Oleh: Alfin Kurniawan
LANGIT7.ID–Dalam bentangan lanskap kepemimpinan Indonesia, tidak banyak sosok yang mampu memadukan ketegasan intelektual, keluasan jejaring organisasi, dan kerendahan hati dalam satu tarikan napas. Nama Muhadjir Effendy adalah satu dari sedikit tokoh yang berhasil menjaga harmoni tersebut. Jejak pengabdiannya panjang, rapi, dan konsisten; mengalir dari ruang aktivisme mahasiswa, merimbun dalam dunia akademik, mengakar kuat di Muhammadiyah, hingga dipercaya mengemban amanah penting di pemerintahan. Semua fase itu dijalaninya dengan ritme yang tenang, tanpa sensasi, dan tanpa ambisi mencari sorotan publik.
Fondasi kepemimpinan Muhadjir dapat ditelusuri sejak masa mudanya sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam. Dari ruang-ruang diskusi yang sarat dinamika hingga proses pengambilan keputusan yang menguji integritas, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar memenangkan suara, tetapi menjaga marwah nilai. Perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sumber kebijakan yang matang. Energi intelektual dan nalar kritis yang tumbuh dari masa itu terus mengalir, mewarnai setiap keputusan dan sikapnya di kemudian hari.
Perjalanan panjangnya di dunia akademik semakin meneguhkan karakter tersebut. Muhadjir dipercaya memimpin Universitas Muhammadiyah Malang selama tiga periode berturut-turut, sebuah mandat yang jarang diberikan kepada satu orang sepanjang sejarah universitas. Kepercayaan itu lahir dari integritas, konsistensi, dan visi pendidikan yang jauh ke depan. Bagi Muhadjir, memimpin universitas bukan hanya soal administrasi atau tata kelola, tetapi tentang membangun ekosistem ilmu yang sehat. Ia menciptakan ruang intelektual yang subur, menanamkan nilai kebangsaan yang berakar pada etika, dan memosisikan perguruan tinggi sebagai taman gagasan tempat pemikiran besar bertumbuh dan berpengaruh hingga jauh ke masa depan.
Keterlibatannya yang panjang di Muhammadiyah memberikan warna yang lebih halus namun sangat mendalam bagi karakter kepemimpinannya. Tradisi pengabdian, kerja nyata, budaya kesahajaan, dan keteguhan dalam nilai menjadikan Muhadjir sebagai pribadi yang matang sekaligus membumi. Ia mempraktikkan filosofi bahwa pengabdian terbaik sering kali bekerja dalam sunyi, tidak selalu tampak, tetapi memberi solusi nyata. Melalui berbagai amanah yang diembannya, prinsip itu terlihat jelas. Ia bekerja tanpa riuh, bergerak tanpa sorotan, tetapi hasilnya konkret dan bertahan lama.
Ketika kemudian dipercaya memikul tanggung jawab besar dalam pemerintahan, seluruh nilai itu ia bawa ke ruang publik yang lebih luas. Muhadjir hadir dengan gaya kepemimpinan yang stabil dan penuh pertimbangan sosiologis. Dalam berbagai kebijakan, tampak kepekaannya membaca persoalan riil masyarakat. Pendekatannya humanis, berbasis analisis sosial, dan tidak terjebak pada retorika politik. Ia memperlihatkan bahwa kepemimpinan nasional tetap dapat dijalankan dengan akhlak, ketenangan, dan visi jangka panjang, bukan semata-mata dengan otoritas kekuasaan.
Kredibilitas publik Muhadjir semakin kokoh ketika Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melantiknya sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji pada Oktober 2025. Penunjukan ini bukan sekadar jabatan baru, melainkan pengakuan atas kapasitasnya membaca persoalan sosial, kemampuan manajerial, serta pengalamannya memimpin kementerian sejak 2016. Sebelum jabatan tersebut, ia pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pelaksana Tugas Menteri Sosial, serta Pelaksana Tugas Menteri Pemuda dan Olahraga. Konsistensi pengabdiannya menjadikan dirinya salah satu tokoh yang paling dipercaya dalam urusan kemanusiaan, pendidikan, dan pembangunan sosial.
Sosok kelahiran Madiun, 29 Juli 1956, ini menempuh pendidikan dasar hingga PGAN enam tahun di daerah asalnya sebelum melanjutkan studi ke IAIN Malang dan menyelesaikan gelar Sarjana Muda pada 1978. Ia kemudian menuntaskan sarjana di IKIP Negeri Malang pada 1982, meraih Magister Administrasi Publik dari Universitas Gadjah Mada pada 1996, dan menyelesaikan pendidikan doktor bidang sosiologi militer di Universitas Airlangga pada 2008. Selain itu, pengalamannya diperkaya oleh berbagai kursus luar negeri, termasuk di
National Defence University di
Washington, D.C. dan
Victoria University di
British Columbia, Kanada.
Pengabdiannya di Muhammadiyah juga panjang dan berlapis. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Ketua Badan Pendidikan Kader Angkatan Muda Muhammadiyah, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, serta pimpinan berbagai lembaga strategis di bawah Majelis Dikti dan Litbang. Saat ini ia dipercaya menjadi Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal. Seluruh perjalanan itu menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak lahir instan, tetapi tumbuh dari tradisi pengabdian yang panjang, sabar, dan konsisten.
Seluruh rekam jejak tersebut menjadikan dirinya bagian penting dari upaya membangun Indonesia Emas. Ia memandang pendidikan sebagai poros peradaban dan perguruan tinggi sebagai wahana melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan berkarakter. Melalui kepemimpinan yang senyap namun kuat, Muhadjir menunjukkan bahwa perubahan besar berangkat dari nilai yang kokoh dan kerja yang berkelanjutan, bukan dari ambisi yang gaduh.
Generasi hari ini dapat memetik pelajaran bahwa karier tidak harus dibangun dengan keinginan untuk terlihat, tetapi dengan ketekunan menjaga nilai. Kedewasaan sikap jauh lebih penting daripada popularitas sesaat. Yang terpenting, jabatan hanyalah alat pengabdian, bukan mahkota kebanggaan. Di tengah laju zaman yang serbacepat dan dipenuhi hiruk-pikuk pencitraan, teladan seperti ini terasa semakin langka. Dari sosok Muhadjir Effendy, kita belajar bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang besar karena karya, bukan karena sorotan. (Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta)
(lam)