LANGIT7.ID, Yogyakarta - Arang briket merupakan jenis arang diyakini memiliki jangka waktu bakar lebih lama dibandingkan jenis arang lainnya. Arang berbentuk cetakan ini seringkali digunakan di luar negeri yang beriklim dingin, untuk kebutuhan penghangat ruangan.
Di Indonesia sendiri arang briket diproduksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Sehingga menjalani bidang usaha ini diyakini bisa mendapatkan keuntungan menjanjikan melalui pemasaran global.
Seperti yang dijalani muslim asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Novi Setiawan, yang memulai usahanya sejak 2008 lalu. Dalam perkembangannya, kini Novi terus konsisten memproduksi arang briket, dengan brand Briqco.
Baca juga: BGR Logistics Catatkan Kinerja Positif Ditengah PandemiWalaupun pada awalnya sempat diprotes warga karena proses pembakarannya menyebabkan kepulan asap hitam, tapi Novi bisa mengatasinya dengan melakukan perbaikan. Melalui Briqco, Novi bisa memberdayakan banyak orang untuk turut terlibat dalam mengembangkan usahanya.
“Mereka demonstrasi sampai dua kali yang akhirnya kita putuskan untuk berhenti sementara saat itu, untuk membuat tempat pembarakan yang lebih tepat. Dari situ, kita buat tungku cukup besar disertai dengan cerobong setinggi 15 meter, Alhamdulillah masyarakat sudah tidak ada yang terganggu,” jelasnya dikanal Youtube Punca Media.
Awalnya, usaha briket milik Novi ini dibantu oleh 15 orang, seiring perkembangannya, kini Novi bisa menyerap sebanyak 40 orang tenaga kerja. Hal itu juga yang akhirnya bisa meningkatkan produktivitas dari Briqco hingga mencapai 52 ton sebulan.
Arang briket ini diproses dari bahan baku batok kelapa, yang menurutnya masih sangat banyak bisa diperoleh pada saat ia merintis usahanya pada 2008. Sebab, saat itu masih banyak orang yang belum mengetahui adanya nilai lebih yang berdaya saing dari sebuah batok kelapa.
Namun kini, limbah batok kelapa itu sudah cukup sulit didapatkan. Menurutnya, sudah banyak masyarakat yang sadar dalam pemanfaatan limbah batok kelapa untuk dijadikan arang briket.
Baca juga: Punya Kontribusi Besar, Pemerintah Komit Bantu UMKM untuk Pemulihan Ekonomi NasionalIa mengisahkan dulu modal awal saat merintis usahanya dimulai dari Rp10 juta. Seiring perkembangan usahanya, Novi mampu menghasilkan omzet hingga lebih dari setengah miliar rupiah per bulannya.
“Semakin ke sini, tentu kita mendapatkan banyak pelajaran dari apa yang kita lakukan. Sampai akhirnya, saya melihat sesuatu selalu memikirkan adanya peluang terhadap sesuatu apa pun itu,” katanya.
Ia berharap, dunia usaha ini juga turut diramaikan oleh generasi muda sebagai penerus bangsa. Menurutnya, permasalah modal diawal untuk menjalankan sebuah seharusnya tidak menjadi halangan.
“Bagi saya menjalankan usaha itu modalnya cuma tiga, yaitu ide, tawakal, dan sedekah. Ide ini perlu dicatat dan direalisasikan, selanjutnya bertawakal hingga sampai disatu titik keberhasilan. Ketika sudah sampai tahap itu, maka kita tinggal sedekah, yakini sedekah akan memperkaya kita dan Insya Allah rezeki akan datang sendiri,” jelasnya
(zul)