LANGIT7.ID-Bandung; Menteri Kebudayaan Fadli Zon, hadir dan memberikan orasi budaya dalam acara peluncuran laman Gapura.org (Gala Pustaka Nusantara) di Perpustakaan Ajip Rosidi. Gapura.org merupakan sebuah multiplatform digital kebudayaan Nusantara yang inklusif, berkelanjutan, dan mudah untuk diakses. Gapura.org memuat lebih dari 1 juta halaman yang terdiri dari naskah kuno, buku, majalah, koran, jurnal, hasil penelitian, dan manuskrip. Laman ini merupakan sebuah inisiatif strategis dari Pusat Studi Sunda untuk kebudayaan Nusantara.
Peluncuran Gapura.org secara resmi ditandai dengan simbolis membunyikan alat musik tradisional angklung oleh Menteri Kebudayaan bersamaa-bersama dengan para tamu undangan VIP, diantaranya Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan; Walikota Bandung, M. Farhan; Sekretaris Program Doktor Pascasarjana Bidang Studi (PDPBS), Teddi Muhtadin; Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi; Perwakilan Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS; Direktur PT Dunia Pustaka Jaya, Rachmat Taufiq Hidayat; dan perwakilan KITLV-Jakarta Leiden University, Budiman.
Mengawali orasinya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi Gapura.org sebagai sebuah pusat data literasi dan informasi digital yang menyediakan khazanah kebudayaan Nusantara terlengkap. “Ini merupakan sebuah pusat data literasi dan informasi digital yang menjadikan khazanah kebudayaan Nusantara terlengkap dan dapat diakses secara cepat dan akurat dalam momen-momen tertentu yang menuntut efektivitas waktu,” ujarnya.
Menbud mengapresiasi penyusunan Ensiklopedi Sastra Nusantara yang termuat dalam platform ini. "Saya mengapresiasi diluncurkannya ensiklopedi sastra Nusantara yang memuat sebanyak 2.500 entri, yang meliputi ulasan karya sastra, video data sastrawan, proses kreatif, terjemahan, istilah-istilah, dan gejala sastra di Nusantara," ujar Menbud.
Dalam peluncuran yang bertepatan dengan rangkaian peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung ini, Menteri Fadli Zon juga mengingatkan kepada sekitar 180 tamu undangan yang hadir tentang pentingnya literasi dalam sejarah KAA, di mana pernah diadakan Konferensi Penulis Asia Afrika, antara lain pada tahun 1958 di Tashkent dan 1962 di Kairo.
Dalam peluncuran ini, turut hadir juga Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah Tjahjani; Walikota Tasikmalaya, Dicky Chandra Negara; dan jajaran Kementerian Kebudayaan.
Menbud kembali menegaskan mengenai pentingnya pemahaman bahwa Indonesia adalah peradaban tertua di dunia. Hal ini berdasarkan penemuan fosil Homo Erectus dan Pithecanthropus Erectus yang ada di seluruh dunia, paling banyak ditemukan di Indonesia, khususnya dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara Timur.
Menteri Fadli Zon juga mengingatkan pentingnya
reclaim identitas bangsa Indonesia. Segala kekayaan dan keberagaman kebudayaan yang Indonesia miliki ini harus dijadikan sebagai momentum untuk menemukan kembali identitas bangsa atau
reinventing Indonesian identity yang merupakan sebuah aset nasional untuk dijaga dan dikembangkan.
"Kekayaan budaya kita yang sangat beragam bisa kita namakan
mega diversity, kekayaan yang luar biasa, dan ini harus menjadi
national treasure atau aset nasional kita." tegasnya.
Dalam pengembangan ekosistem budaya, Menteri Fadli Zon memaparkan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 469 museum di seluruh Indonesia, baik yang dikelola pemerintah daerah, swasta, maupun perorangan. Ia menegaskan dukungan Kementerian Kebudayaan melalui berbagai program, salah satunya Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk revitalisasi museum dan taman budaya yang didasarkan pada
grade museum tersebut. Dirinya berharap semua museum dan taman budaya bisa menjadi kantong-kantong budaya yang menciptakan ekosistemnya.
Perfilman dan Musik Indonesia Semakin Tumbuh dan MenduniaDalam kesempatan yang sama Menbud turut menyampaikan bahwa perfilman nasional saat ini menunjukkan perkembangan yang semakin positif, baik dari sisi produksi, jumlah penonton, maupun prestasi di ajang internasional. Salah satunya yaitu, film animasi
Jumbo juga mencetak sejarah baru dalam perfilman nasional dengan perolehan lebih dari 7 juta penonton. "Ini adalah satu rekor yang belum pernah terjadi dalam sejarah Republik Indonesia dimana terdapat film animasi yang bisa menembus hingga 7 juta penonton," kata Menteri.
Menteri Kebudayaan juga menyampaikan bahwa sepanjang tahun lalu, jumlah penonton film Indonesia mencapai 81 juta dengan jumlah produksi sekitar 202 film. Hal Ini menunjukkan bahwa ekosistem perfilman Tanah Air semakin baik dan semakin maju.
Tidak hanya di dalam negeri, film-film Indonesia juga terus mengukir prestasi di berbagai festival internasional. Pada Januari 2025, empat film Indonesia meraih penghargaan di International Film Festival Rotterdam. Pada Februari, sebuah film pendek Indonesia juga mendapat penghargaan di Berlinale, Jerman. Di International Film Market Hong Kong, karya-karya Indonesia mendapat apresiasi hingga dukungan finansial untuk produksi bersama.
"Keberadaan film Indonesia di kancah internasional semakin kuat. Kehadiran film Indonesia di berbagai festival film, seperti Toronto International Film Festival, Venice International Film Festival, Busan International Film Festival, dan berbagai festival film internasional lainnya membuktikan bahwa karya-karya anak bangsa semakin mendapat tempat di kancah internasional," ujar Menteri Kebudayaan.
Di samping itu, Menbud turut menerangkan saat ini ekosistem musik Indonesia pun menunjukkan kemajuan signifikan. Menbud berujar bahwa dengan 280 juta penduduk, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar. Ini menjadi tugas bersama dalam melahirkan karya-karya musik terbaik agar membawa budaya Indonesia semakin mendunia.
Sebelum menutup orasinya, Menteri Fadli Zon kembali menyampaikan bahwa peluncuran Gapura.org merupakan bukti nyata komitmen dalam pemajuan kebudayaan. “Semoga dengan hadirnya Gapura.org ini dapat menjadi salah satu langkah nyata dalam upaya meningkatkan literasi berbasis pemanfaatan kepustakaan demi pemajuan kebudayaan,” tutup Menbud.
Senada dengan Menbud Fadli Zon, Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Sunda, Ganjar Kurnia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran Gapura.org merupakan upaya bersama dalam memperkenalkan literasi budaya Indonesia kepada masyarakat. “Ini merupakan salah satu kontribusi kami dalam menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan Nusantara yang begitu banyak dan tersebar. Kami berharap bisa bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mengembangkan Gapura ini,” ujarnya.
Acara peluncuran Gapura.org diakhiri dengan penyerahan dan penandatanganan buku
Ensiklopedi Sastra Nusantara dari Pusat Studi Sunda kepada Menteri Kebudayaan, serta penandatanganan berbagai kerja sama yang dilakukan oleh pihak Paguyuban Pasundan, Dunia Pustaka Jaya, dan KITLV-Jakarta.
(lam)