LANGIT7.ID-Jakarta; Di tengah fluktuasi ekonomi global dan nasional, investasi emas semakin diminati masyarakat Indonesia sebagai instrumen perlindungan nilai. Terbukti dari lonjakan signifikan produk pembiayaan emas Syariah (iB) di BCA Syariah yang mencapai pertumbuhan 198,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang 2024.
Peningkatan literasi finansial menjadi faktor utama di balik pertumbuhan pesat produk pembiayaan emas BCA Syariah. Meski harga emas terus naik, masyarakat justru semakin antusias berinvestasi, membuktikan bahwa edukasi tentang ketahanan nilai emas sebagai instrumen jangka panjang telah berhasil diserap dengan baik.
Baca juga: BCA Syariah Ekspansi ke Bank Bullion? Ini Kata PresdirNilai pembiayaan emas iB BCA Syariah melonjak dari Rp51,5 miliar pada 2023 menjadi Rp153,8 miliar pada 2024, menjadikannya produk dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan produk konsumer lainnya seperti KPR yang tumbuh 73,4 persen yoy, sementara pembiayaan kendaraan bermotor justru mengalami kontraksi 1,1 persen yoy.
"Jika kita lihat dari jumlah nasabah, yang menyumbang nasabah baru BCA Syariah, maka dari jumlah rekening termasuk peningkatan yang cukup besar, yaitu dari emas. Ini adalah cicilan emas atau murabahah emas," ungkap Direktur BCA Syariah, Pranata di Kantor BCA Syariah, dikutip Minggu (2/3/2025).
Strategi penetapan margin menjadi kunci sukses BCA Syariah dalam mendorong pertumbuhan pembiayaan emas. Pranata menegaskan bahwa margin pembiayaan emas di BCA Syariah ditetapkan jauh di atas kenaikan harga emas itu sendiri, memberikan insentif bagi masyarakat untuk segera berinvestasi. "Masyarakat saat ini semakin teredukasi mengenai potensi emas yang menjadi instrumen andal dalam jangka panjang. Apalagi margin BCA Syariah sangat bagus," jelasnya.
Baca juga: BCA Syariah Bukukan Pertumbuhan Pembiayaan Hijau 4,3% pada 2024, Fokus Kembangkan Layanan DigitalAksesibilitas produk melalui digitalisasi juga mendukung pertumbuhan pembiayaan emas. Direktur Utama BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, menjelaskan bahwa nasabah dapat mengakses layanan pembiayaan emas melalui aplikasi mobile banking terbaru mereka, BSya. "Kemarin di 2024, belum terlalu banyak yang menggunakan BSya untuk pembiayaan emas. Sebagian besar didorong ketika ada Expo BCA karena banyak promo. Jadi ke depannya, seharusnya lebih besar dari sekarang," kata Yuli.
BCA Syariah juga berencana meluncurkan produk tabungan emas melalui mobile banking dengan kerja sama pihak ketiga yang ditargetkan rilis tahun ini.
Terkait kemungkinan mengajukan izin usaha Bulion kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yuli menyatakan pihaknya masih mempelajari pasar dan mempersiapkan infrastruktur kelembagaan yang diperlukan. "Secara kelembagaan, kami harus memiliki audit emas sendiri, manajemen risiko untuk emas itu sendiri, dan sebagainya. Itu tentu tidak mudah dan kami harus merencanakan sebaik mungkin," tegasnya.
Baca juga: Laba Bersih BCA Syariah Melesat 19,5% pada Tahun 2024Sebagia informasi, industri pembiayaan emas syariah di Indonesia semakin berkembang ditandai dengan peresmian layanan bank emas Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) oleh Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Kedua lembaga keuangan ini menjadi pionir dalam ekosistem bank emas nasional dengan izin usaha Bulion dari OJK.
Pegadaian mendapat restu regulasi sejak Desember 2024 untuk layanan simpanan emas, pinjaman modal kerja berbasis emas, hingga perdagangan logam mulia. Sementara BSI baru mengantongi izin pada Februari 2025 dengan fokus pada layanan penyimpanan dan perdagangan emas. Perkembangan ini menjadi sinyal positif bagi BCA Syariah dalam mengembangkan portofolio pembiayaan emasnya di masa depan.
(lam)