan wakaf yang bermanfaat. "Kalau dulu wakaf produktif untuk bangunan dan sebagainya, ini akan terus tumbuh dan dikembangkan," kata dia.
(sof)