LANGIT7.ID-Jakarta; PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menghadirkan inovasi baru berupa ATM Emas yang memungkinkan nasabah membeli emas batangan dengan denominasi kecil secara praktis. Terobosan ini muncul setelah BSI resmi ditunjuk pemerintah sebagai operator Bullion Bank bersama Pegadaian.
Hal tersebut disampaikan pada acara buka puasa bersama dan charity yang diselenggarakan Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) berlangsung meriah di Jakarta, Jumat (7/3/2025). Hadir dalam acara tersebut Komisaris Utama BSI Muliawan Hadad, jajaran direksi, dewan pengawas BSI, serta puluhan editor in chief dari berbagai media nasional.
Baca juga: BSI Targetkan Aset Rp500 Triliun Tahun Ini, Ekspansi Digital Jadi Kunci"Misalnya nanti ada 50 titik di mana kita tempatkan ATM Emas. Jadi kalau misalnya bapak ibu sedang jalan ke Senayan City misalnya, awalnya ada uang lebih, saya mau beli. Dari kantornya dekat ke ATM Emas," ujar CEO BSI, Hery Gunardi, dalam pertemuan dengan media di Jakarta. Inovasi ini memungkinkan nasabah membeli emas batangan dengan denominasi kecil mulai dari 5, 10, 15, 20, hingga 25 gram melalui mesin ATM khusus.
Saat ini, BSI telah mengelola sekitar 17,5 ton emas milik nasabah yang bernilai sekitar Rp25 triliun. Jumlah ini berpotensi bertambah signifikan mengingat terdapat sekitar 1.800 ton emas yang beredar di masyarakat Indonesia, dengan separuhnya berupa perhiasan dan emas batangan.
Strategi Pengembangan Bisnis EmasUntuk memaksimalkan potensi bisnis emas, BSI menerapkan beberapa strategi utama. Pertama, pengembangan BSI Emas Digital melalui aplikasi BYOND yang memungkinkan nasabah berinvestasi emas secara digital. Kedua, perluasan jaringan BSI Gold yang menawarkan emas fisik dengan logo BSI yang dapat dibeli di cabang-cabang tertentu.
"BSI Gold itu sudah ada emas. Jadi didesain dengan logo BSI. Bapak ibu bisa datang ke cabang ya. Jadi tadi kayak misalnya kalau mau beli datang ke cabang BSI, ditunjuk. Mau beli 100 gram, 1 kilo pun bisa," jelas Hery.
Potensi Peningkatan DPK dari Bisnis EmasHery optimis bahwa bisnis emas akan menjadi
game changer bagi pertumbuhan BSI ke depan. Jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin, nilai emas yang dikelola BSI berpotensi menjadi tambahan Dana Pihak Ketiga (DPK).
"Dan itu kalau nanti OJK berbaik hati ini jadi DPK, nilainya mungkin sekitar 25 triliun. Jadi DPK BSI semata-mata akan lagi 25 triliun. Sekarang, sekarang apa nih? Jadi luar biasa kita melihat emas ini, bisnis emas ini akan menjadi game changer buat kita di bangsa ria Indonesia," ujar Hery.
Selain bisnis emas, BSI juga terus mengembangkan tabungan haji yang telah terbukti menjadi sumber DPK yang stabil. Pada Januari lalu, BSI berhasil mengumpulkan hampir Rp1 triliun tabungan haji dalam sebulan, yang jika diproyeksikan selama setahun dapat mencapai Rp12 triliun.
(lam)