Menyatukan Visi, Tantangan Lokasi dan Gaya Realis Sutradara Imam Darto di Balik Layar 'Sambung Silaturahmi' Produksi PT Djarum
tim langit 7Senin, 09 Maret 2026 - 11:46 WIB
LANGIT7.ID-Jakarta; Proses panjang di balik produksi film pendek kampanye Hikmah Puasa PT Djarum tidak hanya berfokus pada kekuatan cerita, tetapi juga bagaimana visual dan lokasi bisa mendukung pesannya. Melibatkan jajaran aktor dan aktris komedi—seperti Arief Didu (Pak Ali), Amel Carla (Tara), Rizky Inggar (Bu Lina), serta Rizky Teguh (Bang Rio)—karya berjudul Sambung Silaturahmi ini dirancang untuk memotret realitas kehidupan bertetangga masyarakat urban.
Untuk memperkuat pesan kemanusiaan di dalamnya, pihak PT Djarum telah merumuskan nilai sosial yang ingin dicapai. Wisnu Kalbu Adi menjelaskan bahwa pesan kebaikan ini diwujudkan dalam sebuah film pendek bercerita tentang keseharian masyarakat Indonesia.
"Di mana manusia sebagai makhluk sosial akan selalu hidup berdampingan dengan orang lain baik dalam lingkungan keluarga, bertetangga, hingga lingkungan kerja dengan mengamalkan budaya asli Indonesia, gotong royong dan tepiro, kita dapat selalu menyambung silaturahmi dengan sekitar kita," ungkap Wisnu melanjutkan pesannya.
Senada dengan hal tersebut, Lita Suryawijaya selaku Senior Manager Corporate Communications PT Djarum menuturkan bahwa melalui campaign Hikmah Puasa yang pada tahun ini bertemakan Sambung Silaturahmi, pihaknya kembali menghadirkan konten Ramadan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga memuat pesan kebaikan tentang pentingnya empati dan toleransi antar sesama yang memiliki perbedaan dan keberagaman karakter.
"Walaupun masing-masing punya kepentingan sendiri tapi tetap dapat hidup secara harmonis, berbagi, dan saling melengkapi," tegas Lita.
Dalam proses eksekusinya, mewujudkan keseharian yang natural tentu bukan hal mudah. Mewakili Flex Film, Novindra Christian membeberkan tantangan teknis yang mereka hadapi sejak fase awal, terutama soal kecocokan visi dan pencarian lokasi.
"Di tahap awal, yang pertama kita lakukan adalah mencari director tim produksi yang sesuai dan cocok dengan konsep ceritanya. Kita harus menemukan orang-orang yang punya visi yang sama dengan kita dan bisa berkolaborasi dengan baik. Tantangan lain adalah mencari lokasi yang sesuai dengan konsepnya karena lokasinya sangat spesifik, butuh empat rumah yang berdekatan sangat sulit untuk mendapatkan lokasi seperti itu terutama di daerah Jabotabek ini," papar Novindra secara gamblang.
Setelah tim terbentuk, kursi penyutradaraan dipercayakan kepada Imam Darto. Ia membawa gaya penyutradaraan spesifik agar film ini tidak terasa artifisial. Darto menjelaskan bahwa hal yang paling berkesan baginya adalah pendekatan visual yang raw atau apa adanya. Ia tidak berusaha membuat cerita yang terlalu mengada-ada. Realisme tersebut diciptakan dengan membangun sebuah semesta yang dekat dengan masyarakat, mulai dari dialog sehari-hari, pemilihan lokasi, pemain (cast), hingga urusan kostum (wardrobe).
Melalui pendekatan yang sangat nyata tersebut, Imam Darto mengutarakan harapan utamanya terhadap audiens.
"Dan mudah-mudahan itu sih yang bisa kemudian real dan lebih dekat dengan para penonton. Sehingga, lah iya ini tetangga gua kayak begini nih, tetangga gua kayak begitu tuh, lah emak gua ini kayak begini, lah itu gua. Dan mudah-mudahan itu sih yang bisa meng-capture hati dari penonton kita gitu," pungkas Imam Darto menceritakan proses kreatifnya.