LANGIT7.ID-Islam pernah memiliki tokoh perjuangan pada sosok Shalahuddin Al-Ayyubi. Sebagai tokokh perjuangan yang berhasil membawa kembali Baitul Maqdis ke pangkuan Islam pada 1187, Shalahuddin memiliki sifat-sifat terpuji.
Sifat-sifat tersebutlah yang membuat teladan kepemimpinannya patut ditiru sampai hari ini. Tokoh yang gagah berani, tapi berintegritas.
Apa saja sifat Shalahuddin Al-Ayyubi yang bisa diteladani? Dikutip dari mahadalyjakarta.com, berikut uraiannya:
1. Taat kepada agama (spiritulitas)Tentang ketataan kepada agama atau memiliki spiritulitas tinggi dikisahkan orang yang pernah hidup dengannya, yaitu Al-Qadhi Bahauddin yang dikenal dengan Ibnu Syaddad. Dalam kitab Sirah Shalahuddin dikisahkan begini:
“Shalahuddin berakidah baik dan banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dia mengambil akidah ini dengan belajar kepada para ulama senior dan ahli fikih, misalnya Syaikh Quthnuddin An-Naisaburi menyusun untuknya informasi komprehensif mengenai pokok-pokok akidah.
Dia sangat peduli untuk mengajarkan akidah ini kepada anak-anaknya yang masih kecil agar mereka menghafalnya sejak kecil. Saya melihatnya ketika sedang mengajari mereka. Mereka membacakan teks akidah itu dihadapannya.
Mengenai shalat, dia sangat tekun mengerjakannya tepat waktu dan berjamaah. Dia juga rajin mengerjakan shalat sunnah rawatib. Kemudian mengenai zakat, dia meninggal tanpa memiliki harta dalam jumlah minimal yang harus dizakati.
Mengenai sedekah kepada fakir miskin. Dia mengeluarkan semua harta kekayaannya untuk mereka. Ketika wafat, dia tidak menentang syariat Islam di kerajaannya.
Dia juga selalu berbaik sangka, berlindung dan bertaubat kepada Allah SWT. Ketika mendengar berita bahwa musuh menyerang kaum muslim, dia menyungkurkan diri ke tanah untuk bersujud kepada Allah SWT.
Dia memanjatkan doa berikut: ‘Ya Allah SWT, telah habis sebab-sebab duniawi dalam menolong agama-Mu. Tiada yang tersisa kecuali memohon pertolongan-Mu, berpegang pada tali-Mu, dan bersandar pada kemurahan-Mu. Cukuplah Engkau menjadi penolongku dan sebaik-baik pelindung.’"
2. Adil dan penyayang Di antara yang menunjukkan keadilannya, dia berdiri di samping rivalnya dalam pengadilan tanpa rasa malu atau terhina, karena menurutnya kebenaran adalah lebih berhak untuk diikuti.
Seorang pedagang bernama Umar Al Khallathi mendakwa Shalahuddin telah mengambil salah seorang budaknya yang bernama Sanqar dan secara zalim telah mengambil hartanya. Ketika pedagang itu menyampaikan gugatannya kepada Al Qadhi Ibnu Syaddad, Shalahuddin sabar dan rela menjadi terdakwa.
Kedua belah pihak menghadirkan saksi-saksi dan bukti-bukti mereka. Akhirnya Al Qadhi mengetahui bahwa pedagang itu berdusta dan dakwaannya kepada Shalahuddin palsu. Meskipun demikian, Shalahuddin tidak ingin pedagang itu keluar dengan tangan hampa. Dia memberinya sejumlah uang untuk menunjukkan kemurahannya, padahal bisa saja dia menghukumnya.
3. Pemberani dan penyabar Sosoknya tidak seperti raja dan komandan perang lainnya yang duduk-duduk di atas singgasana dan hanya mengeluarkan perintah kepada prajurit mereka untuk pergi berperang.
Apabila para prajurit itu menang, mereka akan menjadi juara. Namun apabila para prajurit itu kalah, mereka aman di markas besar mereka.
Shalahuddin tidak seperti para raja dan komandan perang itu karena dia biasa di barisan pertama ketika ingin menyerang musuh dan keluar bersama pasukannya untuk mengiringi mereka ke medan perang. Dia bahkan ikut merasakan risiko dan kemelut perang bersama pasukannya.
4. Pemaaf Dia selalu menghadapi perlakuan buruk dengan perlakuan baik dan kekasaran dengan kesabaran. Misalnya Ibnu Syaddad menceritakan bahwa orang-orang datang berdesak-desakan ke Shalahuddin untuk menyampaikan keluhan mereka.
Sebagian mereka menginjak ujung pakaiannya dan karpet tempat ia duduk. Akan tetapi ia tidak emosi, tetap memperhatikan keluhan mereka, dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan mereka. Meskipun sebagian dari mereka berkata kasar dan dengan nada tinggi, dia menerima kata-kata mereka.
Pada suatu hari, Al Qadhi Ibnu Syaddad menunggangi keledainya dan melewati Shalahuddin. Hari itu hujan turun dengan deras.
Keledai tadi memerciki pakaian Shalahuddin dengan lumpur hingga mengotorinya. Akan tetapi, dia tidak mengizinkan Ibnu Syaddad memojok karena malu. Shalahuddin tersenyum kepadanya untuk menghilangkan rasa malunya.
5. Toleran Amir Ali mengutip dari sejarawan Inggris, Mill, “Sekelompok orang Kristen yang meninggalkan Yerusalem pergi ke Antiokhia yang dikuasai oleh orang Kristen juga. Ternyata pemimpin kota itu tidak mau menerima kedatangan mereka. Dia bahkan mengusir mereka. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke negeri-negeri Muslim. Mereka pun disambut dengan penuh kebaikan.”
Al Qadhi Ibnu Syaddad juga menceritakan kisah yang memperlihatkan toleransi dan keperwiraan Shalahuddin. Dia berkata, “Ketika raja Inggris Richard The Lionheart musuh terbesar Shalahuddin sakit, Shalahuddin menanyakan kesehatannya dan mengirimkan buah-buahan dan es kepadanya. Pasukan Salib yang tertimpa kelaparan, kelemahan, dan musibah merasa heran terhadap toleransi dan belas kasihan dari musuh mereka.
6. Mecintai seni Ibnu Syaddad menceritakan bahwa Shalahuddin suka bergaul, berakhlak mulia, bisa bercanda, hafal genealogi bangsa Arab dan peperangan mereka, mengetahui biografi dan keadaan mereka, memelihara asal-usul kuda mereka, serta mengetahui cerita-cerita dongeng.(*)
(hbd)