Kolom Hikmah Petunjuk-Nya: Berbagi Rizki Antara Kebutuhan Pribadi dan Kepedulian Sosial
tim langit 7Rabu, 26 Maret 2025 - 11:47 WIB
LANGIT7.ID-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan tentang penggunaan rizki yang kita miliki. Haruskah rizki itu digunakan untuk kepentingan diri sendiri atau dibagikan kepada mereka yang membutuhkan? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti sekarang.
Pengamanan diri sendiri memang sangat perlu karena jika dalam diri sendiri tidak ada pengamanan, kita bisa terjebak dalam kesulitan. Namun, penting juga untuk diingat bahwa rizki yang ada pada diri kita perlu dibagi. Hal ini karena Tuhan memberikan rizki lewat diri kita dengan tujuan agar kita juga memiliki kepedulian kepada mereka yang lemah.
PT Djarum kembali menyampaikan pesan kebaikan untuk memaknai bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri tahun ini, dengan mengangkat tema "Hikmah Petunjuk-Nya". Tema tersebut mengingatkan kita sebagai manusia yang seringkali berdoa dan memohon petunjuk-Nya, namun terkadang belum membuka hati untuk menerima pentunjuk-Nya tersebut. Padahal mungkin jawaban dan petunjuk-Nya sudah ada di depan kita.
Terlebih dalam situasi ekonomi yang tidak baik-baik saja, dengan banyaknya kasus PHK, melihat kondisi masyarakat di bawah semakin memerlukan kepedulian dari orang-orang yang merasa memiliki kelebihan rizki. Bagaimana kita bisa tetap acuh ketika di sekitar kita masih banyak yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 19: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam harta yang kita miliki, terdapat hak untuk mereka yang kurang beruntung.
Untuk menyadarkan diri bagi mereka yang punya rizki lebih agar mau berbagi, sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan. Sering melihat ke bawah, sering bersilaturahmi, sering bergumul dengan banyak orang dan mendengarkan ceramah ceramah para kiai. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, kesadaran diri untuk berbagi akan tergugah dan cepat tumbuh.
Kesadaran berbagi ini menjadi semakin penting di tengah kondisi masyarakat yang terpolarisasi secara ekonomi. Kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan miskin perlu dijembatani dengan sikap kepedulian dari mereka yang berada di atas. Bukan hanya sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan sosial.
Berbagi tidak selalu tentang harta atau materi. Berbagi bisa juga dalam bentuk waktu, perhatian, keterampilan, atau pengetahuan. Apapun bentuknya, tindakan berbagi akan membawa dampak positif, tidak hanya bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi.
Dengan melihat sekeliling dan membuka hati untuk mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya juga membuka diri untuk menerima keberkahan yang lebih besar. Karena pada hakikatnya, rizki yang kita miliki hanyalah titipan, dan salah satu cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan membagikannya kepada sesama.
Mari jadikan berbagi sebagai gaya hidup, bukan sekadar tindakan sesaat. Dengan begitu, kita tidak hanya membantu meringankan beban orang lain, tetapi juga memperkaya diri dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.(*)
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”